klikwartaku.com
Beranda Internasional Kartel Meksiko Jadikan Pertanian Afrika Selatan Basis Produksi Sabu, Polisi Temukan Laboratorium Rp975 Miliar

Kartel Meksiko Jadikan Pertanian Afrika Selatan Basis Produksi Sabu, Polisi Temukan Laboratorium Rp975 Miliar

Polisi Afrika Selatan membongkar laboratorium metamfetamin milik jaringan kartel Meksiko di kawasan pertanian terpencil. Nilai operasi ilegal itu diperkirakan mencapai hampir Rp 1 triliun. Foto: Tangkapan layar YouTube The Slimm Report

KLIKWARTAKU — Polisi Afrika Selatan mengungkap keberadaan laboratorium metamfetamin berskala besar yang diduga terkait jaringan kartel narkoba Meksiko di kawasan pertanian terpencil Provinsi North West. Penemuan itu memperlihatkan perubahan strategi kartel internasional yang kini mulai memproduksi narkoba langsung di Afrika.

Kasus terbaru terjadi di kota pertambangan Swartruggens, ketika aparat menggerebek sebuah pertanian dan menemukan laboratorium sabu senilai sekitar 1 miliar rand atau setara Rp 975 miliar dengan asumsi kurs Rp 975 per rand.

Dalam operasi tersebut, polisi menyita 481 kilogram metamfetamin, bahan kimia dalam jumlah besar, serta sejumlah senjata api. Lima warga negara Meksiko ditangkap, yakni Fabian Astorga, Jesus Alonso Medina Astorga, Luis Alberto Ramirez Rios, Jose Andres Medina, dan Jacquelin Lopez Madrid. Sejumlah warga Afrika Selatan juga ikut menjadi tersangka.

Menurut penyelidik, laboratorium di Swartruggens bukan kasus tunggal. Dalam dua tahun terakhir, sedikitnya empat fasilitas produksi metamfetamin besar yang terkait jaringan kriminal Meksiko ditemukan di Afrika Selatan.

Pada 2024, aparat membongkar laboratorium narkoba di kawasan pertanian dekat Groblersdal, Limpopo, dengan nilai operasi diperkirakan mencapai US$ 105 juta hingga US$ 110 juta atau sekitar Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,79 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.250 per dolar AS.

Masih pada tahun yang sama, laboratorium lain senilai US$ 5 juta hingga US$ 6 juta atau sekitar Rp 81,2 miliar hingga Rp 97,5 miliar ditemukan di dekat Tshwane. Pengungkapan lain kemudian terjadi di Mpumalanga sebelum kasus terbaru di Swartruggens.

Pola operasi seluruh laboratorium itu dinilai serupa: berada di kawasan pertanian terpencil, jauh dari pusat kota, dan memiliki tingkat isolasi tinggi sehingga sulit terdeteksi aparat.

Peneliti kejahatan terorganisir Julian Rademeyer mengatakan jaringan kartel Meksiko kini mengubah pendekatan mereka dari sekadar menyelundupkan narkoba ke Afrika menjadi memproduksinya langsung di wilayah tersebut. “Ini perkembangan unik ketika kartel narkoba Meksiko membuka semacam waralaba dan memindahkan ahli kimia mereka ke pertanian terpencil,” kata Rademeyer.

Menurut dia, strategi itu membuat distribusi lebih efisien karena biaya pengiriman menurun dan risiko penindakan di perbatasan dapat ditekan. Jejak aktivitas kartel Meksiko di Afrika disebut bermula dari Nigeria sekitar 2016 sebelum meluas ke Afrika Timur, Mozambik, Botswana, hingga akhirnya masuk ke Afrika Selatan.

Selama bertahun-tahun, pengguna narkoba di Afrika Selatan mengenal istilah “metamfetamin Meksiko” yang sebelumnya diyakini berasal dari barang impor. Kini, produksi narkoba itu justru dilakukan langsung di dalam negeri.

Analis menyebut Afrika Selatan menjadi lokasi menarik bagi kartel karena tingginya permintaan metamfetamin dan lemahnya pengawasan. Pakar kriminalitas Willem Els mengatakan korupsi menjadi faktor utama yang membuat operasi semacam itu berkembang. “Produksi lokal menguntungkan kartel karena ada perlindungan dari polisi dan politisi korup,” ujarnya.

Komisi penyelidikan penegakan hukum di Afrika Selatan sebelumnya juga menerima kesaksian mengenai dugaan korupsi aparat, termasuk hilangnya barang bukti narkoba dari fasilitas kepolisian. Salah satu kasus yang disorot adalah hilangnya 541 kilogram kokain sitaan pada 2021 yang diduga melibatkan orang dalam kepolisian.

Mantan duta Interpol Andy Mashiale mengatakan mustahil aparat tidak mengetahui keberadaan laboratorium narkoba di wilayah pedesaan tersebut. “Korupsi memainkan peran besar,” katanya.

Meski demikian, unit elite Hawks Afrika Selatan menyatakan penggerebekan terbaru menunjukkan adanya kemajuan dalam membongkar jaringan narkotika internasional. Badan Penegakan Narkoba Amerika Serikat atau DEA juga disebut membantu memberikan intelijen yang menghubungkan beberapa tersangka dengan Kartel Sinaloa.

Para analis memperingatkan bahwa tantangan Afrika Selatan kini bukan hanya pengawasan perbatasan, tetapi juga memperkuat kapasitas institusi penegakan hukum dan memberantas korupsi internal.

Rademeyer menilai jaringan produksi metamfetamin itu sangat fleksibel dan mudah berpindah lokasi. “Anda menyita satu laboratorium di sini, lalu laboratorium lain muncul di tempat berbeda,” ujarnya.***

Bagikan:

Iklan