BRIN Tingkatkan Kapasitas Uji Radioaktif untuk Keamanan Pangan
KLIKWARTAKU – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna meningkatkan pengawasan keamanan pangan nasional, termasuk kapasitas pengujian kontaminasi radioaktif pada produk pangan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Kawasan Nuklir Serpong di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.
Kunjungan ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah untuk memastikan sistem pengujian pangan nasional mampu memenuhi standar internasional sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi dinamika perdagangan global.
Dalam kegiatan tersebut, rombongan meninjau sejumlah fasilitas laboratorium nuklir milik BRIN, antara lain sistem pengujian kontaminasi radioaktif pada sampel pangan, tata kelola pengalihan material nuklir, serta pengelolaan limbah radioaktif. Selain itu, dilakukan pula diskusi teknis guna menilai kesiapan infrastruktur, peralatan, dan sistem kerja yang mendukung pengawasan keamanan pangan.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, mengatakan kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi antarinstansi, terutama menjelang rencana kerja sama teknis dan inspeksi dari lembaga internasional.
Menurut dia, Indonesia juga bersiap menerima kunjungan dari Food and Drug Administration (FDA) dan United States Department of Energy (DOE). Karena itu, diperlukan pemahaman yang sama mengenai fasilitas yang tersedia serta pengelolaan limbah yang dilakukan.
“Harapan kami, saat menerima FDA dan DOE, kita sudah memiliki gambaran yang sama mengenai fasilitas yang ada serta bagaimana pengelolaan limbah dilakukan,” ujar Syaiful.
Ia menjelaskan, penguatan koordinasi dilakukan melalui evaluasi kesiapan peralatan dan metodologi pengujian, identifikasi kebutuhan alat serta kompetensi sumber daya manusia, hingga penyusunan langkah antisipatif apabila dilakukan inspeksi maupun pengambilan sampel oleh tim internasional.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan Bara Krishna Hasibuan menilai kunjungan tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai kapasitas laboratorium BRIN dalam mendukung sistem keamanan pangan nasional.
“Kunjungan ini sangat bermanfaat dan menjadi eye-opener. Kami dapat melihat langsung laboratorium yang digunakan untuk menguji kemungkinan kontaminasi radioaktif pada sampel pangan,” kata Bara.
Ia menambahkan, penguatan sistem pengujian menjadi penting setelah ditemukannya kontaminasi radioaktif Cesium-137 pada produk ekspor Indonesia pada tahun sebelumnya. Temuan tersebut berdampak pada meningkatnya persyaratan sertifikasi keamanan pangan di sejumlah negara tujuan ekspor, termasuk Amerika Serikat.
Akibatnya, beberapa negara kini mewajibkan proses sertifikasi dan pengujian laboratorium secara ketat sebelum produk pangan dapat memasuki pasar mereka.
“Dalam konteks ini, laboratorium BRIN memiliki peran strategis untuk memastikan pengujian kontaminasi radioaktif pada produk pangan Indonesia, sehingga standar keamanan ekspor dapat terpenuhi,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga tersebut, pemerintah berharap sistem pengujian nasional semakin kuat, reputasi ekspor pangan Indonesia tetap terjaga, serta kesiapan menghadapi tantangan global di bidang ketenaganukliran dan keamanan pangan terus meningkat.***









