Seminar Kebangsaan di UPGRI Pontianak Perkuat Ketahanan Ideologi Generasi Muda
KLIKWARTAKU – Pengurus Provinsi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalimantan Barat menggelar Seminar Kebangsaan bertema “Peningkatan Wawasan Guru sebagai Benteng Pencegahan Ideologi Ekstrem Neo-Nazi dan White Supremacy” di Aula Hadari Nawawi Universitas PGRI Pontianak.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu 11 Februari 2026 ini diikuti sekitar 140 peserta yang terdiri dari guru, pengurus PGRI, serta undangan dari unsur pemerintah dan aparat keamanan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Wali Kota Pontianak, Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Pontianak Ismail, S.H., M.H., Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto, S.I.K., M.Si., Ketua PGRI Kalbar Dr. Muhammad Firdaus, M.Pd., Plh. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Wakil Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, akademisi UPGRI Pontianak, serta perwakilan Densus 88 AT Polri sebagai narasumber.
Ketua PGRI Kalbar, Dr. Muhammad Firdaus, M.Pd., menegaskan bahwa peran guru sangat strategis dalam menjaga nilai kebangsaan di lingkungan pendidikan. Ia menyampaikan bahwa tugas guru tidak hanya sebatas pengajar, tetapi juga pembentuk karakter peserta didik.
“Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan menjaga nilai-nilai kebangsaan. Guru menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan mencegah masuknya paham ekstrem di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto menyoroti tantangan perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang membuka peluang penyebaran berbagai ideologi transnasional kepada generasi muda.
“Perkembangan teknologi informasi membuka ruang masuknya ideologi ekstrem berbasis supremasi ras dan kekerasan. Penyebarannya kerap menyasar generasi muda melalui konten digital, budaya populer, dan komunitas daring. Karena itu dibutuhkan sinergi antara aparat, pemerintah, dan dunia pendidikan melalui langkah preemtif dan preventif,” katanya.
Perwakilan Pemerintah Kota Pontianak melalui Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kekuatan karakter.
“Pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada intelektual, tetapi juga penguatan karakter, toleransi, dan ketahanan ideologi yang selaras dengan nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan,” ucapnya.
Dalam sesi diskusi panel, narasumber dari Densus 88 AT Polri memaparkan bentuk-bentuk ekstremisme kontemporer yang berkembang di ruang digital dan berpotensi memengaruhi remaja. Mereka menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap pola penyebaran paham kebencian dan intoleransi secara daring.
“Ketertarikan pada konten kekerasan, sensasi berlebihan, hingga perundungan bisa menjadi pintu masuk radikalisasi jika tidak ditangani dengan tepat. Karena itu literasi digital dan penguatan karakter sangat penting,” jelasnya.
Dari perspektif pendidikan, sekolah dinilai memiliki kerentanan karena peserta didik berada dalam fase pencarian jati diri. Penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila, moderasi beragama, serta lingkungan sekolah yang inklusif dinilai menjadi langkah strategis pencegahan dini.
Narasumber juga mengingatkan pentingnya deteksi dini perubahan perilaku siswa. “Perlu kepekaan terhadap perubahan sikap seperti meningkatnya intoleransi, penolakan simbol nasional, penyebaran ujaran kebencian, atau penarikan diri secara sosial. Pendekatan empatik, pelibatan orang tua, dan konselor sekolah menjadi kunci,” paparnya.
Seminar juga menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai zona aman dari kekerasan dan paham diskriminatif. Guru didorong peka terhadap candaan bernuansa penghinaan atau mikroagresi yang dapat berkembang menjadi budaya intoleran.
“Sekolah harus menjadi safe zone — ruang aman untuk dialog, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman, agar siswa memiliki rasa memiliki yang positif dan tidak mencari pengakuan di komunitas daring yang berisiko,” tegas pemateri.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 12.50 WIB tersebut berjalan tertib dan kondusif. Seminar ini menjadi bentuk komitmen bersama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan dunia pendidikan dalam memperkuat ketahanan ideologi serta membangun generasi muda yang berkarakter dan toleran.
“Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga menjaga martabat manusia dan memastikan generasi penerus tumbuh dengan semangat kebangsaan yang kokoh serta menghargai keberagaman,” tutup panitia. ***










