klikwartaku.com
Beranda Internasional UEA Diserang Lagi, Iran Bantah Terlibat dalam Serangan Rudal dan Drone

UEA Diserang Lagi, Iran Bantah Terlibat dalam Serangan Rudal dan Drone

Uni Emirat Arab kembali diserang rudal dan drone untuk hari kedua. Iran membantah terlibat di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Uni Emirat Arab (UEA) kembali melaporkan serangan rudal dan drone untuk hari kedua berturut-turut. Namun, Iran secara tegas membantah terlibat dalam serangan tersebut.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan serangan terbaru terjadi pada Selasa, sehari setelah insiden sebelumnya yang menyebabkan sedikitnya tiga orang terluka serta memicu kebakaran di fasilitas minyak utama di Fujairah. Meski demikian, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan pihaknya tidak melakukan operasi militer terhadap UEA dalam beberapa hari terakhir.

“Jika ada tindakan, kami akan mengumumkannya secara jelas. Laporan tersebut tidak benar,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media pemerintah Iran. Hingga kini, dampak dari serangan terbaru belum sepenuhnya diketahui.

Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi global. Ketegangan kembali memuncak setelah Amerika Serikat meluncurkan operasi pengawalan kapal dagang yang disebut “Project Freedom” untuk membuka akses pelayaran di selat tersebut.

Sejak serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, Teheran disebut-sebut meningkatkan kontrol atas Selat Hormuz dengan menyerang atau mengancam kapal-kapal yang melintas tanpa izin. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia.

Sebagai respons, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sejak pertengahan April, membatasi ekspor minyak dan akses impor negara tersebut. Pada Senin lalu, Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 15 rudal ke arah UEA, sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

Namun, serangan tersebut tetap memicu kebakaran di Fujairah, yang merupakan salah satu terminal minyak penting dengan kapasitas sekitar 1,7 juta barel per hari. Insiden itu juga menyebabkan tiga warga negara India terluka, yang kemudian dikecam oleh pemerintah India.

Meski situasi memanas, Washington menyatakan Iran belum melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 8 April. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan operasi militer AS hanya bertujuan melindungi pelayaran dan tidak bermaksud memicu konflik baru. “Kami tidak mencari pertempuran,” ujarnya.

Selama lima pekan konflik sebelum gencatan senjata, UEA tercatat menjadi salah satu negara yang paling sering diserang, dengan lebih dari 2.800 rudal dan drone diluncurkan ke wilayahnya. Hingga kini, ketidakpastian masih membayangi kawasan Teluk, dengan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas energi global dan keamanan regional.***

Bagikan:

Iklan