Trump Copot Jaksa Agung Pam Bondi, Kontroversi Kasus Epstein Jadi Sorotan
KLIKWARTAKU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mencopot Jaksa Agung Pam Bondi dari jabatannya, menandai perubahan penting di pucuk pimpinan penegakan hukum negara itu. Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social.
Ia menyebut Bondi akan “bertransisi” ke sektor swasta, tanpa merinci posisi barunya. Dalam pernyataannya, Trump tetap memuji kinerja Bondi yang dinilai berhasil menekan angka kejahatan secara signifikan. Posisi Bondi akan digantikan oleh wakilnya, Todd Blanche.
Bondi menyatakan akan bekerja maksimal untuk memastikan proses transisi berjalan lancar. Ia juga menyebut jabatan Jaksa Agung sebagai “kehormatan terbesar dalam hidupnya” dan menegaskan akan tetap mendukung pemerintahan Trump dari luar pemerintahan.
Namun, masa jabatan Bondi tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait penanganan kasus Jeffrey Epstein. Kasus ini menjadi sorotan publik dan politik karena tuntutan transparansi atas dokumen-dokumen terkait jaringan Epstein.
Saat dilantik pada Februari 2025, Bondi berjanji akan membuka secara transparan berkas kasus tersebut, termasuk dugaan daftar klien Epstein. Namun, Departemen Kehakiman kemudian menyatakan daftar tersebut tidak pernah ada.
Tekanan publik dan politik akhirnya memaksa pemerintah merilis jutaan dokumen terkait Epstein, setelah Kongres meloloskan undang-undang yang mewajibkan publikasi dokumen tidak rahasia. Meski demikian, langkah itu menuai kritik bipartisan.
Sejumlah anggota parlemen menilai Departemen Kehakiman gagal melindungi identitas korban secara memadai, sementara di sisi lain justru melindungi pihak-pihak yang bukan korban.
Pemecatan Bondi terjadi kurang dari dua bulan setelah sidang Kongres yang berlangsung panas. Dalam sidang itu, ia terlibat adu argumen sengit dengan sejumlah legislator, bahkan sempat melontarkan komentar keras kepada anggota oposisi.
Menariknya, hanya beberapa jam sebelum pengumuman pencopotan, Trump masih membela Bondi dengan menyebutnya sebagai sosok yang “bekerja dengan baik”.
Di internal politik, reaksi terhadap pencopotan ini beragam. Sebagian sekutu Partai Republik memuji kepemimpinan Bondi, sementara kritikus lama seperti anggota Kongres dari Kentucky, Thomas Massie, menyambut baik keputusan tersebut.
Massie berharap Jaksa Agung berikutnya akan membuka seluruh dokumen Epstein sesuai hukum dan melanjutkan proses investigasi hingga penuntutan. Dari kubu Demokrat, Ro Khanna menilai langkah ini menunjukkan tekanan Kongres mulai membuahkan hasil. Ia bahkan meminta agar pencalonan Blanche ditahan sampai ada komitmen jelas terkait penuntasan kasus Epstein.
Selain Epstein, masa jabatan Bondi juga diwarnai penyelidikan terhadap sejumlah tokoh politik oposisi, termasuk Senator California Adam Schiff, Jaksa Agung New York Letitia James, serta mantan Direktur FBI James Comey.
Sejak kembali menjabat, Trump diketahui mendorong Departemen Kehakiman untuk lebih agresif dalam menangani lawan politiknya. Dalam salah satu unggahan media sosial, ia bahkan mendesak Bondi agar tidak menunda langkah hukum karena dinilai merusak kredibilitas pemerintah.
Dengan pencopotan ini, Bondi menjadi pejabat kabinet ketiga yang meninggalkan pemerintahan Trump dalam periode keduanya, setelah Kristi Noem dan penasihat keamanan nasional Mike Waltz. Meski demikian, dinamika ini masih lebih stabil dibanding periode pertama kepresidenan Trump (2017–2021) yang dikenal dengan tingginya pergantian pejabat di lingkaran dalam Gedung Putih.***









