Tiga Orangutan Kalimantan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
KLIKWARTAKU —Â Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia berhasil melepasliarkan tiga individu orangutan kalimantan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya wilayah kerja Resort Mentatai, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Pelepasliaran ini menjadi bagian dari upaya penguatan konservasi orangutan sekaligus pemulihan ekosistem hutan yang berkelanjutan.
Tiga individu orangutan yang dilepasliarkan masing-masing bernama Badul, Korwas, dan Asoka. Ketiganya merupakan orangutan titipan BKSDA Kalimantan Barat yang telah menjalani proses penyelamatan dan rehabilitasi panjang di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, sebelum dinyatakan layak kembali ke habitat alaminya.
Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena masih memiliki tutupan hutan yang baik, ketersediaan pakan alami yang melimpah, serta tingkat tekanan aktivitas manusia yang relatif rendah. Selain itu, kawasan ini berstatus sebagai kawasan konservasi yang mendapat pengawasan rutin melalui patroli, sehingga dinilai aman bagi kelangsungan hidup orangutan di alam liar.
Untuk mencapai titik pelepasliaran di dalam kawasan hutan, tim gabungan harus menempuh perjalanan darat, sungai, dan trekking hutan dengan total waktu tempuh sekitar tiga hari dari pusat rehabilitasi YIARI. Dalam proses tersebut, warga desa di sekitar kawasan TNBBBR turut dilibatkan sebagai porter kandang, sebagai bentuk partisipasi masyarakat sekaligus upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap orangutan dan hutan di wilayah mereka.
Badul merupakan orangutan jantan yang sebelumnya hidup dekat dengan manusia dan sempat dititiprawatkan di Sinka Island Park, Singkawang, sebelum dipindahkan ke YIARI pada 25 November 2017. Selama delapan tahun menjalani rehabilitasi, Badul didampingi tim medis dan perawat satwa hingga mampu berperilaku liar, aktif menjelajah, mahir mencari pakan alami, serta membuat sarang secara mandiri. Dengan kondisi kesehatan yang sangat baik dan peningkatan berat badan signifikan, Badul dinilai siap kembali hidup di hutan.
Korwas adalah orangutan betina yang diselamatkan dari perdagangan ilegal satwa liar melalui media sosial dan tiba di pusat rehabilitasi YIARI pada 23 Agustus 2017. Saat pertama datang, Korwas mengalami infeksi jamur kulit yang cukup parah. Setelah menjalani perawatan medis dan rehabilitasi perilaku, Korwas menunjukkan kemampuan jelajah yang baik, perilaku foraging yang optimal, serta kecenderungan menghindari manusia, sehingga dinyatakan layak dilepasliarkan.
Sementara itu, Asoka merupakan orangutan jantan yang diselamatkan dari warga di Sungai Besar dalam kondisi masih bayi dan dipelihara secara tidak layak. Sejak masuk ke YIARI pada 27 Juli 2015, Asoka menjalani pendampingan intensif untuk memulihkan kondisi fisik dan perilaku alaminya. Sepuluh tahun kemudian, Asoka tumbuh menjadi individu yang mandiri, aktif, dan memiliki kondisi kesehatan stabil, serta siap kembali ke habitat alaminya.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyatakan bahwa pelepasliaran ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam konservasi orangutan. “Kai berharap Badul, Korwas, dan Asoka dapat hidup sejahtera, berkembang biak, serta menambah populasi orangutan kalimantan di alam liar,” kata Murlan.
Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Persada Agussetia Sitepu menerangkan, pelepasliaran tiga individu orangutan itu dilakukan melalui perencanaan berbasis kajian kesesuaian habitat dan daya dukung kawasan.
“Pasca pelepasliaran, pemantauan akan dilakukan secara berkala untuk memastikan proses adaptasi berjalan optimal serta mendukung keberlanjutan ekosistem hutan TNBBBR,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengapresiasi sinergi antara BKSDA Kalimantan Barat, Balai TNBBBR, dan masyarakat sekitar kawasan. Menurutnya, setiap orangutan yang berhasil kembali ke hutan merupakan hasil dari proses panjang penyelamatan, rehabilitasi, dan perawatan yang konsisten, serta menjadi kabar baik bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.
“Pelepasliaran ini menjadi momentum penting dalam penguatan transparansi dan komunikasi konservasi kepada publik. Kami berharap keterbukaan dan koordinasi antar pihak dapat terus ditingkatkan agar penanganan konflik satwa dan penyelamatan orangutan di lapangan dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” ujarnya. ***








