klikwartaku.com
Beranda Internasional Serangan Drone Ukraina Hantam Infrastruktur Minyak Rusia, Eropa Ikut Terseret

Serangan Drone Ukraina Hantam Infrastruktur Minyak Rusia, Eropa Ikut Terseret

Serangan drone jarak jauh Ukraina menghantam fasilitas minyak Rusia dan memicu ancaman Moskow terhadap negara-negara Eropa yang mendukung produksi drone. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Serangan drone jarak jauh yang dilancarkan Ukraina ke wilayah Rusia dalam dua pekan terakhir memicu eskalasi baru konflik, sekaligus menekan sektor energi Moskow dan menyeret negara-negara Eropa ke dalam ketegangan.

Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan bahwa dukungan Eropa terhadap pengembangan drone Ukraina berpotensi menimbulkan “konsekuensi tak terduga” bagi stabilitas kawasan. Pernyataan ini muncul setelah sejumlah negara Eropa menandatangani kesepakatan baru untuk memperkuat kemampuan serangan jarak jauh Kyiv.

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev bahkan menyebut perusahaan-perusahaan Eropa yang terlibat sebagai “target potensial” bagi militer Rusia, setelah pemerintah mempublikasikan daftar pihak yang terlibat dalam produksi senjata bersama Ukraina.

Sejumlah negara Eropa telah meningkatkan dukungan militer. Jerman, misalnya, menyetujui investasi 300 juta euro atau sekitar Rp5,1 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per euro) untuk penguatan kemampuan serangan jarak jauh Ukraina. Selain itu, Berlin juga berencana mendanai produksi 5.000 drone serang.

Norwegia menyumbang 560 juta euro atau sekitar Rp9,5 triliun, sementara Belanda mengalokasikan 248 juta euro (sekitar Rp4,2 triliun) dan Belgia menjanjikan 85 juta euro atau sekitar Rp1,4 triliun untuk program serupa.

Di sisi lain, serangan Ukraina dilaporkan telah menghantam infrastruktur energi Rusia secara signifikan. Menurut laporan Reuters, Rusia kehilangan hingga 40 persen potensi keuntungan ekspor minyak setelah serangan terhadap terminal, pipa, dan kilang.

Serangan tersebut mencakup berbagai target strategis, mulai dari fasilitas di Laut Kaspia, wilayah Volgograd dan Krasnodar, hingga terminal ekspor di Tuapse dan depot minyak di Tver. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut kemampuan serangan jarak jauh kini menjadi hal rutin bagi negaranya. “Serangan mendalam kami bukan lagi sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.

Lembaga pemikir berbasis di Washington, Institute for the Study of War, menilai Rusia belum memiliki sistem pertahanan yang cukup efektif untuk menghadapi serangan drone massal. Sebaliknya, Ukraina terus memperkuat industri pertahanan domestiknya. Pemerintah mengklaim kapasitas produksi meningkat lebih dari 50 kali lipat sejak awal invasi skala penuh Rusia pada 2022.

Dampak serangan ini juga terlihat pada fasilitas ekspor utama Rusia di pelabuhan Baltik seperti Primorsk dan Ust-Luga, yang mengalami kerusakan signifikan dan penurunan aktivitas pengiriman minyak.

Di Ust-Luga, serangan terbaru bahkan memicu kebakaran besar pada tangki penyimpanan, sementara di Primorsk dilaporkan sekitar 40 persen kapasitas penyimpanan terdampak. Selain itu, Ukraina juga menargetkan fasilitas energi di wilayah Krimea serta kilang minyak di Bashkortostan dan Nizhny Novgorod, yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari perbatasan.

Zelenskyy menegaskan bahwa tekanan ekonomi terhadap Rusia menjadi bagian dari strategi untuk mengakhiri perang. “Kerugian finansial yang signifikan akan memaksa Rusia mempertimbangkan skenario penghentian konflik,” katanya.

Dengan meningkatnya intensitas serangan dan keterlibatan negara-negara Eropa, konflik Rusia-Ukraina kini memasuki fase baru yang tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga stabilitas energi global.***

Bagikan:

Iklan