klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Saat Emas Tak Lagi Bersinar: Safe Haven Mulai Ditinggalkan di Tengah Tekanan Global

Saat Emas Tak Lagi Bersinar: Safe Haven Mulai Ditinggalkan di Tengah Tekanan Global

Ilustrasi transaksi emas

KLIKWARTAKU – Harga emas global mulai kehilangan kilau sebagai aset aman (safe haven) setelah Kementerian Perdagangan menetapkan penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) emas pada periode kedua April 2026, di tengah penguatan dolar AS dan tingginya suku bunga global.

HPE emas tercatat turun menjadi USD 147.550,12 per kilogram dari sebelumnya USD 157.267,62. Sejalan dengan itu, Harga Referensi (HR) emas juga melemah ke USD 4.589,33 per troy ounce, dari USD 4.891,57 per troy ounce.

Penurunan ini menegaskan perubahan sentimen pasar global, di mana emas mulai ditinggalkan investor. Kondisi suku bunga tinggi membuat instrumen berbasis imbal hasil lebih menarik dibanding logam mulia yang tidak memberikan yield.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menyebut tekanan harga emas dipicu kombinasi faktor eksternal.

“Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil,” ujarnya.

Selama periode pengumpulan data, harga emas tercatat turun 6,18 persen. Tren ini mencerminkan pergeseran preferensi investor global dalam mengelola portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi.

Fenomena ini sekaligus menjadi sinyal bahwa status emas sebagai safe haven tidak lagi sekuat sebelumnya, terutama ketika instrumen keuangan lain menawarkan return yang lebih kompetitif.

Penetapan HPE dan HR tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 624 Tahun 2026 dan berlaku untuk periode 15–30 April 2026.

Penetapan harga dilakukan berdasarkan masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan mengacu pada data London Bullion Market Association (LBMA).

Prosesnya melibatkan koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian.

Di tengah tekanan ini, pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter global. Jika suku bunga tetap tinggi, emas berpotensi terus kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai dalam jangka pendek. **

Bagikan:

Iklan