klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Rupiah Mulai Pulih ke Rp17.547, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Hilang

Rupiah Mulai Pulih ke Rp17.547, Tapi Bayang-Bayang Rp18.000 Belum Hilang

KLIKWARTAKU – Nilai tukar rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.500-an per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan September 2026. Rupiah ditutup di level Rp17.547 per dolar AS pada Kamis (10/9), setelah sebelumnya sempat menguat hingga sekitar Rp17.511.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah mulai menjauh dari level psikologis Rp18.000 yang sempat ditembus pada pertengahan 2026. Namun, penguatan rupiah dinilai belum cukup untuk disebut sebagai perubahan tren jangka panjang.

Penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir antara lain didukung sentimen domestik yang membaik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 118,5, sementara data penjualan ritel juga menunjukkan perbaikan.

Dari eksternal, pelemahan indeks dolar AS atau DXY ke kisaran 98,7 turut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat terhadap dolar AS.

Meski demikian, rupiah masih menghadapi sejumlah risiko. Penguatan saat ini dinilai lebih banyak ditopang sentimen jangka pendek dan stabilisasi pasar dibandingkan perubahan fundamental struktural.

Sempat Tembus Rp18.000

Rupiah sebelumnya mengalami tekanan berat sepanjang Juni hingga Agustus 2026. Nilai tukar bahkan sempat menembus Rp18.000 per dolar AS dan mencapai level terlemah dalam sejarah perdagangan rupiah.

Tekanan tersebut terjadi ketika sentimen global dan faktor domestik bergerak bersamaan. Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian adalah ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membayar impor. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Tekanan juga berasal dari arus modal keluar atau capital outflow. Ketidakpastian global dapat mendorong investor mengalihkan dana dari aset negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman dan berdenominasi dolar AS.

Di dalam negeri, kebutuhan dolar untuk pembayaran kewajiban eksternal, termasuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, turut menjadi faktor yang dapat meningkatkan permintaan dolar secara musiman.

Sentimen terhadap kondisi fiskal dan perekonomian domestik juga sempat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah ketika kepercayaan pasar mengalami pelemahan.

Mulai Mereda

Tekanan terhadap rupiah kemudian mulai mereda dan nilai tukar kembali bergerak di bawah Rp18.000. Kebijakan stabilisasi Bank Indonesia di pasar valuta asing menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga volatilitas rupiah.

Selain itu, peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) turut menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan keuangan tertentu.

Pelemahan dolar AS di pasar global juga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk mengalami penguatan.

Meski demikian, pergerakan rupiah masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Perkembangan geopolitik, harga minyak, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta arus modal asing masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Penguatan menuju Rp17.500-an karena itu belum serta-merta menghapus risiko pelemahan. Rupiah masih membutuhkan dukungan fundamental ekonomi dan stabilitas pasar agar tren penguatan dapat berlangsung lebih berkelanjutan.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perubahan nilai tukar tetap perlu diperhatikan karena pergerakan rupiah dapat memengaruhi harga barang impor, biaya perjalanan ke luar negeri, pembayaran kewajiban dalam valuta asing, hingga biaya produksi industri yang menggunakan bahan baku impor.

Bagikan:

Iklan