Pemilu Tanzania 2025: “Penobatan” Bukan Persaingan, Presiden Perempuan Pertama Samia Suluhu Hassan Melenggang Tanpa Lawan
KLIKWARTAKU — Pemilu yang seharusnya menjadi pesta demokrasi di Tanzania kini berubah menjadi penobatan politik bagi Presiden Samia Suluhu Hassan. Dengan tidak adanya kandidat oposisi besar yang diizinkan maju, banyak warga menilai pemilihan kali ini hanya formalitas belaka.
Samia, presiden perempuan pertama Tanzania berusia 65 tahun, pertama kali naik ke tampuk kekuasaan setelah wafatnya Presiden John Magufuli pada 2021. Saat itu, ia dikenal sebagai sosok lembut dan reformis yang membawa angin segar setelah era Magufuli yang keras dan kontroversial.
Melalui kebijakan Empat R — Reconciliation, Resilience, Reform, dan Rebuilding — Samia berhasil membuka kembali hubungan Tanzania dengan IMF, Bank Dunia, dan para investor asing. Namun, di balik citra lembutnya, ruang demokrasi kini kembali menyempit.
Ruang Demokrasi Menyempit, Oposisi Dikepung Kasus Hukum
Selama dua tahun terakhir, laporan tentang penculikan, pembunuhan, dan penindasan terhadap pengkritik pemerintah meningkat tajam. Lembaga kebebasan sipil Freedom House bahkan menurunkan peringkat Tanzania dari “partly free” menjadi “not free” pada tahun lalu.
Partai oposisi utama Chadema tidak diizinkan mengikuti pemilu. Pemimpinnya, Tundu Lissu, tengah diadili atas tuduhan makar setelah menyerukan reformasi pemilu. Wakilnya, John Heche, juga baru saja ditangkap. “Ya, kami boleh kampanye lagi, tapi janji reformasi itu palsu,” ujar Heche sebelum penahanannya.
Kandidat dari partai oposisi terbesar kedua, ACT Wazalendo, yakni Luhana Mpina, juga didiskualifikasi dua kali meski sempat menang gugatan di pengadilan. Akibatnya, Samia nyaris tanpa pesaing berarti di panggung politik nasional.
Kritik Terhadap “Mama Samia”: Dari Harapan ke Kekecewaan
Saat pertama kali menjabat, Samia dijuluki “Mama Samia” berkat gaya kepemimpinan yang hangat dan keibuan. Ia berjanji membawa kemajuan melalui pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
Namun kini, banyak warga — terutama kaum muda — mulai ragu terhadap arah kepemimpinannya.
“Dia membuat kami percaya perempuan bisa memimpin, tapi pengangguran masih tinggi dan suara kami dibungkam,” kata Celina Ponsiana, pemilih muda di Dar es Salaam.
Analis politik Nicodemus Minde dari Institute for Security Studies (ISS) menyebut bahwa partai berkuasa CCM telah mengatur skenario agar Samia menjadi satu-satunya kandidat internal, menyingkirkan suara kritis dari dalam partai sendiri.
Kekuasaan, Tekanan, dan Bayang-Bayang “Mtandao”
Menurut laporan ISS, Samia kini berada di bawah pengaruh kelompok elit bisnis kuat yang dikenal sebagai “Mtandao”, jaringan dalam CCM yang dituduh mengendalikan arah politik dan ekonomi negara.
Beberapa tokoh partai yang menentang dominasi Samia dilaporkan menghilang dalam kondisi misterius, termasuk Humphrey Polepole, anggota senior CCM yang mengkritik pencalonan tunggal presiden.
Situasi ini menciptakan iklim ketakutan dan sensor diri di masyarakat, di mana diskusi politik kini lebih banyak dilakukan secara diam-diam atau di media sosial.
Demokrasi Tanzania di Ujung Tanduk
Dengan lemahnya oposisi, pengawasan publik terbatas, dan media dibungkam, pemilu kali ini dinilai hanya memperkuat kekuasaan Presiden Samia dan menandai kemunduran demokrasi di Tanzania.
“Kami hanya ingin Tanzania yang bebas — tempat orang bisa berbicara dan bergerak tanpa takut,” ujar Tito Magoti, aktivis muda dan pengacara HAM.
Bagi banyak warga, pemilu ini bukan lagi soal memilih pemimpin, melainkan menyaksikan penobatan ulang seorang presiden yang kekuasaannya kian mutlak.***











