klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450 Juta, Impor Melonjak

Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450 Juta, Impor Melonjak

Ilustrasi pelabuhan ekspor-impor. (Foto dibuat menggunakan Google Gemini)

KLIKWARTAKU – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit pada Juni 2026. Nilai defisit tercatat sebesar US$450 juta, dipicu lonjakan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor.

Data BPS menunjukkan nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai US$25,46 miliar, meningkat 8,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai impor melonjak 34,27 persen secara tahunan menjadi US$25,91 miliar, sehingga menyebabkan neraca perdagangan kembali berada di zona negatif.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, defisit perdagangan Juni terutama berasal dari sektor minyak dan gas (migas). Defisit migas mencapai US$3,49 miliar, terutama dipengaruhi tingginya impor hasil minyak dan minyak mentah.

Di sisi lain, perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sebesar US$3,04 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Meskipun mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, kinerja perdagangan Indonesia secara kumulatif masih mencatatkan surplus. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan barang Indonesia membukukan surplus US$3,58 miliar.

Namun, capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$19,60 miliar. Penurunan surplus mencerminkan pertumbuhan impor yang lebih cepat di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan energi untuk mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Secara kumulatif selama semester pertama 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$140,81 miliar, sedangkan impor tercatat US$137,24 miliar. Surplus perdagangan hingga pertengahan tahun masih sepenuhnya ditopang sektor nonmigas, sementara sektor migas tetap mengalami defisit yang cukup besar.

Bagikan:

Iklan