klikwartaku.com
Beranda Internasional Mona Khalil, Penjaga Penyu Lebanon Selama 25 Tahun, Meninggal Setelah Terluka dalam Serangan Israel

Mona Khalil, Penjaga Penyu Lebanon Selama 25 Tahun, Meninggal Setelah Terluka dalam Serangan Israel

Mona Khalil, aktivis lingkungan dan pelindung penyu terkemuka di Lebanon, meninggal dunia setelah mengalami luka serius akibat serangan Israel di dekat Tyre. Warisannya dalam konservasi penyu dikenang dunia. Foto: Tangkapan layar YouTube ميغافون

KLIKWARTAKU — Dunia konservasi lingkungan berduka atas wafatnya Mona Khalil, seorang ahli ekologi kelautan dan pejuang pelestarian penyu yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk melindungi satwa laut langka di pesisir selatan Lebanon.

Khalil meninggal dunia pada usia 77 tahun setelah mengalami luka parah akibat serangan Israel yang menghantam rumahnya di dekat Kota Tyre pekan lalu. Kabar duka tersebut dikonfirmasi sejumlah media lokal dan organisasi lingkungan pada Jumat (20/6).

Kepergian Khalil terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon selatan, ketika gelombang serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah tersebut dan menewaskan puluhan warga sipil.

Sosok yang Mendedikasikan Hidup untuk Penyu

Nama Mona Khalil telah lama dikenal sebagai simbol perjuangan konservasi laut di Lebanon. Selama lebih dari 25 tahun, ia aktif menjaga kawasan pantai al-Mansouri yang menjadi lokasi penting bagi peneluran penyu hijau dan penyu tempayan, dua spesies yang kini berstatus terancam punah. Organisasi lingkungan Live Love Tyre menyampaikan penghormatan mendalam atas jasa-jasa Khalil.

“Dengan kesedihan mendalam kami berduka atas meninggalnya Mona Khalil. Ia akan selalu dikenang melalui warisan luar biasa yang ditinggalkannya. Di tengah berbagai tantangan, Mona memilih tetap tinggal dan merawat penyu yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya,” tulis organisasi tersebut dalam pernyataan resmi.

Berawal dari Pertemuan Tak Terlupakan dengan Seekor Penyu

Perjalanan hidup Khalil sebagai pelindung satwa laut bermula pada tahun 1999 ketika ia menyaksikan seekor penyu muncul dari Laut Mediterania untuk bertelur di pantai al-Mansouri.

Momen sederhana itu mengubah arah hidupnya secara drastis. Sejak saat itu, ia mendedikasikan dirinya untuk melindungi habitat penyu yang semakin terancam oleh pembangunan pesisir, pencemaran plastik, aktivitas perikanan, serta polusi cahaya yang mengganggu proses reproduksi satwa tersebut.

Lahir di Lagos, Nigeria, pada tahun 1949, Khalil sempat menghabiskan sebagian hidupnya di luar negeri sebelum akhirnya menetap di Lebanon selatan dan menjadi salah satu tokoh lingkungan paling berpengaruh di kawasan itu.

Membangun Wisata Ramah Lingkungan

Komitmen Khalil terhadap pelestarian alam tidak hanya terbatas pada perlindungan penyu. Pada tahun 2000, ia turut mendirikan Orange House, sebuah proyek ekowisata di pesisir al-Mansouri yang menggabungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat lokal.

Melalui berbagai kegiatan penelitian dan edukasi, Khalil juga membantu mendokumentasikan kehidupan laut di Lebanon selatan sekaligus mengkampanyekan perlindungan satwa liar serta upaya mengurangi pencemaran di garis pantai negara tersebut.

Berkat dedikasinya, kawasan pantai al-Mansouri kini dikenal sebagai salah satu lokasi konservasi penyu paling penting di wilayah Mediterania timur.

Duka dari Rekan dan Murid-Muridnya

Kepergian Khalil meninggalkan kesedihan mendalam bagi banyak pihak, terutama para relawan dan aktivis lingkungan yang selama bertahun-tahun bekerja bersamanya. Jurnalis sekaligus sukarelawan konservasi, Fadia Joumaa, mengenang Khalil sebagai sosok ibu bagi banyak generasi pejuang lingkungan di Lebanon.

“Engkau telah meninggalkan kami, tetapi semangatmu tetap hidup dalam diri kami. Kepergianmu adalah kehilangan bagi seluruh Lebanon, bukan hanya bagi kami yang dekat denganmu,” tulis Joumaa dalam penghormatan yang dibagikan melalui media sosial.

Ia menambahkan bahwa Khalil telah menghabiskan hidupnya untuk menjaga kehidupan laut dan memberikan inspirasi bagi banyak orang agar lebih peduli terhadap kelestarian alam.

Warisan yang Akan Terus Hidup

Meski telah tiada, warisan Mona Khalil dipastikan akan terus hidup melalui ratusan sarang penyu yang berhasil diselamatkannya, kawasan konservasi yang ia bangun, serta generasi baru aktivis lingkungan yang terinspirasi oleh perjuangannya.

Di tengah konflik yang masih berlangsung di Lebanon, kisah hidup Khalil menjadi pengingat bahwa dedikasi terhadap alam dan kehidupan dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada usia seseorang.

Bagi banyak warga Lebanon, Mona Khalil bukan hanya seorang ahli ekologi kelautan, melainkan simbol ketekunan, keberanian, dan cinta tanpa batas terhadap alam yang ia lindungi sepanjang hidupnya.***

Bagikan:

Iklan