klikwartaku.com
Beranda Internasional Longsor TPA di Filipina Tewaskan 11 Orang, Puluhan Pekerja Masih Hilang

Longsor TPA di Filipina Tewaskan 11 Orang, Puluhan Pekerja Masih Hilang

Korban tewas akibat longsor tempat pembuangan akhir di Cebu City, Filipina, bertambah menjadi 11 orang. Pemerintah setempat menghentikan operasional TPA dan membuka penyelidikan. Foto: Tangkapan layar YouTube Associated Press

KLIKWARTAKU — Jumlah korban tewas akibat longsor tempat pembuangan akhir (TPA) di Cebu City, Filipina tengah, bertambah menjadi 11 orang. Otoritas setempat menyatakan hingga kini lebih dari 20 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun timbunan sampah.

Longsor terjadi di TPA Binaliw pada pekan lalu saat lebih dari 100 pekerja berada di lokasi. Tim penyelamat telah mengevakuasi sedikitnya 12 orang dalam kondisi luka-luka dari reruntuhan, namun proses pencarian terus dilakukan di tengah keterbatasan waktu dan kondisi medan yang berbahaya.

Seorang pejabat pemadam kebakaran setempat sebelumnya menyebut peluang korban selamat sangat kecil setelah tiga hari tertimbun berton-ton sampah. Meski demikian, Wali Kota Cebu City Nestor Archival mengatakan masih ditemukan “tanda-tanda kehidupan” dalam proses pencarian pada Senin, sehingga operasi tetap difokuskan pada upaya penyelamatan. “Kami masih dalam mode penyelamatan,” kata Archival.

Insiden ini memicu desakan investigasi menyeluruh terkait penyebab longsor serta evaluasi sistem pengelolaan sampah dan keselamatan kerja di Filipina. Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina memerintahkan operator TPA, Prime Integrated Waste Solutions Inc., untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas di lokasi.

Perusahaan tersebut diwajibkan menyampaikan rencana kepatuhan dalam waktu 90 hari. Pemerintah juga menyatakan akan menyelidiki penyebab longsor dan menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Sejumlah legislator turut mendesak peninjauan ulang sistem pengelolaan sampah nasional. Senator Imee Marcos menyebut tragedi ini seharusnya dapat dicegah.

“Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Kita sudah menyaksikan tragedi serupa sebelumnya, namun bahaya yang sama terus berulang,” ujarnya. Menurut Marcos, korban jiwa di Cebu harus menjadi momentum lahirnya reformasi nyata.

Kesaksian warga sekitar menggambarkan kepanikan saat kejadian. Bienvinido Ranido, yang istrinya bekerja di TPA tersebut, mengatakan melihat para pekerja berlarian ketika timbunan sampah tiba-tiba runtuh. “Sampah itu seperti meledak,” katanya. Jenazah istrinya baru ditemukan sehari setelah kejadian.

TPA Binaliw berdiri di lahan seluas sekitar 20 hektare, dengan tiga hektare di antaranya digunakan sebagai area pembuangan sampah. Laporan awal dari Biro Pertambangan dan Geosains setempat menyebut curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir membuat timbunan sampah menjadi lebih berat, diperparah oleh faktor teknis dan rekayasa.

TPA menjadi solusi umum pengelolaan sampah di kota-kota besar Filipina, termasuk Cebu yang merupakan pusat perdagangan dan transportasi kawasan Visayas. Tragedi ini kembali menyoroti risiko besar di balik sistem pengelolaan sampah yang dinilai belum aman dan berkelanjutan.***

Bagikan:

Iklan