klikwartaku.com
Beranda Internasional Laba BP Melonjak Dua Kali Lipat Tembus Rp51 Triliun, Dampak Perang Iran Dongkrak Harga Minyak

Laba BP Melonjak Dua Kali Lipat Tembus Rp51 Triliun, Dampak Perang Iran Dongkrak Harga Minyak

Laba BP melonjak tajam akibat kenaikan harga minyak sejak konflik Iran. Volatilitas pasar energi dorong keuntungan perdagangan minyak global. Foto: Tangkapan layar YouTube DawnNews English

KLIKWARTAKU — Perusahaan energi asal Inggris, BP, mencatat lonjakan laba lebih dari dua kali lipat pada kuartal pertama tahun ini seiring kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan kinerja terbarunya, BP membukukan laba sebesar US$3,2 miliar atau sekitar Rp51,8 triliun (asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS) sepanjang Januari hingga Maret. Angka ini melonjak signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,38 miliar atau sekitar Rp22,3 triliun.

Kenaikan laba tersebut ditopang oleh performa luar biasa di sektor perdagangan minyak, yang diuntungkan dari fluktuasi harga energi sejak pecahnya konflik Iran. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global mengalami lonjakan tajam akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz.

Sebelum konflik, harga Brent berada di kisaran US$73 per barel atau sekitar Rp1,18 juta. Namun setelah perang, harga sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel (sekitar Rp1,94 juta), sebelum bergerak fluktuatif dan kini bertahan di kisaran US$110 atau sekitar Rp1,78 juta per barel.

Volatilitas ini memperlebar selisih harga beli dan jual, yang menjadi peluang besar bagi perusahaan perdagangan energi untuk meraih keuntungan lebih tinggi.

Divisi pelanggan dan produk BP, yang mencakup unit perdagangan minyak, mencatat lonjakan laba menjadi US$2,5 miliar atau sekitar Rp40,5 triliun, jauh di atas capaian tahun sebelumnya yang hanya US$103 juta atau sekitar Rp1,67 triliun.

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menilai lonjakan laba perusahaan energi menjadi alasan kuat untuk memperpanjang pajak keuntungan berlebih (windfall tax). Kebijakan ini dikenal sebagai Energy Profits Levy yang diterapkan sejak 2022.

“Perusahaan minyak dan gas memainkan peran penting dalam bauran energi, namun keuntungan besar juga harus dikenakan pajak secara adil,” ujarnya di parlemen.

Meski demikian, pajak tersebut hanya berlaku untuk aktivitas produksi di Inggris, sementara sebagian besar pendapatan perusahaan energi berasal dari operasi global.

Laporan ini juga menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan CEO baru BP, Meg O’Neill, yang mulai menjabat awal April. Ia menyebut industri energi saat ini berada dalam situasi penuh ketidakpastian akibat konflik geopolitik. “Kami bekerja sama dengan pemerintah dan pelanggan untuk memastikan pasokan energi tetap tersedia dan meminimalkan gangguan,” kata O’Neill.

Namun, kinerja sektor hulu BP—yang mencakup eksplorasi dan produksi minyak serta gas—tercatat stagnan. Perusahaan bahkan memperkirakan produksi pada kuartal kedua akan menurun akibat gangguan di kawasan Timur Tengah.

Harga saham BP naik sekitar 3 persen dan telah menguat hampir 20 persen sejak konflik Iran dimulai, mencerminkan optimisme investor terhadap kinerja perusahaan di tengah lonjakan harga energi.

Meski demikian, kritik datang dari kelompok lingkungan seperti Friends of the Earth. Mereka menilai perusahaan bahan bakar fosil kembali meraup keuntungan besar di tengah krisis global. “Ketidakstabilan global membuat harga energi melonjak, tetapi masyarakat umum yang menanggung dampaknya melalui biaya hidup yang meningkat,” ujar perwakilan organisasi tersebut.

Di Inggris, tagihan energi rumah tangga masih ditahan oleh kebijakan batas harga. Namun, kenaikan harga minyak dan gas diperkirakan akan mendorong kenaikan biaya energi sekitar £200 atau setara Rp4,05 juta per tahun mulai Juli mendatang.***

Bagikan:

Iklan