KSP Ajak Masyarakat Bijak Menyampaikan Kritik
KLIKWARTAKU – Istana Kepresidenan menegaskan pemerintah tetap membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan kritik di tengah maraknya kritik publik di media sosial maupun aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil.
Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurachman, mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan kritik. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi, namun harus disampaikan secara konstruktif.
“Kita semua dituntut untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat dan kritik. Pemerintah selalu membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, termasuk kritik,” kata Dudung.
Dudung menegaskan kritik tidak boleh disamakan dengan provokasi, fitnah, maupun upaya adu domba yang berpotensi merusak persatuan bangsa.
“Sebab, kritik adalah napas demokrasi yang harus membangun, bukan meruntuhkan. Jangan samakan kritik dengan provokasi, fitnah, dan adu domba yang dapat merusak persaudaraan kita sebagai bangsa,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia lahir melalui perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Menurutnya, bangsa Indonesia telah berhasil melewati berbagai ujian sejarah yang mengancam persatuan dan keutuhan negara.
Dudung menyinggung sejumlah peristiwa yang pernah menjadi tantangan bagi bangsa, mulai dari pemberontakan PKI Madiun, DI/TII, Republik Maluku Selatan (RMS), G30S/PKI, hingga berbagai gerakan separatis. Selain itu, konflik sosial yang pernah terjadi di Ambon, Poso, Sampit, Sambas, Aceh, dan sejumlah wilayah di Papua juga menjadi bagian dari perjalanan bangsa dalam menjaga keutuhan nasional.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Indonesia tetap mampu bertahan karena memiliki semangat persatuan yang berlandaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dudung juga menegaskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus bekerja untuk mewujudkan Indonesia yang lebih kuat dan berkeadilan. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempererat persatuan dan bersama-sama mendukung pembangunan nasional.
“Mari kita, sebagai bangsa Indonesia, merapatkan barisan dan merawat persatuan untuk menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Ia berharap perjalanan sejarah bangsa dapat menjadi bahan refleksi dan introspeksi bersama dalam upaya mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.








