klikwartaku.com
Beranda Internasional Krisis BBM Melanda Mali: Blokade Jihadis Lumpuhkan Ibu Kota Bamako

Krisis BBM Melanda Mali: Blokade Jihadis Lumpuhkan Ibu Kota Bamako

Kelangkaan bahan bakar melumpuhkan ibu kota Mali setelah kelompok jihadis terkait Al-Qaeda memblokir jalur distribusi BBM. Warga antre berjam-jam di SPBU, sementara harga melonjak hingga 200 persen. Foto: Tangkapan layar YouTube Firstpost

KLIKWARTAKU — Krisis bahan bakar melanda Mali setelah kelompok jihadis yang berafiliasi dengan Al-Qaeda melakukan blokade terhadap jalur distribusi BBM ke ibu kota. Akibatnya, antrean panjang kendaraan mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar di Bamako, menandai lumpuhnya aktivitas ekonomi di kota tersebut.

Sudah lebih dari sebulan kelompok Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) menyerang truk-truk tangki di jalur utama, memutus suplai bahan bakar ke wilayah barat dan selatan Mali. Seorang pengemudi ojek mengeluhkan kondisi ini, mengatakan, “Bisnis kami benar-benar terhenti. Kami bahkan harus mendorong motor untuk mencari bensin.”

Beberapa SPBU yang sempat tutup kini kembali beroperasi setelah lebih dari 300 truk tangki BBM tiba dari Pantai Gading dengan pengawalan ketat militer. Namun warga khawatir pasokan ini hanya bersifat sementara.

Pemerintah militer Mali menegaskan krisis ini akan segera diatasi, tetapi laporan di lapangan menunjukkan harga BBM di Bamako melonjak hingga 200 persen.

Dampak Meluas hingga ke Daerah

Kekurangan bahan bakar tidak hanya berdampak pada transportasi, tetapi juga memicu pemadaman listrik dan inflasi harga di berbagai daerah. Di kota Mopti, seorang pedagang ikan mengaku usahanya terancam karena tidak bisa menjaga kesegaran dagangan akibat listrik yang sering padam.

Menurut laporan, beberapa wilayah di Bamako kini hanya mendapat pasokan listrik enam jam per hari — jauh menurun dari 19 jam biasanya.

Mali, negara tanpa akses laut, selama ini mengandalkan pasokan BBM dari negara tetangga seperti Senegal dan Pantai Gading. Serangan di jalur darat membuat suplai terputus dan stok di dalam negeri menipis.

Negosiasi Rahasia dan Tuntutan Jihadis

Pemerintah dilaporkan sedang melakukan negosiasi tertutup dengan kelompok JNIM untuk membuka blokade tersebut. Menurut laporan, tuntutan kelompok militan mencakup pembebasan tahanan jihadis serta pencabutan larangan penjualan BBM di luar SPBU resmi, yang sebelumnya diberlakukan untuk membatasi pasokan mereka.

Selain itu, kelompok tersebut juga menuntut agar perempuan diwajibkan mengenakan jilbab di dalam bus.

Krisis Keamanan yang Belum Berakhir

Mali telah dilanda konflik sejak pemberontakan separatis suku Tuareg di utara pada 2012, yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis Islam. Meski junta militer yang berkuasa sejak lima tahun lalu berjanji mengembalikan stabilitas, situasi keamanan justru memburuk.

Setelah penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dan tentara Prancis, pemerintah kini menggandeng tentara bayaran Rusia untuk menghadapi ancaman militan. Namun serangan jihadis terus meluas, bahkan kini mengancam jalur logistik vital negara itu.

Warga Bamako berharap krisis segera berakhir. “Kami hanya ingin hidup normal lagi,” kata seorang warga yang telah antre berjam-jam demi beberapa liter bensin.***

Bagikan:

Iklan