Di Bandar Abbas, Gencatan Senjata Hanya Ada di Televisi
KLIKWARTAKU — Dua kepulan asap muncul hampir bersamaan dari dua sisi Bandar Abbas pada 11 Juli. Satu berasal dari arah Pelabuhan Shahid Rajaee, pelabuhan komersial terbesar Iran. Kepulan lainnya terlihat dari kawasan bandara.
Bagi Parisa, 44 tahun, pemandangan itu bukan sekadar berita tentang perang. Ia adalah suara ledakan yang menembus rumah, kecemasan yang kembali muncul, dan pertanyaan tentang apakah anak semata wayangnya masih aman.
Di televisi, situasinya disebut sebagai bagian dari masa gencatan senjata. Namun bagi Parisa dan warga Bandar Abbas, kata itu terasa asing. “Ini perang,” begitu kira-kira kesimpulan yang muncul dari kesaksiannya kepada media internasional terkemuka.
Bukan perang yang diumumkan secara resmi setiap hari. Bukan pula perang yang memiliki garis depan jelas. Melainkan perang yang menyelinap ke rumah, tempat kerja, pelabuhan, jalan raya, dan bahkan ke dalam kepala warga.
Parisa mengatakan dirinya telah mengalami tiga periode perang dalam hidupnya. Ia masih kecil ketika Iran dan Irak terlibat perang selama delapan tahun pada dekade 1980-an. Ingatannya tentang periode itu tidak banyak. Namun perang-perang berikutnya meninggalkan pengalaman yang jauh lebih nyata.
Bandar Abbas menjadi salah satu kota yang terdampak dalam konflik musim panas dan musim dingin terakhir. Bagi Parisa, perang yang terjadi pada Februari dimulai dengan serangan terhadap sebuah sekolah di Minab. Sedangkan perang pada Juli dimulai dengan serangan terhadap asrama tentara di Bampour.
Di sana, anak-anak muda yang tinggal beberapa hari lagi menyelesaikan wajib militer tewas ketika sedang tidur. Bagi seorang ibu, tragedi itu sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Parisa memiliki seorang putra berusia 23 tahun. Ia tidak menjalani wajib militer karena merupakan anak dari ibu tunggal. Tetapi keputusan tersebut tidak serta-merta menghilangkan kecemasan ibunya.
Putranya bekerja di laut. Dan laut, yang selama ini menjadi sumber penghidupan banyak warga kota pesisir, tidak lagi terasa aman. Setiap pagi dan malam, Parisa melihat anaknya dan teringat pada ibu-ibu yang kehilangan putra mereka dalam serangan terhadap asrama tentara. Keluarganya berusaha menenangkan. Mereka mengatakan kapal nelayan bukan sasaran.
Namun pengalaman selama konflik membuat kalimat itu sulit dipercaya. Kapal nelayan dan kapal komersial telah ikut menjadi korban serangan. Bahkan laut tidak lagi bisa dianggap sebagai ruang aman. Bagi Parisa, persoalannya sederhana sekaligus mengerikan: putranya adalah satu-satunya yang benar-benar ia miliki. Maka setiap kali anaknya pergi ke laut, perang ikut pergi bersamanya.
Rumah Parisa berada dekat Bandara Bandar Abbas. Pada malam pengeboman, ia dan keluarganya menempelkan telinga ke tanah, menunggu suara ledakan berhenti. Mereka mencoba tidur setelah serangan dinyatakan berakhir. Tetapi tidur dalam situasi seperti itu bukanlah istirahat. Sebab serangan bisa datang lagi.
Bahkan pada siang hari, bangunan tempat tinggal dapat terkena serangan dengan alasan terdapat seseorang yang menjadi sasaran di dalamnya. Akibatnya, suara biasa berubah menjadi tanda bahaya. Pintu tetangga yang dibanting terlalu keras membuat Parisa terkejut. Suara kendaraan atau benda jatuh dari jalan bisa memunculkan pikiran yang sama. “Mereka menyerang lagi.”
Perang akhirnya tidak hanya berlangsung di langit. Ia menetap dalam refleks tubuh. Sebelum perang, Parisa menganggap dirinya perempuan yang kuat. Ia membayangkan dirinya akan mampu menjadi tempat bersandar ketika orang-orang terdekat menghadapi tragedi. Pandangan itu berubah ketika seorang teman dekat kehilangan suaminya akibat serangan rudal.
Ketika pertama kali menelepon temannya setelah kematian tersebut, Parisa bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata. Yang lebih menyakitkan adalah melihat dua anak kecil korban. Mereka terus bertanya mengapa ayah mereka belum pulang. Pertanyaan sederhana itu membuat Parisa kehilangan napas. Berbulan-bulan setelah kejadian, ia masih menjaga jarak dari anak-anak tersebut.
Bukan karena tidak menyayangi mereka. Justru karena terlalu menyayangi. Ia tidak sanggup melihat mereka masih menunggu seseorang yang tidak akan kembali. Dalam situasi seperti itu, solidaritas menjadi salah satu cara warga bertahan. Ketika sirene atau ledakan terdengar, tetangga saling memeriksa.
Ada yang datang ke rumah. Ada yang memilih berkumpul bersama dan pergi ke pantai sambil menunggu serangan berakhir. Kebersamaan membuat rasa takut sedikit lebih ringan. Namun tidak pernah benar-benar hilang. Dua saudara laki-laki Parisa juga bekerja di lokasi yang membuatnya terus cemas. Salah satunya bekerja di Pelabuhan Shahid Rajaee, yang berulang kali menjadi sasaran.
Saudaranya yang lain bekerja di fasilitas petrokimia yang juga menghadapi ancaman serangan. Parisa mengaku sering menelepon mereka berulang kali. Bukan karena memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Ia hanya ingin memastikan suara mereka masih terdengar. Sebab setiap percakapan bisa saja menjadi percakapan terakhir.
Untuk mengalihkan perhatian dari kecemasan, Parisa bergabung dengan kelompok pengusaha perempuan di Bandar Abbas. Mereka mencoba membantu perempuan yang bisnisnya rusak akibat perang dan pemadaman internet. Membantu satu perempuan membuka kembali toko daring atau usaha makanan menjadi sumber kepuasan kecil. Ada rasa bahwa sesuatu masih bisa diperbaiki.
Namun rasa itu tidak bertahan lama. Kerusakan yang dihadapi masyarakat jauh lebih besar daripada kemampuan kelompok kecil tersebut. Satu usaha bisa diselamatkan. Tetapi bagaimana dengan ribuan usaha lain? Satu keluarga bisa dibantu. Namun bagaimana dengan seluruh kota? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Parisa kembali berhadapan dengan rasa tidak berdaya.
Kini ada satu hal yang paling mengganggu pikirannya. Nama. Ia ingin tahu bagaimana harus menyebut kondisi yang sedang mereka jalani. Apakah perang? Gencatan senjata? Atau perdamaian? Bagi Parisa, nama bukan sekadar istilah politik. Jika situasinya perang, warga dapat mengambil keputusan berdasarkan keadaan darurat.
Jika gencatan senjata, mereka bisa mulai memulihkan kehidupan. Jika perdamaian, mereka dapat membuat rencana jangka panjang. Masalahnya, kehidupan di Bandar Abbas seperti tidak masuk ke dalam kategori mana pun. Televisi pemerintah menyebut gencatan senjata. Ledakan mengatakan sebaliknya. Ancaman datang siang dan malam. Tidak ada kepastian kapan keadaan akan berubah.
Nasihat tentang kesehatan mental dalam situasi krisis biasanya sederhana: fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan. Namun bagi Parisa, nasihat itu kehilangan makna ketika hampir tidak ada sesuatu yang terasa berada dalam kendalinya. Ia tidak dapat mengendalikan rudal. Tidak dapat mengendalikan perang. Tidak dapat menjamin keselamatan anaknya di laut.
Tidak dapat memastikan saudara-saudaranya pulang dari tempat kerja. Bahkan ia tidak tahu apakah suara keras berikutnya berasal dari pintu tetangga atau ledakan. Yang tersisa hanyalah bertahan. Di Bandar Abbas, gencatan senjata mungkin telah diumumkan.
Namun bagi Parisa, perang belum benar-benar pergi. Ia hanya berganti bentuk—dari ledakan menjadi kecemasan, dari serangan menjadi trauma, dan dari ancaman di langit menjadi ketakutan yang menetap di dalam rumah.***












