Tiga Pelaut India Tewas dalam Serangan AS ke Kapal Tanker di Teluk Oman
KLIKWARTAKU — Tiga pelaut India tewas setelah militer Amerika Serikat menyerang kapal tanker MT Settebello di Teluk Oman. Serangan yang terjadi pada Rabu lalu itu menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kapal tanker berbendera Palau tersebut membawa 24 awak berkewarganegaraan India. Sebanyak 21 kru berhasil diselamatkan, sementara tiga lainnya ditemukan meninggal dunia. Menteri Perhubungan Laut India Sarbananda Sonowal memastikan jenazah ketiga korban segera dipulangkan ke India.
Kementerian Pelabuhan, Pelayaran, dan Perairan India menyebut ketiga korban adalah Aditya Sharma yang bekerja sebagai kadet, Shivanand Chaurashiya sebagai teknisi, dan Patnala Suresh yang menjabat kepala teknisi mesin.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau Centcom menyatakan pesawat tempurnya menembakkan amunisi presisi ke ruang mesin kapal setelah awak kapal disebut beberapa kali mengabaikan instruksi militer AS. Namun operator kapal, iOS Marine, membantah tuduhan tersebut.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat, perusahaan itu menegaskan MT Settebello tidak memiliki hubungan apa pun dengan Iran maupun pengiriman minyak Iran. “Sejauh pengetahuan kami, tidak ada panggilan peringatan atau komunikasi yang berhasil dilakukan kepada kapal sebelum tindakan militer dilakukan,” tulis iOS Marine.
Perusahaan juga menegaskan kapal tersebut merupakan kapal dagang sipil yang menjalankan operasi komersial sah. “Segala tuduhan sebaliknya harus diuji melalui investigasi internasional yang transparan,” demikian pernyataan perusahaan.
iOS Marine menyebut kapal tanker itu telah berada dalam posisi diam selama sekitar 10 hari sebelum insiden terjadi dan tidak melakukan manuver agresif maupun upaya menghindar. Serangan terhadap MT Settebello menjadi insiden ketiga dalam sepekan yang melibatkan kapal dengan mayoritas awak asal India di kawasan Teluk Oman.
Beberapa hari sebelumnya, kapal tanker Marivex juga diserang militer Amerika Serikat setelah dianggap tidak mematuhi instruksi blokade terhadap Iran. Seluruh 24 awak kapal berhasil diselamatkan sebelum kapal tenggelam.
Pada Kamis, kapal MT Jalveer berbendera Guinea-Bissau turut diserang di dekat Pelabuhan Shinas, Oman. Pemerintah India menyatakan seluruh 20 awak kapal selamat berkat bantuan Angkatan Laut Oman.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal mengatakan New Delhi telah melayangkan protes keras kepada Amerika Serikat menyusul insiden MT Settebello. “Kami memanggil kuasa usaha Amerika Serikat dan menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan yang terus terjadi,” kata Jaiswal.
Ayah salah satu korban, Rajesh Sharma, mempertanyakan keputusan kapal berlayar di dekat Selat Hormuz yang saat ini menjadi kawasan konflik. “Siapa yang bertanggung jawab atas kematian tiga pelaut India ini? Semua keadaan yang menyebabkan kematian mereka harus diselidiki,” ujarnya.
Militer Amerika Serikat diketahui memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran setelah Teheran menutup akses Selat Hormuz selama konflik berlangsung. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global melewati kawasan tersebut.
Centcom mengklaim telah melumpuhkan delapan kapal dan mengalihkan 134 kapal lainnya sejak operasi blokade dimulai pada 13 April 2026. Pemerintah India menegaskan serangan terhadap kapal dagang sipil harus dihentikan.
Sekretaris Jenderal Forward Seamen’s Union of India, Manoj Yadav, mengatakan Amerika Serikat seharusnya mengetahui kewarganegaraan awak kapal sebelum melakukan serangan. “Jika kapal dianggap melanggar instruksi, penahanan kapal seharusnya bisa menjadi alternatif,” kata Yadav kepada media India.
Kementerian Pelayaran India mencatat saat ini terdapat 562 pelaut India di kapal berbendera India yang beroperasi di kawasan Teluk, termasuk 329 orang di sebelah barat Selat Hormuz dan 233 lainnya di Teluk Oman. Secara keseluruhan, lebih dari 18 ribu pelaut India bekerja di kawasan Teluk.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat hingga kini belum mereda. Kedua negara kembali saling melancarkan serangan selama dua hari berturut-turut, meski sebelumnya sempat menyepakati gencatan senjata rapuh pada April lalu.
Pada Rabu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Iran “lebih keras” karena dianggap memperlambat proses kesepakatan damai.
Konflik bersenjata pecah sejak 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, sehingga konflik meluas ke berbagai negara Timur Tengah.***










