AS Serang Kapal Cepat Iran di Selat Hormuz, Ketegangan Memuncak Usai Serangan ke Fasilitas Minyak UEA
KLIKWARTAKU — Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap kapal cepat milik Iran di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan di tengah upaya Washington mengawal kapal-kapal dagang yang terjebak di jalur pelayaran vital tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan militer negaranya telah menghancurkan tujuh kapal kecil Iran yang disebut sebagai “fast boats”. Serangan dilakukan menggunakan helikopter militer. Di sisi lain, Iran membantah klaim tersebut. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa yang diserang justru dua kapal kargo kecil, menewaskan lima warga sipil.
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Uni Emirat Arab melaporkan serangan terhadap kapal tanker afiliasi perusahaan minyak negara ADNOC di Selat Hormuz. Tak hanya itu, serangan juga memicu kebakaran besar di pelabuhan minyak Fujairah yang menyebabkan tiga orang terluka.
Kementerian luar negeri UEA menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya dan membuka kemungkinan respons balasan. Namun, pejabat militer Iran yang dikutip media pemerintah menyatakan Teheran tidak memiliki rencana menargetkan UEA.
Perusahaan pelayaran global Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapal berbendera AS miliknya berhasil keluar dari Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS dalam operasi yang disebut Trump sebagai “Project Freedom”. Kapal tersebut sebelumnya terjebak sejak konflik meningkat pada Februari lalu.
Selat Hormuz sendiri masih sebagian besar tertutup sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran beberapa bulan lalu. Iran kemudian membalas dengan memblokade jalur tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai situasi ini menunjukkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Ia bahkan menyebut “Project Freedom” sebagai “Project Deadlock”.
Sejumlah negara turut melaporkan insiden di kawasan tersebut. Korea Selatan menyebut terjadi ledakan pada kapalnya di dekat perairan UEA. Sementara Oman melaporkan dua orang terluka akibat serangan terhadap bangunan permukiman di wilayah pesisir.
Serangan juga berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah acuan Brent melonjak melewati US$115 per barel atau sekitar Rp1,84 juta (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS), naik lebih dari 5 persen dalam sehari.
Pemimpin dunia mengecam serangan terhadap infrastruktur sipil di UEA. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebutnya tidak dapat dibenarkan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan dukungan terhadap sekutu di kawasan Teluk, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran kembali ke meja perundingan.
Krisis ini juga berdampak pada ribuan pelaut. Diperkirakan sekitar 20.000 awak kapal di lebih dari 2.000 kapal masih terjebak di kawasan sejak konflik pecah. Kekhawatiran pun meningkat terkait pasokan energi global serta kondisi fisik dan mental para pelaut.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya, sementara risiko eskalasi militer di kawasan terus membayangi.***








