Duterte Muncul Langsung di ICC Setelah 18 Bulan, Sidang Kejahatan terhadap Kemanusiaan Dijadwalkan November
KLIKWARTAKU — Setelah sekitar 18 bulan hanya muncul melalui sambungan video, mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte akhirnya duduk langsung di ruang sidang Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda, Rabu, 16 September 2026.
Duterte, 81 tahun, hadir dalam sidang yang justru membahas kondisi kesehatan dan kemampuannya mengikuti proses hukum. Ia mengenakan jas hitam dan kemeja putih. Duterte tidak memberikan pernyataan selama persidangan, tetapi sempat melambaikan tangan kepada anggota keluarganya di galeri publik ketika sidang berakhir.
Kemunculan itu menjadi perhatian karena pengadilan dijadwalkan memulai persidangan Duterte pada 30 November 2026. Ia menghadapi dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang berkaitan dengan operasi antinarkoba ketika menjabat wali kota Davao dan kemudian presiden Filipina.
Sidang status pada Rabu digelar setelah tim pembela Duterte mempertanyakan kemampuannya untuk menjalani persidangan. Pengacara Duterte, Peter Haynes, sebelumnya mengatakan kliennya mengalami gangguan daya ingat yang signifikan sehingga dinilai kesulitan berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan tim hukumnya.
Jaksa ICC membantah penilaian tersebut. Para hakim kemudian meminta pemeriksaan medis untuk menilai apakah Duterte secara mental dan fisik mampu mengikuti proses persidangan.
ICC pada Januari 2026 sebelumnya menyatakan Duterte cukup sehat untuk mengikuti proses praperadilan. Pengadilan juga meminta agar ia hadir secara langsung dalam proses tertentu, bukan terus mengikuti persidangan dari fasilitas penahanannya melalui video.
Menurut laporan AFP yang dikutip sejumlah media, tim pembela menyebut hasil pemeriksaan medis menunjukkan Duterte mengalami masalah ingatan. Salah satu klaim yang disampaikan pembela adalah Duterte disebut mengira dirinya berada pada tahun 2007 atau 2008 dan keliru mengenai usia serta nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hasil pemeriksaan medis lengkap tersebut belum dipublikasikan. Duterte didakwa atas kejahatan terhadap kemanusiaan terkait pembunuhan yang terjadi dalam periode ketika ia menjadi wali kota Davao hingga masa kepresidenannya.
ICC menyelidiki dugaan kejahatan sejak 1 November 2011, ketika Duterte masih menjadi wali kota Davao, sampai 16 Maret 2019, ketika Filipina secara resmi keluar dari Statuta Roma yang menjadi dasar yurisdiksi ICC terhadap negara anggota.
Dalam dokumen perkara, jaksa ICC menuduh Duterte bertanggung jawab atas sebuah pola serangan terhadap warga sipil yang dilakukan secara luas dan sistematis. Duterte membantah tuduhan tersebut.
Saat menjabat presiden pada 2016-2022, Duterte menjadikan pemberantasan narkoba sebagai salah satu kebijakan utama pemerintahannya. Kepolisian Filipina sebelumnya mencatat ribuan orang tewas dalam operasi antinarkoba, sementara kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlah korban jauh lebih tinggi.
ICC kemudian menetapkan 30 November 2026 sebagai tanggal dimulainya persidangan Duterte. Reuters melaporkan dakwaan yang dikonfirmasi pengadilan mencakup tiga tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan yang berkaitan dengan pembunuhan sedikitnya 76 orang dan percobaan pembunuhan terhadap dua orang.
Kemunculan Duterte di ruang sidang juga disaksikan keluarga korban melalui siaran langsung dari Manila. Llore Pasco, yang mengatakan dua putranya tewas dalam operasi antinarkoba, menyambut kemunculan Duterte di ICC. Kepada Reuters, ia mengatakan keluarganya senang akhirnya melihat mantan presiden tersebut hadir secara langsung.
Randy Delos Santos, yang keponakannya yang masih remaja tewas pada 2017, juga mengatakan bahwa ia berharap kehadiran fisik Duterte dapat membantu mempercepat proses persidangan. Bagi keluarga korban, proses di Den Haag menjadi tahap penting untuk menguji tuduhan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perdebatan mengenai kebijakan antinarkoba Duterte.
Duterte ditangkap di Manila pada Maret 2025 setelah ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan. Ia kemudian diserahkan kepada pengadilan dan dibawa ke Den Haag. Dokumen ICC mencatat Duterte diserahkan kepada pengadilan pada 12 Maret 2025.
Sejak saat itu, sejumlah proses hukum dijalankan melalui sambungan video. Kemunculannya secara langsung pada Rabu menjadi yang pertama sejak ia dipindahkan ke fasilitas tahanan ICC. Persidangan November nantinya akan menjadi ujian hukum terhadap dugaan peran Duterte dalam rangkaian pembunuhan yang terjadi selama periode penyelidikan ICC.
Namun sebelum memasuki tahap tersebut, hakim masih harus menentukan apakah kondisi kesehatan Duterte memenuhi syarat untuk menjalani persidangan secara efektif.
Jika dinyatakan mampu, perkara tersebut akan memasuki tahap persidangan pada 30 November 2026. Jika muncul persoalan terkait kapasitasnya untuk mengikuti proses hukum, pengadilan harus terlebih dahulu mempertimbangkan implikasinya terhadap jadwal dan jalannya perkara.***










