klikwartaku.com
Beranda Internasional Nirmal Purja Tewas di Broad Peak, Sahabatnya Jalani Misi Terberat Membawa Pulang Jenazah

Nirmal Purja Tewas di Broad Peak, Sahabatnya Jalani Misi Terberat Membawa Pulang Jenazah

Nirmal Purja tewas dalam longsoran di Broad Peak, Pakistan. Sahabatnya, Mingma Gyalje Sherpa, menghentikan ekspedisi K2 demi membawa pulang jenazahnya. Foto: Tangkapan layar YouTube Al Jazeera English

KLIKWARTAKU — Di gunung, mereka terbiasa menghadapi salju, angin kencang, suhu beku, dan jurang kematian. Namun bagi Mingma Gyalje Sherpa, perjalanan paling berat justru datang ketika ia harus mendaki untuk menjemput sahabatnya yang telah meninggal.

Mingma Gyalje, atau Mingma G, berdiri di lereng Broad Peak, Pakistan, pada Juli lalu. Di hadapannya terlihat dua tubuh dengan pakaian pendakian berwarna terang yang kontras dengan hamparan salju. Ia tahu kemungkinan besar dua orang itu sudah tidak bernyawa.

Mereka adalah Nirmal Purja, yang dikenal sebagai Nims, dan Kili Pemba Sherpa atau Kilu. Keduanya merupakan pendaki yang telah berkali-kali menghadapi gunung-gunung tertinggi dunia bersama Mingma G.

Mingma G tetap mendekat. “Saya mengatakan kepada mereka: tidak apa-apa. Kalian tidak perlu berada di sini dalam dingin lagi,” kata Mingma G kepada media internasional di Islamabad.

Ia kemudian memegang salah satu tubuh itu. “Saya di sini untuk membawa kalian pulang.” Kalimat tersebut menjadi awal dari misi yang berbeda dari ekspedisi pendakian mana pun yang pernah dijalaninya.

Tragedi terjadi pada 30 Juli. Hari itu, menurut Mingma G, kondisi cuaca sebenarnya sangat baik. Matahari bersinar dan angin hampir tidak ada. Mingma G saat itu memimpin tim yang sedang mendaki K2. Sementara Nims bersama rombongan pendaki lain menuju Broad Peak, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari K2.

Sekitar pukul 08.30, Mingma G sempat berbicara dengan Kilu melalui radio. Kilu mengatakan kondisi salju terlihat bagus. Mereka berencana kembali berkomunikasi setelah mencapai kamp berikutnya di masing-masing gunung.

Beberapa pendaki yang berada lebih rendah juga melihat rombongan Broad Peak bergerak naik. Salah seorang bahkan mengambil foto mereka yang tampak kecil di tengah lereng putih. Mereka masih terlihat bergerak. Kurang dari satu jam kemudian, terdengar suara seperti ledakan. “Suara gemuruh,” kata seorang trekker.

Sebuah longsoran besar meluncur dari bagian atas Broad Peak dan menyapu kedua sisi gunung. Para saksi hanya bisa berharap para pendaki berada di atas jalur longsoran. Namun siluet mereka kemudian menghilang.

Di K2, Mingma G mulai gelisah. Awalnya ia tidak terlalu khawatir. Para pendaki di ketinggian ekstrem kerap mematikan radio atau perangkat komunikasi untuk menghemat baterai. Namun ada satu hal yang berbeda.

Wang Zhong, salah satu pendaki Broad Peak yang juga merupakan sahabat sekaligus klien Mingma G, biasanya mengirim pesan melalui perangkat pelacak satelit Garmin setelah mencapai kamp berikutnya. Hari itu tidak ada pesan. Hingga pukul 15.00, tidak ada seorang pun di base camp yang berhasil menghubungi rombongan Broad Peak.

Mingma G berada sekitar 7.300 meter di K2. Timnya kemudian mulai menghubungi keluarga, pejabat, kolega di Kathmandu dan siapa pun yang mungkin memiliki informasi. Sekitar pukul 20.00, mereka memperoleh petunjuk yang mengkhawatirkan. Data ketinggian dari perangkat pelacak para pendaki menunjukkan penurunan drastis. Salah satunya turun sekitar 1.600 meter.

Malam telah tiba. Tidak mungkin mengirim tim ke Broad Peak. Mereka menunggu pagi. Mingma G masih berharap Nims dan Kilu selamat. Keduanya, menurut dia, adalah pendaki berpengalaman dengan kondisi fisik luar biasa.

Namun harapan itu runtuh ketika drone diterbangkan ke lokasi. Operator drone menemukan sejumlah tubuh di lereng. Tidak terlihat tanda-tanda adanya penyintas. “Saya benar-benar kosong,” ujar Mingma G.

Mingma G kemudian mengambil keputusan besar. Ekspedisi K2 dihentikan. Ia turun dan berusaha mengatur operasi pengambilan jenazah para pendaki. Beberapa jenazah berhasil dievakuasi lebih dahulu, termasuk Nadhira Al Harthy, perempuan Oman pertama yang mencapai puncak Everest, dan Pur Bahadur Gurung, pendaki Nepal yang telah menaklukkan 12 dari 14 gunung tertinggi dunia.

Namun Nims dan Kilu masih berada di gunung. Ketika Mingma G menyampaikan kabar kematian Nims kepada istri dan keluarganya, mereka sulit mempercayainya. Istri Kilu hanya meminta satu hal. “Jangan tinggalkan saudara saya di gunung.” Permintaan itu kemudian menjadi tekad bagi Mingma G.

Mengambil jenazah dari Broad Peak bukan perkara sederhana. Dari gambar drone, Mingma G semula memperkirakan helikopter dapat digunakan dengan tali panjang untuk mengangkat tubuh dari lereng. Namun rencana itu tidak dapat segera dilakukan.

Menurut Alpine Club of Pakistan, permintaan penggunaan helikopter memang telah disetujui pada 1 Agustus. Tetapi cuaca buruk membuat operasi udara tertunda selama beberapa hari. Mingma G akhirnya memilih satu-satunya pilihan yang tersisa: mendaki kembali ke lokasi longsoran dengan berjalan kaki.

Pada 1 Agustus, tim penyelamat bergerak menuju lokasi. Mereka awalnya memperkirakan ada empat jenazah yang terlihat dari gambar drone: Nims, Kilu, Wang Zhong dan Nima Sherpa. Gyaljen Sherpa kemudian ditemukan di sekitar lokasi.

Risikonya sangat besar. Lereng masih tidak stabil. Batu dapat jatuh sewaktu-waktu. Longsoran susulan juga mungkin terjadi. Tim yang terlalu besar akan meningkatkan risiko korban baru. Sebaliknya, terlalu sedikit orang akan menyulitkan proses membawa jenazah turun. Mereka akhirnya memilih tim kecil.

Ketika tim mulai menurunkan jenazah menggunakan tali, longsoran kembali terjadi. Salah satu tubuh terseret hingga ke bagian bawah gunung. Tiga jenazah lainnya, termasuk Nims, justru berada di posisi yang lebih berbahaya. Mereka terjebak di tengah lereng yang diapit pilar-pilar es gletser yang tampak tidak stabil. Jika salah satu pilar itu runtuh, seluruh tim penyelamat bisa ikut tersapu.

Hari demi hari, jumlah anggota tim berkurang. Dari sembilan orang menjadi enam. Kemudian empat. Akhirnya diputuskan Mingma G tetap berada di belakang untuk memantau situasi melalui drone. Tiga pendaki bergerak menuju jenazah dengan instruksi dari Mingma G.

Operasi itu berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Akhirnya mereka berhasil membawa jenazah turun dari lereng. Ada satu pemandangan yang terus terbayang di benak Mingma G. Nims dan Kilu menutupi wajah mereka dengan jaket. Mingma G menduga keduanya mungkin melihat longsoran datang dan berusaha melindungi diri. Keduanya juga terikat pada tali yang sama.

Mingma G menduga mereka mungkin saling terbentur saat terseret longsoran. “Keduanya tidak jatuh terlalu jauh, hampir 500 meter. Tetapi sayangnya saya pikir mereka banyak saling terbenturan,” katanya.

Menurut dia, ada kemungkinan situasinya berbeda jika Nims dan Kilu tidak berada pada tali yang sama. Namun penyebab pasti kematian mereka masih menjadi bagian dari tragedi yang sulit dipastikan. Jenazah kemudian dibawa turun dan diterbangkan menggunakan helikopter menuju Skardu. Dari sana, jenazah dibawa ke Islamabad sebelum akhirnya dipulangkan kepada keluarga.

Beberapa pendaki lain juga ditemukan meninggal. Jenazah pendaki Pakistan Sohail Sakhi dan pendaki Amerika Serikat Mallory Geis ditemukan beberapa hari kemudian. Sementara jenazah pendaki Nepal, Nawang Thindu Sherpa, masih berada di gunung. Hubungan Mingma G dan Nims bermula di Pakistan pada 2021.

Saat itu keduanya menjadi bagian dari tim pertama yang berhasil mencapai puncak K2 pada musim dingin. Mingma G telah mengenal nama Nims sebelum bertemu langsung. Ia mengetahui reputasi pendaki yang menjadi terkenal melalui film dokumenter Netflix 14 Peaks, setelah Nims berhasil mendaki 14 gunung tertinggi dunia dalam waktu lebih dari enam bulan.

Keduanya berasal dari Nepal, tetapi menempuh jalan berbeda. Mingma G berasal dari komunitas Sherpa dan membangun reputasi sebagai pemandu gunung selama lebih dari dua dekade. Nims merupakan mantan prajurit Gurkha dan pasukan khusus Inggris yang kemudian menjadi salah satu pendaki paling terkenal di dunia.

Nims dipuji karena membantu memperkenalkan kemampuan pendaki Nepal ke panggung internasional. Namun kariernya juga tidak lepas dari kontroversi.

Pada 2024, The New York Times memberitakan tuduhan pelanggaran seksual dari dua perempuan terhadap Purja. Ia membantah tuduhan tersebut melalui pengacaranya dan menyebutnya sebagai tuduhan yang palsu serta mencemarkan nama baik.

Mingma G sendiri mengaku pada awalnya tidak terlalu menyukai Nims. “Awalnya, saya merasa dia sangat arogan,” ujarnya. Penilaian itu berubah setelah mereka menjadi pesaing dalam perjalanan menuju K2. Mereka akhirnya memilih mendaki bersama dan berbagi rekor. Sejak itu hubungan keduanya berubah menjadi persahabatan.

Mingma G menyebut Nims sebagai orang yang baik hati. “Saya masih menyesal”. Musim panas tahun ini, keduanya kembali berada di kawasan Karakoram. Mingma G menuju K2. Nims memilih Broad Peak. Sebelum berpisah, Nims meminta Mingma G menunggu satu hari agar mereka bisa bertemu sekali lagi.

Pertemuan itu tidak pernah terjadi. “Itulah hal terakhir yang dia katakan kepada saya. Saya masih menyesal,” kata Mingma G. Kini, ketika seluruh operasi telah berakhir, yang tersisa bagi Mingma G adalah ingatan. Ia teringat ketika mereka bertiga—Mingma G, Nims dan Kilu—bernyanyi bersama dalam perjalanan menuju puncak K2 beberapa tahun lalu.

Mereka berada di tengah suhu beku, tetapi matahari bersinar. Gunung yang sama yang pernah mempertemukan mereka kini menjadi tempat perpisahan. Mingma G bahkan mulai mempertanyakan masa depannya sebagai pendaki.

Operasi membawa pulang jenazah sahabatnya terasa berbeda dari semua misi yang pernah ia jalani. “Saya tidak yakin apakah kenangan itu membantu saya terus mendaki atau justru membuat saya berhenti,” ujarnya.***

Bagikan:

Iklan