klikwartaku.com
Beranda Internasional Iran Manfaatkan Gencatan Senjata untuk Perkuat Rudal dan Drone, Selat Hormuz Tetap Tegang

Iran Manfaatkan Gencatan Senjata untuk Perkuat Rudal dan Drone, Selat Hormuz Tetap Tegang

Iran mengklaim mempercepat produksi rudal dan drone selama gencatan senjata dengan AS. Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan konflik. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat belum benar-benar mengendurkan ketegangan di kawasan. Di tengah pembicaraan diplomatik yang dimediasi Oman, Iran justru mengklaim memanfaatkan jeda pertempuran untuk mempercepat pemulihan kekuatan militernya.

Pemerintah Iran menyatakan produksi rudal dan drone terus berjalan, sementara sejumlah sistem persenjataan yang rusak dalam perang diperbaiki atau diganti. Teheran juga mengaku memasukkan peralatan baru ke dalam struktur angkatan bersenjata.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan negaranya memanfaatkan setiap kesempatan yang muncul selama gencatan senjata. “Kami telah memanfaatkan sepenuhnya peluang dari nota kesepahaman dan setiap momen gencatan senjata,” kata Akraminia dalam siaran televisi pemerintah pekan ini.

Menurut dia, Iran melakukan sejumlah langkah sekaligus: mengintegrasikan peralatan yang tersedia ke dalam angkatan bersenjata, mendatangkan perangkat baru, memperbaiki sistem yang rusak, serta memproduksi sistem persenjataan baru.

Iran juga menyebut telah menggunakan drone generasi baru dalam pertempuran. Spesifikasi drone tersebut, menurut Akraminia, akan diumumkan pada waktu yang dianggap tepat.

Klaim penguatan militer itu bukan pernyataan tunggal. Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran, Majid Ebn-e Reza, sebelumnya mengatakan produksi rudal dan drone tidak pernah terhenti selama perang maupun gencatan senjata.

Produksi drone, kata dia, bahkan telah mencapai tiga kali lipat dibandingkan tingkat sebelum perang. Pemerintah Iran tidak memberikan angka produksi secara rinci. Ebn-e Reza mengatakan serangkaian serangan terhadap Iran tidak berhasil memecah struktur komando militernya.

“Terlepas dari gugurnya para komandan tinggi, angkatan bersenjata tidak hanya tidak kehilangan kekompakannya,” ujarnya, “tetapi juga menghadapi musuh dengan kecepatan, inisiatif, dan kemampuan taktis.”

Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga menyampaikan klaim serupa. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan produksi rudal meningkat selama gencatan senjata. Iran, menurut Mohebbi, juga meningkatkan akurasi rudalnya dengan memanfaatkan pengalaman yang diperoleh selama pertempuran.

Teheran tidak membuka informasi mengenai jumlah persediaan rudal dan drone yang tersisa. Iran juga belum mengungkap secara rinci seberapa besar kerusakan terhadap fasilitas produksi persenjataan dan sistem pertahanan udaranya.

Sejumlah laporan media Amerika Serikat pada Juni menyebut Iran masih memiliki sekitar 70 persen persediaan rudal sebelum perang. Untuk drone, persediaan yang tersisa diperkirakan sekitar 40 persen.

Jika perkiraan tersebut akurat, Iran masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan perang berlarut-larut, terutama melalui pola peperangan asimetris di sekitar Selat Hormuz dan wilayah lain di kawasan. Selama konflik, pesawat berawak dan drone milik Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah negara regional disebut telah melakukan ribuan sorti di wilayah udara Iran.

Sistem pertahanan udara Iran memang mengalami kerusakan. Namun Teheran mengklaim pasukannya masih mampu menghadapi sejumlah serangan udara dan menembak jatuh berbagai jenis drone serta rudal.

Mantan komandan senior IRGC, Hossein Kanani Moghaddam, mengatakan serangan Amerika Serikat dan Israel belum mampu menghentikan kemampuan militer Iran. “Kami telah meningkatkan produksi dan kualitas dalam negeri,” kata Kanani Moghaddam kepada media internasional.

Menurut dia, sejumlah rudal Iran telah ditingkatkan, termasuk dari sisi jangkauan dan daya hancur hulu ledak. Ia juga mengklaim Iran masih memiliki persediaan rudal dan drone yang disimpan di fasilitas bawah tanah.

Penguatan militer Iran berlangsung ketika Washington kembali mendorong tercapainya kesepakatan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memperbarui tekanan terhadap Teheran dengan tuntutan agar Iran segera mencapai kesepakatan atau menghadapi apa yang disebutnya sebagai “penyerahan total”.

Salah satu isu paling sensitif adalah Selat Hormuz. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat mempengaruhi harga minyak dan rantai pasokan energi global.

Amerika Serikat sebelumnya beberapa kali mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan mengenai Selat Hormuz. Namun di lapangan, situasi belum sepenuhnya stabil.

Iran dilaporkan mengizinkan sejumlah kapal menggunakan jalur utara di perairan teritorialnya. Kementerian Perminyakan Irak bahkan menyatakan kapal tanker yang membawa minyak mentah Irak telah melewati jalur tersebut setelah berkoordinasi dengan Teheran.

Sebagian kapal lainnya memilih jalur selatan melalui perairan Oman. Namun Iran memperingatkan bahwa jalur tersebut tidak dapat dianggap aman selama kondisi perang. Kanani Moghaddam menegaskan kemampuan militer Iran telah disebar ke berbagai lokasi.

“Kemampuan rudal kita telah tersebar di seluruh negeri yang luas ini. Komponen rudal diproduksi di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat mereka bayangkan,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, serangan udara berskala besar tidak akan cukup untuk menghancurkan seluruh infrastruktur militer Iran. “Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali melalui serangan militer,” kata Kanani Moghaddam.

Ketegangan juga belum berhenti di Iran. Di Yaman, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran mengklaim melancarkan serangan drone ke Bandara Najran, Arab Saudi. Houthi menyebut serangan itu sebagai respons atas penerbangan drone Saudi di sejumlah wilayah Yaman.

Di Laut Merah, sebuah kapal kargo berbendera India dilaporkan terkena serangan perahu bermuatan bahan peledak sekitar 13 mil laut atau 24 kilometer dari Hodeidah. Kapal tersebut kemudian dilaporkan tenggelam.

India menyatakan seluruh 14 pelaut berhasil diselamatkan. Ketegangan juga muncul di Kuwait. Ledakan dan kebakaran dilaporkan terjadi di dekat perbatasan Kuwait-Irak. Sejumlah laporan mengaitkannya dengan dugaan serangan drone Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Kuwait, Komando Pusat Amerika Serikat maupun IRGC mengenai laporan tersebut. Di Oman, kapal pengangkut barang curah berbendera Liberia mengalami kerusakan di ruang mesin setelah terkena proyektil tak dikenal sekitar 20 mil laut atau 37 kilometer timur laut Khasab.

Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa meski diplomasi berjalan, risiko eskalasi masih terbuka. Amerika Serikat dan Iran mungkin sedang mencari jalan kembali ke meja kesepakatan. Tetapi di belakang diplomasi itu, Teheran justru sedang membangun kembali kekuatan militernya.

Gencatan senjata, bagi Iran, tampaknya bukan sekadar jeda perang. Ia menjadi kesempatan untuk memperbaiki kerusakan, meningkatkan produksi, menguji persenjataan baru, dan mempersiapkan kemungkinan bahwa pertempuran dapat kembali pecah kapan saja.***

Bagikan:

Iklan