klikwartaku.com
Beranda Internasional Inggris Kecam Pernyataan Menteri Israel yang Serukan Lebanon ‘Dibakar’, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Inggris Kecam Pernyataan Menteri Israel yang Serukan Lebanon ‘Dibakar’, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Pemerintah Inggris mengecam keras pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang menyerukan Lebanon “harus terbakar”. Komentar tersebut memicu kecaman internasional di tengah konflik yang terus memanas. Foto: Tangkapan layar YouTube WION

KLIKWARTAKU — Pemerintah Inggris melontarkan kecaman keras terhadap pernyataan kontroversial Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang menyerukan tindakan ekstrem terhadap Lebanon di tengah konflik yang masih berlangsung antara Israel dan kelompok Hizbullah.

Menteri Dalam Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut komentar Ben-Gvir sebagai pernyataan yang “mengerikan dan menjijikkan”, sekaligus memperingatkan bahwa retorika semacam itu berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang sudah sangat rapuh.

Pernyataan tersebut muncul setelah empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Hizbullah di wilayah perbatasan.

Seruan Kontroversial dari Menteri Israel

Dalam unggahan di media sosial X, Itamar Ben-Gvir menyatakan bahwa Lebanon harus menerima konsekuensi besar atas serangan terhadap pasukan Israel.

Ia bahkan menyerukan agar seluruh Lebanon “terbakar” serta menegaskan bahwa Israel tidak boleh melepaskan wilayah yang telah direbut militernya. Ben-Gvir juga secara terbuka menolak kesepakatan diplomatik yang sedang diupayakan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pernyataan tersebut segera memicu gelombang kritik dari berbagai pihak karena dianggap dapat menghambat upaya perdamaian yang tengah dibangun di kawasan.

Iran Sebut Ancaman bagi Kemanusiaan

Kecaman juga datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menilai ucapan Ben-Gvir bukan sekadar pernyataan emosional, melainkan representasi sikap resmi dari salah satu pejabat senior pemerintah Israel.

Menurut Araghchi, kelompok politik garis keras di Israel menjadi ancaman bagi stabilitas regional dan global karena terus mendorong eskalasi konflik. Ia menuduh kelompok tersebut hanya memiliki satu kepentingan utama, yakni mempertahankan kondisi perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Israel Tegaskan Warga Lebanon Tidak Akan Kembali

Di tengah polemik tersebut, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mengeluarkan pernyataan yang memicu kontroversi. Katz menyatakan bahwa sekitar 200.000 warga Lebanon yang mengungsi dari wilayah selatan tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka selama situasi keamanan belum berubah.

Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran komunitas internasional mengenai masa depan penduduk sipil yang terdampak konflik dan potensi perubahan demografi di kawasan perbatasan.

Seruan Lebih Keras dari Menteri Keuangan Israel

Sementara itu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, kembali menggunakan retorika keras dengan menyerukan “dibukanya pintu neraka” terhadap Lebanon. Ungkapan tersebut sebelumnya pernah digunakan Smotrich dalam konteks operasi militer Israel di Gaza pada tahun 2025 dan kembali menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia serta pengamat internasional.

Konflik Israel-Lebanon Terus Menelan Korban

Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon terus meningkat sejak operasi militer besar Israel terhadap Hizbullah dimulai pada 2 Maret 2026.

Menurut data otoritas Lebanon, konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan lebih dari 1.200 orang tewas dan memaksa lebih dari 1,2 juta warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di wilayah yang lebih aman.

Meski berbagai upaya diplomatik terus dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, peluang tercapainya perdamaian masih menghadapi tantangan besar. Pernyataan-pernyataan provokatif dari para pejabat senior di kedua kubu dinilai berisiko memperburuk situasi dan memperkecil peluang keberhasilan proses negosiasi.

Para pengamat menilai bahwa retorika yang mengarah pada eskalasi konflik justru dapat menghambat upaya gencatan senjata yang selama ini diperjuangkan oleh komunitas internasional. Di tengah meningkatnya korban sipil dan krisis kemanusiaan, tekanan terhadap semua pihak untuk menahan diri semakin menguat demi mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.***

Bagikan:

Iklan