Piala Dunia 2026 Pecah Loyalitas Diaspora Bosnia di Kanada, Ribuan Suporter Serukan “Bebaskan Palestina”
KLIKWARTAKU — Laga pembuka Piala Dunia 2026 di Toronto menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Ribuan pendukung Bosnia dan Herzegovina memenuhi jalanan kota Kanada itu dengan warna biru khas tim nasional mereka sambil meneriakkan slogan “Bebaskan Palestina” sebelum pertandingan dimulai.
Atmosfer emosional terasa kuat di sekitar Stadion Toronto ketika para pendukung Bosnia berpawai menuju arena pertandingan diiringi nyanyian, tepuk tangan, dan bendera biru-kuning yang berkibar di tengah dominasi warna merah para pendukung Kanada.
Bagi sebagian diaspora Bosnia yang kini tinggal di Kanada, pertandingan tersebut menjadi simbol pergulatan identitas antara negara kelahiran dan negara yang memberi mereka perlindungan setelah tragedi perang Bosnia pada 1990-an.
Salah satu pendukung Bosnia bernama Nadia mengaku emosinya campur aduk saat menyaksikan tim nasional negaranya bermain melawan Kanada di Piala Dunia 2026. Dengan bendera Bosnia melilit tubuhnya dan topi Kanada di kepalanya, Nadia mengatakan dirinya merasa memiliki “dua rumah”.
“Seandainya saya punya ruang untuk dua hati agar bisa mendukung kedua negara saya dengan sepenuhnya,” ujarnya.
Nadia merupakan bagian dari diaspora Bosnia yang datang ke Kanada saat masih kecil setelah keluarganya melarikan diri dari genosida Bosnia pada pertengahan 1990-an. Konflik tersebut menewaskan sekitar 100 ribu orang dan menyebabkan lebih dari dua juta warga mengungsi.
Meski kini menetap di Kanada, Nadia mengaku hatinya tetap bersama Bosnia. Namun, topi Kanada yang dikenakannya menjadi simbol rasa terima kasih kepada negara yang menerima keluarganya saat perang berkecamuk.
Di tengah euforia sepak bola, dukungan terhadap Palestina juga menjadi sorotan utama. Ribuan suporter Bosnia berulang kali meneriakkan “Free Palestine” sepanjang perjalanan menuju stadion. “Mereka harus bebas. Sudah cukup perang dan genosida,” kata Nadia sambil menahan tangis.
Menurutnya, penderitaan warga sipil Palestina, terutama anak-anak, mengingatkannya pada tragedi yang pernah dialami rakyat Bosnia beberapa dekade lalu. Pertandingan itu juga menjadi gambaran kuat tentang identitas multikultural Toronto. Beragam bahasa, warna kulit, dan budaya bercampur di dalam stadion maupun area festival suporter di pusat kota.
Seorang pendukung Bosnia lainnya bernama Dan datang bersama putranya untuk menikmati atmosfer Piala Dunia pertama yang digelar Kanada. Ia mengingat masa kecilnya ketika harus melarikan diri dari Bosnia akibat perang.
Meski pertandingan berakhir imbang dan meninggalkan sedikit rasa kecewa, Dan tetap menikmati suasana penuh persaudaraan di antara kedua kubu suporter. Para penggemar Bosnia dan Kanada bahkan terlihat saling bertukar jersey serta berfoto bersama usai pertandingan.
Atmosfer hangat itu juga dirasakan Admir, suporter Bosnia yang datang dari New Jersey, Amerika Serikat. Menurutnya, keramahan warga Kanada terasa sejak pertama kali ia tiba di Toronto. “Mulai dari masyarakat biasa, staf stadion, hingga pemilik restoran, semuanya sangat ramah,” katanya.
Admir juga membandingkan pengalamannya dengan berbagai cerita sulit yang dialami sebagian pendukung sepak bola saat memasuki Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
Meski Bosnia pernah tampil di delapan laga Piala Dunia sebelumnya, ia rela membayar tiket mahal demi menyaksikan langsung negaranya kembali berlaga di turnamen terbesar sepak bola dunia setelah absen selama 12 tahun.
Semangat yang sama juga dirasakan Tanya, pendukung Bosnia yang rela berkendara selama tujuh jam dari New York menuju Toronto hanya untuk menyaksikan pertandingan tersebut. “Atmosfer di festival penggemar luar biasa. Toronto benar-benar hebat,” ujarnya.
Meski Bosnia gagal meraih kemenangan, Tanya tetap bangga dengan penampilan timnya. “Kami memang tidak menang, tetapi setidaknya juga tidak kalah,” katanya sambil tersenyum.
Bagi banyak diaspora Bosnia, laga pembuka Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang sepak bola, melainkan juga tentang kenangan, identitas, dan perjalanan panjang menemukan rumah baru setelah tragedi perang.***










