klikwartaku.com
Beranda Internasional Ratusan Warga Malawi Dipulangkan dari Afrika Selatan akibat Ancaman Xenofobia

Ratusan Warga Malawi Dipulangkan dari Afrika Selatan akibat Ancaman Xenofobia

Sebanyak 171 warga Malawi dipulangkan dari Afrika Selatan setelah meningkatnya kekerasan dan intimidasi terhadap migran asing di Western Cape. Foto: Tangkapan layar YouTube DW Africa

KLIKWARTAKU — Sebanyak 171 warga Malawi dipulangkan dari Afrika Selatan pada Selasa waktu setempat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap aksi xenofobia dan kekerasan terhadap migran asing di negara tersebut.

Pemerintah Malawi menyebut para warga itu merupakan bagian dari kelompok migran asing yang sebelumnya mengungsi di kamp sementara di wilayah Mossel Bay, Provinsi Western Cape, setelah muncul laporan intimidasi dari rumah ke rumah serta aksi kekerasan terhadap warga asing.

Pemulangan tersebut menjadi gelombang pertama dalam program “repatriasi sukarela” yang dilakukan pemerintah Malawi bagi warganya yang terdampak ketegangan anti-migran di Afrika Selatan.

Dalam pernyataan resmi pemerintah Malawi, kelompok yang dipulangkan terdiri atas 115 laki-laki, 43 perempuan, dan 13 anak-anak. Foto yang dibagikan pemerintah Malawi di media sosial memperlihatkan antrean panjang warga di sebuah stadion kosong yang dijadikan lokasi registrasi setibanya mereka di tanah air.

Ketegangan terhadap migran di Afrika Selatan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Kelompok anti-imigran di negara itu mendesak para migran tanpa dokumen untuk meninggalkan Afrika Selatan dan menetapkan 30 Juni sebagai batas waktu. Situasi memanas setelah muncul laporan intimidasi di sejumlah wilayah Western Cape, termasuk kabar tewasnya dua warga Mozambik di Mossel Bay.

Selain Malawi, sejumlah negara Afrika lain juga mulai mengevakuasi warganya dari Afrika Selatan. Zimbabwe telah memulangkan 74 warganya pada Ahad lalu menggunakan transportasi yang disiapkan pemerintah. Banyak keluarga mengaku meninggalkan Western Cape karena khawatir terhadap keselamatan mereka dan anak-anak mereka.

Pemerintah Ghana sebelumnya juga mengatur penerbangan repatriasi dari Johannesburg untuk hampir 300 warganya. Pada akhir pekan lalu, sekitar 680 warga Ghana lainnya tiba di ibu kota Accra.

Nigeria pun telah menyiapkan lima penerbangan evakuasi untuk memulangkan warganya. Presiden Nigeria Bola Tinubu menyetujui operasi evakuasi tersebut setelah lebih dari 500 warga Nigeria terdaftar untuk dipulangkan. Namun penerbangan pertama yang semula dijadwalkan berlangsung Senin terpaksa ditunda hingga Rabu karena kendala logistik.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Ahad lalu menyampaikan pidato nasional untuk meredakan ketegangan. Ia mengumumkan sejumlah langkah baru guna menindak migrasi ilegal, termasuk mempercepat deportasi migran tanpa dokumen.

Meski demikian, Ramaphosa juga memperingatkan warga agar tidak main hakim sendiri. “Tidak ada ruang bagi xenofobia, rasisme, afrofobia, seksisme, atau segala bentuk intoleransi lainnya di negara ini,” kata Ramaphosa.

Pemerintah Afrika Selatan juga mempertimbangkan meminta negara asal migran membantu membiayai proses deportasi warga mereka. Wakil Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan Njabulo Nzuza mengatakan skema tersebut sedang dibahas untuk menutupi biaya pemulangan migran ilegal.

Ketegangan diplomatik sempat muncul antara Afrika Selatan dan Ghana setelah Menteri Luar Negeri Afrika Selatan Ronald Lamola menuding pemerintah Ghana menyebarkan informasi yang dinilai berlebihan terkait aksi xenofobia.

Lamola membantah laporan mengenai sejumlah warga Nigeria dan Mozambik yang disebut tewas akibat kekerasan anti-migran. Ia juga menyatakan pemerintahnya tidak menerima informasi mengenai warga Ghana yang dirawat di rumah sakit akibat serangan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ghana Samuel Okudzeto Ablakwa meminta Uni Afrika menyelidiki dugaan kekerasan terhadap warga asing di Afrika Selatan. Ia juga mendesak kompensasi bagi warga Ghana yang kehilangan harta benda saat dipulangkan.

Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir berulang kali menghadapi gelombang sentimen anti-migran yang dipicu tingginya angka pengangguran, kriminalitas, dan tekanan ekonomi domestik.***

Bagikan:

Iklan