klikwartaku.com
Beranda Internasional Lebih Dekat Indonesia! Great Nicobar Jadi Taruhan Strategis India di Selat Malaka, Ancaman Baru bagi Tiongkok?

Lebih Dekat Indonesia! Great Nicobar Jadi Taruhan Strategis India di Selat Malaka, Ancaman Baru bagi Tiongkok?

India membangun proyek senilai Rp178 triliun di Great Nicobar untuk memperkuat posisi strategis dekat Selat Malaka. Proyek ini memicu kritik soal lingkungan dan nasib suku adat. Foto: Tangkapan layar YouTube Republic World

KLIKWARTAKU — Pemerintah India tengah mengubah Pulau Great Nicobar menjadi proyek strategis bernilai besar yang dipandang dapat memperkuat posisi New Delhi di jalur perdagangan internasional dekat Selat Malaka. Namun proyek senilai 11 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp178,2 triliun itu juga memicu kontroversi besar terkait lingkungan hidup dan keberlangsungan masyarakat adat di kawasan tersebut.

Great Nicobar merupakan titik paling selatan wilayah India yang letaknya justru lebih dekat dengan Indonesia, Thailand, dan Malaysia dibanding daratan utama India. Pulau seluas hampir 1.000 kilometer persegi itu kini menjadi pusat perhatian geopolitik Indo-Pasifik di tengah meningkatnya rivalitas India dan Tiongkok.

Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah menyetujui pembangunan pelabuhan transshipment laut dalam, bandara sipil-militer, pembangkit listrik, kawasan wisata, serta kota baru yang diproyeksikan mampu menampung 350 ribu penduduk dalam beberapa dekade mendatang.

Awalnya proyek tersebut dipromosikan sebagai pusat ekonomi maritim yang dapat menyaingi Singapura, Kolombo di Sri Lanka, hingga Hong Kong. Namun dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah India mulai menekankan dimensi strategis dan militernya.

Pemerintah India menyebut proyek Great Nicobar akan memperkuat keamanan nasional dan memperluas pengaruh India di kawasan Laut Andaman serta Asia Tenggara. Lokasi pulau itu dinilai sangat penting karena berada di dekat pintu masuk Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Sekitar sepertiga perdagangan global dan sebagian besar pengiriman minyak dunia melewati Selat Malaka. Jalur ini juga sangat vital bagi Tiongkok karena sekitar 80 persen impor minyak mentah Negeri Tirai Bambu melewati kawasan tersebut.

Mantan Wakil Kepala Angkatan Laut India, Shekhar Sinha, menyebut Great Nicobar memberi keuntungan strategis bagi India untuk memantau aktivitas maritim di kawasan Indo-Pasifik. “Pulau ini berada tepat di mulut Selat Malaka dan memungkinkan India meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas laut internasional,” kata Sinha.

Sejumlah analis India bahkan mulai membandingkan posisi Great Nicobar dengan Selat Hormuz yang selama ini menjadi alat tawar strategis Iran dalam menghadapi Barat. Meski demikian, Sinha menilai India tidak mungkin memblokade Selat Malaka karena jalur itu berada di wilayah Indonesia dan penting pula bagi ekonomi India sendiri.

Di sisi lain, proyek besar tersebut memunculkan kekhawatiran serius dari aktivis lingkungan dan kelompok hak masyarakat adat. Pemerintah India diperkirakan akan menebang hampir 964 ribu pohon demi pembangunan infrastruktur di pulau tersebut.

Sebagian wilayah proyek juga berada di kawasan cagar suku Shompen, kelompok pemburu-pengumpul semi nomaden yang hidup terisolasi di hutan Great Nicobar. Para pengkritik menyebut proyek ini berpotensi menghancurkan habitat alami sekaligus mengancam keberlangsungan komunitas adat.

Pada Februari 2024, puluhan pakar genosida internasional mengirim surat kepada Presiden India Droupadi Murmu. Mereka memperingatkan proyek itu dapat menjadi “hukuman mati” bagi suku Shompen. Selain ancaman sosial dan ekologis, para ahli juga menyoroti risiko geologis Great Nicobar. Pulau tersebut berada di zona seismik level lima, kategori tertinggi untuk ancaman gempa bumi.

Wilayah itu juga pernah terdampak tsunami Samudra Hindia 2004 yang menyebabkan sebagian daratan di sekitar Indira Point tenggelam lebih dari empat meter. Mercusuar Indira Point yang dulu berada di daratan kini sebagian terendam air laut.

Pemimpin oposisi India Rahul Gandhi turut mengkritik proyek tersebut setelah mengunjungi Great Nicobar beberapa waktu lalu. Menurut Gandhi, pembangunan besar-besaran di pulau itu lebih menyerupai penghancuran lingkungan berkedok pembangunan ekonomi.

“Pemerintah menyebut ini proyek pembangunan, tetapi masyarakat kehilangan rumah dan tanah mereka,” tulis Gandhi melalui akun media sosial X.

Sementara itu, analis geopolitik dari Observer Research Foundation, Harsh Pant, menilai India memang perlu memperkuat posisi strategisnya di Indo-Pasifik seiring meningkatnya persaingan global dan ketegangan regional. Menurut Pant, pengembangan Great Nicobar dapat meningkatkan kemampuan militer India dalam memantau aktivitas di Samudra Hindia hingga Asia Tenggara.

Namun kritik terhadap proyek tersebut terus menguat. Peneliti kepulauan Andaman dan Nicobar, Manish Chandi, menilai proyek itu lebih didorong kepentingan ekonomi dibanding pertahanan nasional. “Ini proposal komersial dengan dampak destruktif yang besar,” kata Chandi. “Beban lingkungan dan sosialnya akan jauh lebih besar daripada manfaatnya.”

Di tengah rivalitas India dan Tiongkok yang terus meningkat, Great Nicobar kini menjadi simbol baru perebutan pengaruh di Indo-Pasifik. Tetapi pertanyaan besarnya tetap sama: apakah keuntungan strategis sepadan dengan risiko ekologis dan kemanusiaan yang harus dibayar? ***

Bagikan:

Iklan