klikwartaku.com
Beranda Internasional IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Harga Energi Melonjak akibat Perang

IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Harga Energi Melonjak akibat Perang

Negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel cadangan minyak darurat untuk menekan lonjakan harga energi akibat konflik yang mengganggu pasokan global. Foto: Tangkapan layar YouTube CTV News

KLIKWARTAKU — Puluhan negara sepakat melepas cadangan minyak darurat dalam jumlah besar guna menekan lonjakan harga energi dan mengatasi gangguan pasokan global. Kesepakatan ini diambil oleh 32 negara anggota International Energy Agency (IEA) setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi minyak dunia.

Dalam keputusan tersebut, negara anggota—termasuk Amerika Serikat dan Inggris—akan melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka. Jumlah ini menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah IEA.

Langkah tersebut diambil setelah konflik antara Israel dan Iran menyebabkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz—jalur yang membawa sekitar 25 persen pasokan minyak dunia melalui laut—hampir terhenti. Akibat gangguan tersebut, harga minyak global dilaporkan melonjak hampir 25 persen sejak perang dimulai.

Hanya Cukup untuk Beberapa Hari Pasokan

Meski jumlahnya besar, para analis menilai pelepasan cadangan minyak ini hanya memberikan dampak jangka pendek. Volume 400 juta barel diperkirakan setara dengan tiga hingga empat hari kebutuhan minyak global atau sekitar dua pekan pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Negara anggota IEA diwajibkan menyimpan cadangan minyak setara 90 hari konsumsi nasional untuk menghadapi gangguan pasokan global. Secara kolektif, negara anggota menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel minyak dalam cadangan darurat, ditambah sekitar 600 juta barel stok industri yang berada di bawah kewajiban pemerintah.

Namun, para analis mengingatkan bahwa pelepasan cadangan dalam jumlah besar tidak dapat dilakukan berulang kali. “Begitu cadangan itu dilepas, maka stok tersebut tidak lagi tersedia,” kata Nick Butler, mantan kepala strategi di perusahaan energi BP.

Tantangan Kapasitas Kilang

Minyak cadangan tersebut tidak disimpan di satu lokasi. Sejumlah perusahaan energi seperti Shell dan BP menyimpan stok di terminal serta kilang di berbagai negara. Ketika cadangan dilepas, pasokan tidak langsung membanjiri pasar. Produsen hanya meningkatkan ketersediaan minyak bagi kilang untuk dipesan.

Namun para analis energi menilai pasar juga menghadapi keterbatasan kapasitas penyulingan, sehingga tambahan pasokan belum tentu langsung menurunkan harga secara signifikan. Analis energi dari Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan pelepasan cadangan memang membantu, tetapi belum mampu sepenuhnya menutup gangguan pasokan global.

Harga Gas Ikut Terdampak

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan keputusan tersebut tidak akan banyak membantu pasar gas global yang saat ini juga berada dalam kondisi sulit. Menurut dia, konflik geopolitik telah menyebabkan pasokan liquefied natural gas (LNG) global turun sekitar 20 persen.

Harga acuan LNG di Inggris bahkan dilaporkan melonjak sekitar 70 persen sejak konflik dimulai, meskipun masih berada di bawah level tertinggi yang pernah terjadi setelah Perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Menteri Energi Inggris Ed Miliband mengatakan negaranya akan terus bekerja sama dengan sekutu internasional untuk menstabilkan pasar energi global. “Inggris mengambil bagian dalam upaya bersama dengan para mitra internasional untuk mengatasi gangguan di pasar minyak dunia,” kata Miliband.***

Bagikan:

Iklan