AS dan Iran Sepakat Gelar Perundingan Nuklir di Oman, Trump Kirim Peringatan Keras ke Khamenei
KLIKWARTAKU — Amerika Serikat dan Iran akhirnya menyepakati pelaksanaan perundingan nuklir yang akan digelar di Muscat, Oman, pada Jumat mendatang. Kesepakatan ini tercapai di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pertemuan akan dimulai pukul 10.00 waktu setempat. Pemerintah Amerika Serikat juga mengonfirmasi Muscat sebagai lokasi perundingan, mengakhiri spekulasi setelah kedua pihak sempat berselisih soal tempat dan kerangka pembahasan.
Sebelumnya, prospek dialog sempat diragukan. Trump memperkuat kehadiran militer AS di kawasan dan mengancam akan mengambil langkah militer jika Iran menolak kesepakatan terkait program nuklirnya. Ia juga menuding Teheran terus menindak keras demonstran di dalam negeri.
“Dia seharusnya sangat khawatir,” ujar Trump ketika ditanya apakah Khamenei perlu mencemaskan ancaman AS. “Mereka tahu, mereka sedang bernegosiasi dengan kami.”
Khamenei sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan memicu perang regional yang lebih luas. Seorang diplomat Arab mengatakan bahwa perundingan sejatinya tidak pernah benar-benar dibatalkan, meski sempat berada dalam kondisi tidak pasti sebelum akhirnya kembali dijadwalkan.
Sejumlah laporan menyebutkan, perundingan kembali ke jalur setelah beberapa pemimpin Arab dan Muslim mendesak Washington agar tidak meninggalkan meja dialog. Namun, pemerintahan Trump dikabarkan tetap skeptis terhadap peluang keberhasilan negosiasi tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan perundingan tidak boleh hanya berfokus pada isu nuklir. Menurutnya, pembahasan harus mencakup program rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta situasi hak asasi manusia di dalam negeri Iran.
Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapannya membahas pelarangan senjata nuklir, namun menolak tuntutan lain yang dinilai berlebihan. Araghchi menegaskan Teheran sepakat dengan prinsip “tanpa senjata nuklir”, dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Iran bersikukuh bahwa program nuklirnya bersifat damai. Namun Trump kembali mengklaim bahwa sebelum serangan udara AS dan Israel pada Juni lalu, Iran berada di ambang kepemilikan senjata nuklir. Serangan tersebut, menurut Trump, menghancurkan fasilitas pengayaan uranium Iran, meski ia menuding Teheran berupaya membangun kembali lokasi baru secara diam-diam.
Di tengah ketegangan geopolitik ini, situasi dalam negeri Iran juga menjadi sorotan. Gelombang protes besar pecah akibat anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya biaya hidup, yang kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan politik. Penindakan keras aparat keamanan memicu kecaman internasional, dengan laporan ribuan korban jiwa, meski angka resmi dari pemerintah Iran lebih rendah.
Perundingan di Oman dinilai menjadi momen krusial bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Hasil dialog ini akan menentukan apakah ketegangan antara Washington dan Teheran mereda, atau justru kembali memanas dengan risiko konflik yang lebih luas.***








