Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 17 Orang Meski Gencatan Senjata Berlaku
KLIKWARTAKU — Sedikitnya 17 orang tewas, termasuk dua anak-anak, akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Kamis, di tengah berlakunya gencatan senjata yang kini memasuki pekan kedua.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, selain korban tewas, sebanyak 35 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk sembilan anak-anak dan delapan perempuan. Serangan tersebut disebut menargetkan infrastruktur milik kelompok Hizbullah.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Israel, termasuk menggunakan drone yang menyasar tentara di distrik Bint Jbeil.
Kekerasan ini terjadi meskipun gencatan senjata telah diumumkan sejak 16 April, menyusul perundingan langsung antara perwakilan Lebanon dan Israel di Washington, Amerika Serikat. Namun, operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon masih terus berlangsung.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam apa yang disebutnya sebagai “pelanggaran berkelanjutan” oleh Israel terhadap kesepakatan tersebut. Ia menyebut serangan udara serta penghancuran rumah dan tempat ibadah masih terjadi.
“Tekanan internasional harus diberikan kepada Israel agar mematuhi hukum dan konvensi internasional serta menghentikan serangan terhadap warga sipil, tenaga medis, dan organisasi kemanusiaan,” kata Aoun.
Pada hari yang sama, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi 15 desa di Lebanon selatan. Sejumlah desa tersebut berada di luar zona yang disebut “Garis Kuning”, yakni wilayah sekitar 10 kilometer dari perbatasan yang masih dianggap Israel sebagai area operasi militer.
Israel menyatakan langkah tersebut diambil sebagai respons atas dugaan pelanggaran oleh Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran. Meski tidak terlibat langsung dalam perjanjian gencatan senjata, Hizbullah sebelumnya menyatakan akan mematuhi kesepakatan selama Israel juga melakukannya.
Walau gencatan senjata berhasil meredakan serangan di Beirut dan wilayah pinggirannya, konflik di Lebanon selatan belum mereda. Serangan udara dan perintah evakuasi terus terjadi, memicu perdebatan apakah tindakan tersebut melanggar kesepakatan atau masih dalam batas yang diizinkan.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat memungkinkan Israel merespons ancaman yang dianggap “segera atau sedang berlangsung”. Namun Hizbullah menolak interpretasi tersebut.
Situasi ini juga memperlihatkan perbedaan sikap di internal Lebanon. Presiden Aoun mendukung dialog langsung dengan Israel untuk mencapai kesepakatan permanen. Sebaliknya, Ketua Parlemen Nabih Berri yang bersekutu dengan Hizbullah menolak perundingan langsung dan memperingatkan risiko politiknya.
Konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah pecah pada 2 Maret dengan serangan udara besar-besaran Israel dan operasi darat ke Lebanon selatan. Sejak itu, lebih dari 2.500 orang dilaporkan tewas di Lebanon, termasuk 103 tenaga kesehatan.
Data pemerintah Lebanon menyebut korban mencakup sedikitnya 270 perempuan dan lebih dari 170 anak-anak, tanpa membedakan antara warga sipil dan kombatan. Sementara itu, militer Israel melaporkan satu tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan pada Kamis, sehingga total korban di pihak Israel sejak awal Maret menjadi 17 orang.***








