klikwartaku.com
Beranda Internasional Serangan Drone Ukraina Perparah Krisis BBM di Wilayah Pendudukan Rusia

Serangan Drone Ukraina Perparah Krisis BBM di Wilayah Pendudukan Rusia

Serangan drone Ukraina terhadap jalur logistik Rusia memicu krisis bahan bakar di Krimea dan wilayah pendudukan. Warga harus antre hingga 10 jam di SPBU. Foto: Tangkapan layar YouTube Kanal13

KLIKWARTAKU — Krisis bahan bakar di wilayah pendudukan Rusia semakin memburuk setelah Ukraina meningkatkan serangan drone terhadap jalur logistik dan distribusi pasokan energi Moskow di wilayah selatan.

Krimea, wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014, menjadi daerah yang paling terdampak akibat gangguan distribusi bahan bakar tersebut. Warga dilaporkan harus mengantre hingga 10 jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mendapatkan bensin maupun solar.

Gangguan pasokan terjadi setelah Ukraina melancarkan serangkaian serangan terhadap jalan raya dan jembatan penting yang menghubungkan Kota Rostov di Rusia selatan dengan Krimea melalui pelabuhan Mariupol yang diduduki Rusia.

Analis lembaga kajian Atum Mundi yang berbasis di Prancis, Clément Molin, menyebut jalur tersebut sebagai “tulang punggung” pendudukan Rusia di wilayah selatan Ukraina.

Menurut Molin, Ukraina telah melakukan sekitar 300 serangan drone terhadap truk logistik Rusia sejak awal Mei, termasuk sedikitnya 30 truk tangki bahan bakar. Intensitas serangan disebut meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, mengklaim lalu lintas logistik militer Rusia di jalur tersebut turun hingga 71 persen antara akhir Mei hingga awal Juni. Dampaknya kini mulai dirasakan luas di Krimea. Selain menjadi basis strategis peluncuran drone dan rudal Rusia ke wilayah Ukraina, Krimea juga merupakan destinasi wisata populer bagi warga Rusia pada musim panas.

Namun krisis bahan bakar membuat aktivitas warga dan wisatawan terganggu. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU di Krimea.

Seorang warga Simferopol mengatakan kini ia memilih berjalan kaki ke tempat kerja karena sulit mendapatkan bahan bakar. “Saya sekarang berjalan kaki ke kantor. Memang kurang nyaman dibanding mengemudi, tapi tidak terlalu masalah. Tinggal beli kuda saja sekarang,” ujarnya kepada situs independen Bereg.

Sebagian besar SPBU di Krimea kini membatasi pembelian bahan bakar maksimal 20 liter per orang menggunakan voucher prabayar, jika stok tersedia.

Wisatawan Rusia yang sudah berada di Krimea sebelum krisis juga dilaporkan kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk meninggalkan wilayah tersebut. Otoritas lokal yang dipasang Moskow bahkan membuka hotline khusus untuk membantu para turis. Kelangkaan pasokan memicu lonjakan harga bensin dan solar di sejumlah wilayah.

Kepala pemerintahan Krimea bentukan Rusia, Sergei Aksyonov, mengakui pasokan bahan bakar saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Sayangnya, permintaan bahan bakar belum bisa dipenuhi sepenuhnya pada saat ini,” kata Aksyonov pada 5 Juni lalu. Ia juga mengatakan ratusan bus terpaksa tidak beroperasi karena kekurangan bahan bakar.

Kementerian Energi Rusia untuk pertama kalinya mengakui adanya gangguan pasokan energi di “wilayah selatan” pada 8 Juni. Pernyataan itu diyakini merujuk pada wilayah pendudukan Rusia di Ukraina. Menurut kementerian tersebut, serangan udara Ukraina terhadap fasilitas energi menyebabkan kesulitan sementara dalam distribusi bahan bakar.

Selain jalur darat, opsi distribusi lain juga semakin terbatas. Jalur laut menuju Krimea dianggap terlalu berbahaya setelah sejumlah kapal feri dihancurkan Ukraina. Sementara Jembatan Kerch yang menghubungkan Krimea dengan daratan utama Rusia juga kerap menjadi sasaran ancaman serangan Ukraina.

Pakar industri minyak Rusia dari Harvard University, Craig Kennedy, mengatakan pengiriman truk tangki melalui Jembatan Kerch saat ini sangat berisiko. “Tidak ada yang ingin mengirim truk penuh solar melintasi Jembatan Kerch sekarang. Itu seperti mencari masalah,” ujarnya.

Serangan Ukraina juga mulai memengaruhi kemampuan tempur pasukan Rusia. Kanal analisis militer pro-Kremlin Rybar menyebut krisis logistik kini menghantam kebutuhan sipil dan militer sekaligus. “Serangan yang membuat SPBU kosong bagi warga sipil juga memengaruhi pasokan untuk pasukan Rusia di selatan,” tulis Rybar di Telegram.

Pada 6 hingga 9 Juni, Ukraina dilaporkan kembali menyerang jembatan penting di Chonhar, Krimea utara, yang menjadi penghubung utama jalur logistik Rusia. Serangan itu membuat lalu lintas di jembatan dihentikan sementara.

Selain menyerang jalur distribusi, Ukraina juga terus menggempur kilang minyak dan depot bahan bakar Rusia menggunakan drone jarak jauh selama beberapa bulan terakhir. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan hampir 40 persen kapasitas utama pengolahan minyak Rusia lumpuh pada Mei akibat serangan tersebut.

Menurut Craig Kennedy, strategi Ukraina kini mulai bergeser dari menyerang kilang besar ke jaringan distribusi bahan bakar lokal. “Dampaknya menjadi lebih terkonsentrasi terhadap populasi lokal dan militer Rusia di wilayah seperti Krimea,” katanya. Serangan drone juga dilaporkan terjadi di wilayah pendudukan lain seperti Luhansk dan Kherson.

Komandan batalion drone Ukraina “Raid”, Yevhen Karas, mengatakan target utama pasukannya adalah gudang logistik Rusia, tangki bahan bakar, serta fasilitas militer. “Target utama kami adalah penyimpanan minyak, tangki bahan bakar, bangunan, bahkan bunker kecil tempat perwira Rusia berada,” ujarnya.

Meski demikian, Rusia menuduh serangan Ukraina juga menewaskan warga sipil di wilayah pendudukan, termasuk dugaan serangan terhadap bus dan kereta penumpang.

Karas tidak mengomentari insiden tertentu, namun mengakui risiko salah sasaran tetap ada dalam operasi di kawasan logistik militer yang padat. “Kesalahan bisa terjadi, tetapi bukan berarti kami sengaja menargetkan kendaraan sipil,” katanya.

Akibat situasi keamanan yang memburuk, otoritas bentukan Rusia di Luhansk kini melarang layanan bus di dua jalan utama menuju Mariupol dan Krimea serta meminta warga menghindari jalur tersebut demi alasan keamanan.

Serangan jarak menengah dan jauh Ukraina terhadap logistik Rusia dinilai tidak hanya melemahkan kemampuan tempur Moskow, tetapi juga menjalankan strategi Presiden Zelensky untuk “membawa perang kembali ke Rusia”. ***

Bagikan:

Iklan