Rusia Tuduh Barat Persenjatai Eks ISIS untuk Lawan Iran, Benarkah Ada Operasi Rahasia?
KLIKWARTAKU — Kepala Dinas Keamanan Federal Rusia atau FSB, Alexander Bortnikov, menuduh negara-negara Barat berupaya memanfaatkan mantan pejuang kelompok ISIS untuk melawan Iran. Namun, tuduhan tersebut diragukan sejumlah analis karena dinilai tidak disertai bukti yang jelas.
Dalam pertemuan pejabat intelijen dari delapan negara bekas Uni Soviet pada 26 Mei lalu, Bortnikov mengatakan badan intelijen Barat berusaha menggunakan mantan militan ISIS dari Suriah sebagai kekuatan proksi dalam konflik melawan Teheran.
“Dinas intelijen Barat tidak menyerah dalam upaya memanfaatkan militan teroris dari Suriah sebagai kekuatan proksi dalam perang melawan Iran,” kata Bortnikov seperti dikutip kantor berita pemerintah Rusia, RIA Novosti.
Meski demikian, Bortnikov tidak menyebut negara Barat mana yang dimaksud maupun memberikan bukti konkret seperti dokumen intelijen, rekaman komunikasi, atau foto.
Pernyataan itu muncul beberapa bulan setelah Amerika Serikat mulai memindahkan ribuan tahanan terkait ISIS dari pusat penahanan di Suriah timur laut ke Irak. Langkah tersebut dilakukan setelah Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa memutuskan bergabung dengan koalisi anti-ISIS dan berupaya mengambil kembali wilayah timur laut yang dikuasai pasukan Kurdi.
Militer AS sebelumnya menyebut sekitar 9.000 pejuang ISIS ditahan di wilayah tersebut. FSB sendiri merupakan penerus utama badan intelijen Soviet KGB, tempat Presiden Rusia Vladimir Putin dan Bortnikov pernah bertugas pada era 1980-an.
Namun, sejumlah pengamat mempertanyakan kredibilitas klaim tersebut. Mantan perwira KGB sekaligus eks anggota parlemen Rusia, Gennady Gudkov, mengatakan pernyataan Bortnikov lebih bersifat propaganda dibanding laporan intelijen yang dapat diverifikasi. “Ini hanya kata-kata tanpa bukti apa pun,” kata Gudkov.
Gudkov menilai lembaga keamanan Rusia saat ini minim pengawasan sehingga pejabat intelijen dapat menyampaikan klaim tanpa verifikasi independen. “Ketika kontrol terhadap mereka hilang, mereka memahami bahwa mereka bisa mengatakan apa saja tanpa ada yang memeriksa,” ujarnya.
Bortnikov juga mengulangi tuduhan lama Rusia bahwa Barat berperan dalam kemunculan ISIS di Irak dan Suriah. Menurut dia, sejarah ISIS bermula dari kamp-kamp penahanan di Irak yang diawasi koalisi pimpinan Amerika Serikat setelah invasi ke negara tersebut.
Sejumlah analis menilai pernyataan Bortnikov kemungkinan berasal dari laporan agen intelijen Rusia yang pernah menyusup ke jaringan kelompok radikal di Suriah dan Irak.
Pakar dari Universitas Bremen, Jerman, Nikolay Mitrokhin, mengatakan intelijen Rusia selama bertahun-tahun membiarkan sejumlah warga dari kawasan Kaukasus Utara bergabung dengan ISIS sambil merekrut sebagian dari mereka sebagai informan. “Pernyataan dinas rahasia Rusia sering kali penuh teka-teki dan dibentuk sesuai apa yang ingin didengar Putin,” kata Mitrokhin.
Peneliti dari New Eurasian Strategies Centre, Ruslan Suleymanov, menilai klaim FSB masih sebatas rumor. “Sejauh ini belum ada bukti kuat,” ujarnya. Meski begitu, ia mengakui sejumlah mantan anggota Hayat Tahrir al-Sham diketahui meninggalkan Suriah menuju Afghanistan timur, tempat kelompok ISIS Khorasan atau ISKP masih aktif beroperasi.
Menurut Suleymanov, situasi di Afghanistan dinilai lebih aman bagi kelompok militan dibanding Suriah yang kini dipimpin pemerintahan baru di bawah Ahmed al-Sharaa yang justru bekerja sama dengan koalisi anti-ISIS pimpinan Washington.
Sementara itu, pakar hubungan Rusia-Iran Nikita Smagin mengatakan kemungkinan adanya kontak antara intelijen Barat dan mantan anggota ISIS memang tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan.
Namun, menurut dia, kontak semacam itu tidak otomatis berarti akan digunakan untuk menyerang Iran. “Tuduhan itu juga bisa menjadi cara Kremlin memperkuat pengaruhnya di negara-negara bekas Uni Soviet,” kata Smagin.
Dalam pidatonya, Bortnikov memperingatkan negara-negara Asia Tengah dan Kaukasus Selatan mengenai potensi ancaman dari mantan pejuang ISIS yang disebut dapat direkrut Barat untuk melemahkan kawasan tersebut.
Negara-negara seperti Azerbaijan, Armenia, Uzbekistan, Tajikistan, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan disebut memiliki hubungan historis maupun geografis dengan Iran dan menjadi perhatian Rusia. Namun sejumlah pengamat menilai pernyataan Bortnikov lebih merupakan bagian dari retorika politik dibanding ancaman nyata.
Pemimpin redaksi Minval Politika yang berbasis di Azerbaijan, Emil Mustafayev, mengatakan pernyataan kepala FSB itu tidak layak dipahami secara harfiah. “Ini lebih terdengar sebagai retorika politik dan informasi ketimbang gambaran nyata situasi di lapangan,” ujarnya.
Menariknya, Presiden Vladimir Putin belum mengulangi tuduhan tersebut secara terbuka. Klaim Bortnikov juga hanya mendapat liputan terbatas di media-media pro-Kremlin dan tidak banyak dibahas pengamat politik Rusia.***










