Ratusan Warga Delhi Gelar Aksi Tolak Polusi, Tuntut Pemerintah Umumkan Darurat Kesehatan
KLIKWARTAKU — Ratusan warga New Delhi, India, turun ke jalan pada Minggu 9 November 2025 untuk memprotes tingkat polusi udara yang semakin parah di ibu kota. Dalam aksi yang digelar di sekitar monumen terkenal India Gate, para peserta menuntut pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menekan polusi yang kini mencapai level berbahaya bagi kesehatan.
Sekitar 400 orang terlibat dalam demonstrasi tersebut, termasuk anak-anak, mahasiswa, jurnalis, dan aktivis lingkungan. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Right to live, not just survive” (Hak untuk hidup, bukan sekadar bertahan) dan “Life in Delhi: Take birth, breathe, die” (Hidup di Delhi: lahir, bernapas, mati).
Polisi sempat menahan sekitar 80 orang karena aksi dilakukan tanpa izin di kawasan keamanan tinggi, namun semuanya dibebaskan tak lama kemudian.
Kualitas Udara di Titik “Sangat Buruk”
Kualitas udara di Delhi terus merosot selama tiga minggu terakhir. Berdasarkan data aplikasi Safar milik pemerintah federal, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) pada Senin pagi tercatat 330, berada pada kategori “sangat buruk”.
Namun, pemantauan independen dari aplikasi Air Visual menunjukkan angka yang lebih ekstrem, antara 414 hingga 507, yang diklasifikasikan sebagai “berbahaya” dan lebih dari 20 kali lipat batas aman WHO.
Menurut standar, AQI antara 101–200 tergolong sedang, 201–300 buruk, 301–400 sangat buruk, dan di atas 400 dianggap parah atau berbahaya bagi kesehatan.
Penyebab Polusi dan Tuntutan Warga
Polusi udara di Delhi merupakan masalah musiman yang memburuk setiap musim dingin. Penyebab utamanya adalah asap pembakaran jerami oleh petani di negara bagian tetangga, emisi kendaraan bermotor, debu konstruksi, serta emisi industri.
“Kami merasa paru-paru kami rusak. Pemerintah seharusnya menetapkan status darurat kesehatan sampai ada solusi nyata,” ujar seorang demonstran kepada kantor berita PTI.
Aktivis lingkungan Bhavreen Kandhari menyoroti lambannya penerapan rencana penanggulangan polusi pemerintah, Graded Response Action Plan (GRAP). “Polusi sudah mencapai tingkat berbahaya, tetapi langkah GRAP tingkat tiga belum dijalankan,” ujarnya.
Tahap ketiga GRAP (GRAP III) seharusnya mencakup larangan total terhadap kegiatan konstruksi non-esensial dan penggunaan kendaraan diesel di wilayah Delhi.
Langkah Pemerintah Belum Efektif
Beberapa kebijakan yang dijalankan pemerintah, seperti penyemprotan air di jalan dan upaya penaburan awan buatan untuk menurunkan polusi, dinilai gagal membawa perubahan signifikan. “Langkah-langkah seperti penyiraman jalan atau menanam pohon belum cukup. Pemerintah harus serius menindak sumber utama polusi,” kata seorang peserta aksi.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Delhi Manjinder Singh Sirsa menyatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya, termasuk pemasangan meriam anti-smog di gedung tinggi, peningkatan penggunaan bus listrik, serta pengawasan ketat di lokasi konstruksi.
“Kami mengambil semua langkah yang mungkin untuk mengurangi polusi dan melindungi kesehatan warga,” ujar Sirsa dalam pernyataan video.
Setiap tahun, Delhi masuk daftar kota paling tercemar di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara dapat mengurangi harapan hidup penduduk hingga beberapa tahun.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang aktivis di lokasi protes, “Anak-anak kami mungkin hidup sepuluh tahun lebih pendek dari sepupu mereka yang tinggal di kota dengan udara bersih. Itulah sebabnya kami turun ke jalan — demi masa depan mereka.” ***










