Pengawasan Perbatasan Laut Diperkuat, Patkor Kastima 29 Sasar Perairan Kalbar
KLIKWARTAKU — Patroli Terkoordinasi Kastam Indonesia Malaysia (Patkor Kastima) kembali menunjukkan peran vitalnya sebagai benteng keamanan maritim di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
Memasuki pelaksanaan ke-29 pada 2025, operasi gabungan itu menjadi bukti kuatnya hubungan bilateral antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Jabatan Kastam Diraja Malaysia (JKDM) sejak pertama kali digelar pada tahun 1994.
Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai, Rizal mengatakan, kerja sama dua negara yakni Indonesia dan Malaysia sampai dengan saat ini terus berkembang.
“Selama tiga dekade, kedua negara memperkuat kerja sama untuk memastikan perairan Selat Malaka dan wilayah perbatasan aman dari berbagai tindak pelanggaran kepabeanan dan aktivitas ilegal lintas negara,” kata Rizal, kemarin.
Patkor Kastima ke-29, lanjut dia, akan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni 19 Oktober sampai 04 November 2025 dan 5 sampai 19 November 2025. Selama lebih dari satu bulan, kegiatan difokuskan di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, Selat Malaka—wilayah strategis yang sekaligus rawan penyelundupan serta kejahatan transnasional.
Tahun ini, dia menambahkan, jangkauan operasi diperluas hingga ke perairan Kalimantan Barat dan Sarawak. Langkah itu diambil untuk menutup celah penyelundupan yang memanfaatkan perbatasan laut dan darat, sehingga pengawasan menjadi lebih menyeluruh dan efektif.
“Selama pelaksanaan operasi, kapal patroli Bea Cukai mencatat sejumlah tindakan signifikan. Termasuk 67 pemeriksaan sarana pengangkut, sembilan penyegelan kapal impor dan tiga pencegahan terhadap komoditas rokok, baby lobster, dan barang campuran ilegal,” ungkapnya.
Rizal mengungkapkan, nilai barang hasil penindakan mencapai Rp29 miliar, sementara potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp30 miliar. Nilai sarana pengangkut yang melanggar diperkirakan mencapai Rp4 miliar. Capaian itu menunjukkan peran strategis Patkor Kastima dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan menekan aktivitas ilegal di kawasan perbatasan.
“Selain capaian operasional, Patkor Kastima ke-29 juga diwarnai momen humanis. Kapal BC 8001 terlibat dalam pemulangan jenazah seorang petugas JKDM yang meninggal akibat serangan jantung saat bertugas. Tindakan ini mencerminkan kuatnya ikatan emosional dan solidaritas antara aparat dua negara,” ujarya.
Rizal mengatakan, setelah hampir 30 tahun berjalan, Patkor Kastima terus membuktikan relevansinya dalam menjaga keamanan maritim, memerangi penyelundupan, serta memperkuat hubungan Indonesia–Malaysia.
“Patkor Kastima bukan sekadar patroli rutin, melainkan bentuk nyata komitmen dua negara serumpun dalam melindungi masyarakat dan memastikan perbatasan tetap aman bagi generasi mendatang,” pungkasnya. ***








