Iran Ancam Serang AS Jika Masuk Selat Hormuz, Trump Luncurkan “Proyek Freedom”
KLIKWARTAKU — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran memperingatkan akan menyerang pasukan AS yang memasuki Selat Hormuz. Peringatan tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump mengumumkan peluncuran operasi bernama “Proyek Freedom”, yang bertujuan mengawal kapal-kapal yang terjebak di jalur perairan strategis tersebut.
Komando militer Iran melalui pejabat seniornya, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa setiap kehadiran militer asing, khususnya AS, akan dianggap sebagai ancaman langsung. “Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama tentara AS yang agresif, akan diserang jika mereka mendekati dan memasuki Selat Hormuz,” demikian pernyataan resmi militer Iran.
Selain itu, Iran juga meminta seluruh kapal komersial dan tanker minyak untuk tetap berada di posisi masing-masing kecuali telah berkoordinasi dengan otoritas Teheran. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan operasi tersebut dilakukan atas permintaan sejumlah negara yang kapalnya terjebak di kawasan itu. Ia menyebut kapal-kapal tersebut sebagai “pengamat netral” yang terdampak konflik.
Trump juga mengungkapkan kondisi awak kapal yang semakin memprihatinkan karena kekurangan logistik, termasuk makanan dan kebutuhan dasar lainnya. Ia menegaskan setiap upaya mengganggu operasi AS akan ditindak tegas.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan akan mengerahkan sekitar 15.000 personel, didukung lebih dari 100 pesawat, kapal perang, dan drone untuk mendukung misi tersebut. Langkah ini dinilai berpotensi memperburuk situasi. Reporter media di Teheran menyebut intervensi AS dapat dianggap Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata yang mulai berlaku pada 7 April.
Iran menegaskan akan merespons secara militer jika itu terjadi, yang berarti gencatan senjata berisiko runtuh. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Selama lebih dari dua bulan terakhir, Iran memblokir sebagian besar pengiriman minyak dari kawasan Teluk, memicu lonjakan harga energi dunia.
Di Amerika Serikat, harga bensin kini mencapai US$4,44 per galon atau sekitar Rp71.000 (asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS), meningkat dari kurang dari US$3 atau sekitar Rp48.000 sebelum konflik dimulai. Kenaikan ini turut mendorong inflasi domestik.
Meski sebelumnya Trump menyatakan blokade yang dilakukan AS lebih efektif dibandingkan serangan militer langsung, kebijakan terbaru ini dinilai dapat memicu eskalasi baru.
Analis militer dan mantan perwira Angkatan Laut AS, Harlan Ullman, memperingatkan potensi konflik terbuka. “Iran memiliki banyak drone dan pesawat kecil yang dapat membuat situasi menjadi sangat sulit. Jika kapal perang AS diserang, maka Amerika hampir pasti akan membalas,” ujarnya.
Para pengamat menilai situasi di Selat Hormuz kini berada di titik rawan, di mana kesalahan kecil dapat memicu konflik yang lebih luas dan berdampak besar terhadap stabilitas kawasan serta ekonomi global.***







