BNPB Intensifkan OMC di Sumatra, Korban Banjir dan Longsor Capai 1.106 Jiwa
KLIKWARTAKU – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan pihaknya terus mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah di Pulau Sumatra sebagai upaya menekan curah hujan ekstrem dan mendukung penanganan bencana hidrometeorologi.
Langkah ini diharapkan dapat memperlancar mobilisasi logistik, penanganan darurat, serta proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Pelaksanaan OMC difokuskan di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan melibatkan sejumlah pesawat dan ratusan sortie penerbangan,” ujar Abdul Muhari yang akrab disapa Aam.
Di Provinsi Aceh, BNPB mengerahkan empat pesawat OMC, yaitu PK-SNP, PK-NGT, PK-DPI, dan PK-SNN. Hingga 22 Desember 2025, telah dilaksanakan 190 sortie penerbangan dengan penggunaan bahan semai mencapai 178.000 kilogram. Operasi ini bertujuan menurunkan intensitas hujan di wilayah rawan bencana sekaligus membuka akses distribusi bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, di Sumatra Utara, dua pesawat OMC, yakni PK-YNA dan PK-SCJ, telah melaksanakan 125 sortie penerbangan dengan total bahan semai 106.000 kilogram. OMC di wilayah ini difokuskan untuk mendukung kelancaran evakuasi dan pengiriman logistik.
Adapun di Sumatra Barat, BNPB mengoperasikan tiga pesawat, yaitu PK-KHH, PK-AKR, dan PK-NGT. Hingga 22 Desember 2025, tercatat 174 sortie penerbangan dengan penggunaan bahan semai sebanyak 173.725 kilogram. Operasi dilakukan secara terkoordinasi dengan pemantauan kondisi atmosfer guna memastikan efektivitas pengendalian curah hujan.
Selain pengendalian cuaca, BNPB juga mendorong percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi.
Di Aceh, pembangunan huntara dan huntap dilaksanakan di enam kabupaten, yakni Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie Jaya, Gayo Lues, dan Pidie. Di Sumatra Utara, pembangunan hunian dilakukan di Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Sementara itu, di Sumatra Barat, pembangunan mencakup Kabupaten Pesisir Selatan, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Tanah Datar, Agam, serta Kota Padang.
BNPB menegaskan sinergi antara OMC dan pembangunan hunian merupakan strategi terpadu penanganan bencana dari fase tanggap darurat hingga pemulihan jangka menengah dan panjang.
Pada kesempatan yang sama, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terus bertambah. Hingga Senin 22 Desember 2025, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.106 jiwa, sementara 175 orang masih dalam daftar pencarian.
“Per hari ini, rekapitulasi jumlah total dari 1.090 jiwa pada Sabtu dan Minggu bertambah 15 jiwa menjadi 1.106 jiwa,” kata Aam.
Penambahan tersebut berasal dari temuan terbaru di lapangan serta hasil proses identifikasi korban. Selain itu, jumlah warga yang masih dinyatakan hilang berkurang 10 orang, sehingga tersisa 175 jiwa dalam daftar pencarian.
Sementara itu, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 502.570 jiwa. Dalam sepekan terakhir, jumlah pengungsi mulai berkurang seiring sebagian warga kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah atau mengungsi ke rumah kerabat di luar wilayah terdampak.








