klikwartaku.com
Beranda Internasional Zara Larsson Protes Gedung Putih Pakai Lagunya untuk Video Deportasi

Zara Larsson Protes Gedung Putih Pakai Lagunya untuk Video Deportasi

Zara Larsson mengecam Gedung Putih karena memakai lagu “Midnight Sun” dalam video operasi deportasi imigran di Amerika Serikat. Foto: Tangkapan layar YouTube Forbes Breaking News

KLIKWARTAKU — Penyanyi Swedia Zara Larsson mengecam Gedung Putih setelah salah satu lagunya digunakan dalam video media sosial yang menampilkan operasi penegakan imigrasi dan deportasi di Amerika Serikat.

Lagu “Midnight Sun” terdengar dalam sebuah video yang diunggah akun Gedung Putih. Video tersebut memperlihatkan sejumlah agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan aparat penegak hukum Amerika Serikat memborgol sejumlah pria sebelum memasukkan mereka ke kendaraan.

Unggahan itu diberi keterangan “never ending deportations”, yang memelesetkan lirik lagu Larsson, “never-ending midnight sun”. Lagu tersebut kemudian dihapus dari unggahan. Namun, video yang menampilkan rangkaian operasi penegakan imigrasi itu masih terlihat di akun TikTok Gedung Putih.

Larsson merespons penggunaan lagunya melalui video yang diunggah ke media sosial. Dalam video berdurasi sekitar tiga menit itu, ia menyebut penggunaan lagu tersebut dalam konteks operasi deportasi sebagai sesuatu yang “sangat tidak manusiawi”. “Orang-orang dalam video ini—mereka adalah orang sungguhan,” kata Larsson.

Ia juga menyoroti para imigran tanpa dokumen yang menurutnya merupakan orang biasa yang bekerja dan berupaya membangun kehidupan yang lebih baik. Larsson menilai penggunaan musik dalam video tersebut membuat persoalan serius mengenai deportasi seolah menjadi bahan lelucon atau meme.

“Ini sangat gila, bagaimana semuanya dibuat seperti meme dan menjadi ‘ha-ha-ha’,” ujarnya. Video tanggapan Larsson telah ditonton lebih dari 4,2 juta kali di TikTok.

Kontroversi bermula dari cara Gedung Putih memainkan judul dan lirik lagu Larsson. “Midnight Sun” merupakan lagu yang berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, menurut Larsson. Ia menilai lagu tersebut justru ditempatkan dalam konteks yang berlawanan ketika digunakan untuk mengiringi video operasi deportasi.

Larsson mengatakan penggunaan lagunya berpotensi digunakan untuk menciptakan “perpecahan” di tengah masyarakat. Ia kemudian mengunggah kembali potongan video Gedung Putih yang menampilkan lagunya sebelum beralih ke rekaman dirinya. Dalam rekaman tersebut, Larsson membuat gestur tangan berbentuk huruf L di dahinya.

Perselisihan Larsson dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai penggunaan musik bukan kali pertama terjadi. Awal tahun ini, Larsson juga mengecam penggunaan lagu “Lush Life” dalam video yang menampilkan Trump sedang menari di berbagai acara.

Sejumlah musisi lain juga telah memprotes penggunaan karya mereka dalam konten media sosial pemerintahan Trump. Penyanyi Sabrina Carpenter dan Ariana Grande sebelumnya meminta pemerintahan Trump tidak menggunakan lagu mereka dalam materi media sosial.

Taylor Swift juga mengalami situasi serupa. Lagu “August” miliknya menghilang dari sebuah video yang dibagikan pemerintahan Trump pada Agustus. Sementara itu, salah satu lagu Olivia Rodrigo juga dihapus dari sebuah video setelah penyanyi tersebut mengecam penggunaannya dalam konten yang ia sebut sebagai propaganda kebencian.

Rangkaian kejadian itu menunjukkan persoalan yang lebih luas mengenai penggunaan musik populer dalam komunikasi politik dan pemerintahan. Bagi para musisi, sebuah lagu tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga konteks dan makna yang dapat berubah ketika dipasangkan dengan gambar atau pesan tertentu.

Dalam kasus Larsson, lagu tentang “midnight sun” dipadukan dengan gambar operasi deportasi dan slogan “never ending deportations”. Penggunaan tersebut kemudian memicu keberatan terbuka dari sang penyanyi.

Bagi Gedung Putih, media sosial menjadi salah satu saluran utama untuk menyampaikan pesan kebijakan pemerintah. Namun, penggunaan karya musik milik artis tanpa persetujuan atau dalam konteks yang ditolak penciptanya berulang kali memunculkan perselisihan antara pemerintahan Trump dan industri musik.***

Bagikan:

Iklan