klikwartaku.com
Beranda Internasional Penembakan di Sekolah Filipina Tewaskan Tiga Orang, Pelaku Berusia 16 Tahun

Penembakan di Sekolah Filipina Tewaskan Tiga Orang, Pelaku Berusia 16 Tahun

Penembakan terjadi di Banga National High School, Filipina. Tiga orang tewas, termasuk dua siswa berusia 14 tahun, dan delapan lainnya terluka. Foto: Tangkapan layar YouTube NewsX World

KLIKWARTAKU — Jam makan siang di Banga National High School, Mindanao, Filipina Selatan, berubah menjadi kepanikan pada Jumat siang. Seorang siswa berusia 16 tahun melepaskan tembakan ke arah teman-temannya. Tiga orang tewas, termasuk dua siswa berusia 14 tahun, sementara delapan lainnya terluka.

Wali Kota Banga Albert Palencia mengatakan kepada BBC bahwa pelaku termasuk dalam tiga orang yang meninggal dalam insiden tersebut. Empat dari delapan korban luka dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Penembakan terjadi pada Jumat sore di Banga National High School. Menurut Palencia, pelaku sebelumnya sempat memberi tahu teman-temannya mengenai rencana yang hendak dilakukan setelah makan siang.

Dalam percakapan saat jam makan, pelaku disebut meminta teman-temannya pulang karena dia akan menjalankan rencananya setelah makan. Namun, teman-temannya tidak menganggap serius ucapan tersebut karena pelaku dikenal sebagai sosok yang gemar bercanda. “Teman-temannya tertawa karena penembak itu dikenal suka bercanda,” kata Palencia.

Setelah makan siang, pelaku mulai menembaki siswa. Palencia mengatakan sebanyak 10 siswa terkena tembakan sebelum pelaku mengakhiri hidupnya. Otoritas setempat kemudian menghentikan kegiatan belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan di wilayah Banga. Keputusan itu diambil sebagai langkah untuk menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidikan setelah penembakan.

Palang Merah Filipina mengatakan menerima laporan mengenai insiden tersebut sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Sebuah ambulans dengan empat paramedis kemudian dikirim ke lokasi untuk memberikan pertolongan medis. Polisi juga berada di lokasi untuk melakukan penyelidikan dan mengumpulkan informasi mengenai penembakan.

Kementerian Pendidikan Filipina menyatakan keprihatinannya atas insiden tersebut. Pemerintah meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi selama proses penyelidikan berlangsung.

“Prioritas segera kami adalah keselamatan dan kesejahteraan peserta didik, guru, serta seluruh personel sekolah,” kata Kementerian Pendidikan Filipina dalam pernyataannya. Insiden di Banga menjadi penembakan mematikan ketiga di lingkungan sekolah Filipina sejak Juni 2026.

Pada Juni, tiga siswa tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam penembakan yang dilakukan oleh siswa di sebuah sekolah menengah di wilayah Filipina bagian tengah. Penyelidik saat itu menduga insiden tersebut berkaitan dengan dendam yang dipicu persoalan perundungan atau bullying.

Kemudian pada Agustus, seorang siswa di sebuah sekolah menengah pertama Katolik di Filipina bagian selatan menembak seorang siswa lain hingga tewas sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Pelaku sebelumnya sempat mengarahkan senjata kepada seorang guru, tetapi tembakannya meleset. Ia kemudian berpindah ke ruang kelas lain dan menembak seorang siswa.

Rangkaian kasus tersebut kembali memunculkan perhatian terhadap akses anak dan remaja terhadap senjata api di Filipina. Kepala pemerintahan Provinsi South Cotabato, Reynaldo Tamayo, meminta pemilik senjata api dewasa lebih bertanggung jawab dalam menyimpan senjata mereka sehingga tidak dapat diakses anak di bawah umur.

“Kita tidak bisa mengharapkan segelintir petugas keamanan untuk memantau ribuan siswa. Kita harus bekerja sama karena jika tidak, persoalan ini akan sangat sulit untuk ditangani,” ujar Tamayo.

Filipina dikenal memiliki tingkat kepemilikan senjata api yang relatif tinggi di kawasan Asia. Meski kejahatan bersenjata bukan hal yang asing, penembakan di lingkungan sekolah selama ini tergolong jarang.

Kasus di Banga kini menjadi perhatian aparat, terutama untuk mengungkap bagaimana seorang remaja berusia 16 tahun dapat memperoleh senjata dan menjalankan aksinya di lingkungan sekolah. Penyelidikan masih berlangsung. Pemerintah setempat juga meminta masyarakat menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.***

Bagikan:

Iklan