Perang Drone Rusia-Ukraina Menjalar ke Moldova, Dua Orang Tewas di Perbatasan
KLIKWARTAKU — Perang drone Rusia-Ukraina kembali menunjukkan wajah paling berbahayanya: perbatasan yang selama ini menjadi jalur keluar-masuk warga ikut berubah menjadi sasaran perang.
Dua orang tewas setelah drone Rusia menghantam perlintasan Starokozache, di wilayah Ukraina yang berbatasan dengan Moldova. Serangan terjadi pada malam hari dan memaksa jalur tersebut ditutup sementara.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan itu menunjukkan bahwa ancaman perang tidak lagi terbatas pada garis depan. “Kejahatan ini harus dihentikan di sini dan sekarang sebelum menyebar lebih jauh,” kata Zelensky, sembari kembali menyerukan dukungan internasional untuk Ukraina.
Serangan tersebut menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya, menurut Kepala Administrasi Regional Odesa Oleh Kiper. Seorang pengemudi asal Moldova juga dilaporkan mengalami luka. Foto dari lokasi memperlihatkan sejumlah mobil hangus di antara puing-puing akibat serangan.
Bagi Moldova, serangan tersebut menjadi pengingat bahwa perang yang dimulai Rusia di Ukraina pada Februari 2022 semakin sulit dibatasi secara geografis. Perdana Menteri Moldova Vasile Tofan mengatakan wilayah negaranya semakin sering terdampak aktivitas drone.
Sebanyak 17 drone tercatat menyerang atau memasuki wilayah Moldova sepanjang Agustus, jumlah yang bahkan melampaui keseluruhan insiden sepanjang tahun sebelumnya. Tofan memperingatkan negara-negara yang mengabaikan ancaman tersebut agar tidak menutup mata terhadap realitas perang.
Menurut dia, Rusia yang memulai invasi berskala penuh ke Ukraina dan bertanggung jawab atas konflik tersebut. Posisi Moldova menjadi rumit karena negara itu tidak terlibat langsung dalam perang, tetapi berada tepat di sebelah Ukraina dan memiliki kepentingan keamanan yang semakin bersinggungan dengan konflik tersebut.
Pada malam yang sama, serangan drone Rusia juga menghantam ibu kota Ukraina. Sebuah drone menghantam bangunan apartemen sembilan lantai di Kyiv. Seorang perempuan tewas dan 14 orang lainnya terluka, termasuk dua anak.
Serangan terhadap kawasan permukiman tersebut memperlihatkan perubahan pola perang jarak jauh. Drone bukan hanya digunakan untuk menyerang fasilitas militer, tetapi juga dapat menghantam pusat kota dan kawasan padat penduduk. Bagi warga Kyiv, suara drone dan ledakan telah menjadi bagian dari ancaman yang datang dari langit sejak invasi Rusia dimulai.
Serangan juga bergerak ke wilayah Rusia. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pasukannya menembak jatuh 596 drone Ukraina dalam satu malam. Pelabuhan Laut Hitam Novorossiysk menjadi salah satu wilayah yang mengalami serangan paling berat.
Gubernur wilayah Krasnodar Veniamin Kondratiev menyebut serangan itu sebagai serangan drone musuh besar-besaran pada malam hari. Empat orang, termasuk seorang anak, tewas. Sebanyak 29 orang lainnya terluka. Kerusakan dilaporkan terjadi pada sejumlah bangunan tempat tinggal, gereja dan fasilitas pendidikan anak usia dini.
Serangan juga dilaporkan terjadi di Novy Urengoy, kota Arktik yang berjarak hampir 3.000 kilometer dari Ukraina. Gubernur wilayah Dmitry Artyukhov mengatakan drone menyerang sebuah fasilitas industri. Serangan berhasil digagalkan, tetapi puing drone yang jatuh memicu kebakaran.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Jarak serangan menjadi salah satu bagian paling mencolok dari eskalasi terbaru. Ukraina dan Rusia dalam beberapa waktu terakhir semakin mengandalkan drone jarak jauh untuk menyerang wilayah yang jauh dari garis depan.
Serangkaian serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pembicaraan itu membahas upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Pemerintahan Trump terus mendorong Rusia dan Ukraina untuk melakukan perundingan langsung. Kyiv mengatakan pembicaraan tersebut dapat digelar bulan ini.
Namun Kremlin masih menilai pembahasan mengenai waktu dan lokasi pertemuan secara spesifik terlalu dini. Ironi itu terlihat jelas di lapangan. Ketika para diplomat membicarakan meja perundingan, drone Rusia dan Ukraina justru terus melintasi perbatasan.
Sehari sebelum pembicaraan Putin-Trump, utusan Amerika Serikat Jared Kushner dan Steve Witkoff bertemu Putin di Moskow. Setelah itu, keduanya terbang ke Kyiv untuk bertemu Zelensky. Rangkaian diplomasi tersebut semestinya menjadi pintu menuju penurunan ketegangan.
Namun serangan terbaru menunjukkan bahwa jalur diplomasi dan medan perang masih berjalan dalam dua arah berbeda. Serangan di perlintasan Starokozache juga memperlihatkan risiko lain: semakin sulit membedakan wilayah aman dan wilayah perang.
Perlintasan perbatasan yang digunakan masyarakat sipil dapat berada di jalur serangan hanya karena kedekatannya dengan infrastruktur strategis. Moldova pun menghadapi risiko terseret lebih jauh.
Ketika jumlah drone yang memasuki atau menghantam wilayahnya meningkat, tekanan terhadap pemerintah Moldova untuk memperkuat pertahanan udara dan keamanan perbatasan ikut membesar. Pada saat yang sama, serangan terhadap Novorossiysk dan Novy Urengoy memperlihatkan bahwa Rusia juga tidak kebal terhadap serangan jarak jauh Ukraina.
Perang kini bukan lagi hanya tentang siapa menguasai satu desa atau satu kota di garis depan. Langit telah menjadi medan perang yang dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan kilometer.
Dan ketika drone mulai menyentuh perbatasan negara ketiga, seperti Moldova, persoalannya berubah dari sekadar perang Rusia-Ukraina menjadi ancaman yang berpotensi merembet ke kawasan Eropa yang lebih luas.
Diplomasi Washington masih mencoba mencari jalan keluar. Tetapi untuk saat ini, suara ledakan di perbatasan justru lebih keras daripada suara perundingan.***











