klikwartaku.com
Beranda Internasional Kebakaran Hutan Spokane Membara, 67 Ribu Warga Mengungsi dan Seorang Pria Ditangkap

Kebakaran Hutan Spokane Membara, 67 Ribu Warga Mengungsi dan Seorang Pria Ditangkap

Kebakaran hutan melanda Spokane, Washington, memaksa 67 ribu warga mengungsi dan menghancurkan hingga 1.110 bangunan. Polisi menangkap tersangka pembakaran. Foto: Tangkapan layar YouTube Global News

KLIKWARTAKU — Kepanikan melanda sekitar Spokane, Washington, Amerika Serikat, ketika tiga kebakaran hutan meluas dalam waktu singkat. Puluhan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah, ratusan bangunan dilaporkan hancur, sementara aparat menangkap seorang pria yang diduga sengaja memicu salah satu kebakaran terbesar.

Pria tersebut, Aaron Farinacci, 37 tahun, ditangkap pada Senin terkait kebakaran Old Trails. Ia didakwa melakukan pembakaran tingkat pertama dan ditahan dengan jaminan US$1 juta atau sekitar Rp16,5 miliar, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Sheriff Spokane County John Nowels mengatakan penangkapan dilakukan setelah seorang saksi mengaku melihat Farinacci berlutut di rerumputan di lokasi yang diyakini sebagai titik awal kebakaran.

Kasus tersebut menambah persoalan bagi aparat yang masih berjibaku mengendalikan api yang telah menyebar di sekitar Spokane, kota berpenduduk sekitar 230.000 jiwa yang berada tidak jauh dari perbatasan Idaho.

Farinacci bukan orang yang asing bagi aparat penegak hukum. Ketika berusia 21 tahun, ia ditangkap dan dipenjara setelah menembak ayahnya hingga tewas di Mesa, Arizona, pada 2010. Peristiwa itu terjadi setelah pertengkaran terkait pekerjaan rumah tangga, termasuk persoalan mencuci piring. Farinacci juga menembak dirinya sendiri dalam kejadian tersebut, tetapi berhasil bertahan hidup.

Ia semula didakwa melakukan pembunuhan. Namun pada 2012, Farinacci mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan tanpa sengaja dan penyerangan berat. Ia kemudian dibebaskan dari penjara pada 2020. Kini, enam tahun setelah keluar dari penjara, namanya kembali muncul dalam kasus kriminal besar yang berdampak terhadap puluhan ribu warga.

Kebakaran yang melanda wilayah Spokane telah menghanguskan sekitar 8.026 hektare, atau 3.248 hektare jika menggunakan konversi ke satuan metrik sebagaimana tercantum dalam data InciWeb. Penilaian dari udara menunjukkan sekitar 700 hingga 1.110 bangunan telah hancur sejak kebakaran mulai terjadi pada akhir pekan.

Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan bangunan. Sekitar 67.000 orang telah dievakuasi dari wilayah terdampak. Hingga kini tidak ada laporan mengenai korban luka serius akibat kebakaran. Namun aparat masih berupaya menghubungi 14 orang yang belum dapat dihubungi melalui telepon seluler.

Sheriff Nowels mengatakan orang-orang tersebut untuk sementara tidak dikategorikan sebagai hilang. Situasi tetap menjadi perhatian karena api belum sepenuhnya dapat dikendalikan dan kondisi cuaca berpotensi memperburuk penyebaran kebakaran.

Para ilmuwan melihat kebakaran Spokane dalam konteks yang lebih luas: meningkatnya ancaman kebakaran hutan akibat perubahan iklim. Kenaikan suhu, kekeringan berkepanjangan, dan vegetasi yang semakin kering menciptakan kondisi yang ideal bagi api untuk menyebar cepat.

Daniel Swain, klimatolog dari University of California, Los Angeles, mengatakan wilayah timur Washington mengalami salah satu musim dingin terhangat yang pernah tercatat. Akibatnya, cadangan salju yang biasanya menjadi sumber air selama musim hangat mengalami penurunan drastis.

Kondisi tersebut berkontribusi terhadap kekeringan yang membuat vegetasi lebih mudah terbakar. “Ini adalah pola berulang yang kita lihat sekarang berulang kali,” kata Swain dalam pengarahan daring.

Menurut dia, pola tersebut mulai semakin terlihat sejak dekade kedua abad ke-21 dan kini muncul hampir setiap tahun. Artinya, kebakaran Spokane bukan hanya persoalan satu titik api atau satu tersangka. Faktor cuaca dan perubahan iklim membuat wilayah yang sebelumnya relatif aman semakin rentan terhadap kebakaran besar.

Situasi serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Gelombang panas masih melanda sebagian besar Jepang. Korea Selatan bahkan mencatat suhu tertinggi yang pernah terjadi di negara tersebut. Di Eropa, kebakaran hutan memaksa evakuasi warga di sejumlah wilayah Yunani. Api juga terus mengancam kawasan di Spanyol dan Prancis.

Sementara itu, di Afrika Utara, petugas pemadam kebakaran menghadapi kebakaran besar di Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bagaimana kombinasi suhu ekstrem, kekeringan, dan vegetasi kering meningkatkan risiko kebakaran di banyak kawasan.

Di Spokane, penyelidikan mengenai penyebab kebakaran Old Trails kini berjalan bersamaan dengan upaya memadamkan api. Bagi puluhan ribu warga yang telah meninggalkan rumah, persoalannya jauh lebih sederhana: kapan mereka bisa kembali, dan apakah rumah mereka masih berdiri.

Sementara bagi aparat, penangkapan Farinacci memberi satu jawaban atas dugaan asal mula salah satu kebakaran. Tetapi api yang telah telanjur menyebar menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana menghentikan musim kebakaran yang semakin sering datang dan semakin sulit diprediksi.***

Bagikan:

Iklan