Harga Bensin Tembus US$4 per Galon, Laba Chevron dan Exxon Melonjak: Rumah Tangga Miskin AS Terjepit
KLIKWARTAKU — Harga bensin di Amerika Serikat menembus US$4 per galon ketika perusahaan minyak justru membukukan keuntungan besar. Kondisi ini memicu kritik dari Presiden AS Donald Trump, yang menilai raksasa energi seperti Chevron dan ExxonMobil meraup terlalu banyak uang di tengah beban biaya hidup masyarakat.
Trump secara terbuka mengecam kinerja keuangan kedua perusahaan tersebut setelah Chevron melaporkan laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun. “Saya tidak menyukainya,” kata Trump kepada wartawan pada Senin, merujuk pada besarnya pendapatan perusahaan minyak.
Menurut Trump, Chevron dan ExxonMobil telah menghasilkan keuntungan yang terlalu besar. “Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, terlalu banyak. Terlalu banyak uang,” ujar dia.
Kritik tersebut muncul setelah CEO Chevron Mike Wirth berbicara dalam program Sunday Morning Futures di Fox News. Trump kemudian menyerang Wirth melalui platform Truth Social karena dinilai tidak mengakui peran pemerintahannya dalam menjaga industri minyak AS.
Namun, di balik perseteruan tersebut terdapat persoalan yang lebih besar: harga bahan bakar yang terus menekan rumah tangga Amerika. Chevron mencatat laba kuartal kedua sebesar US$12 miliar, atau sekitar Rp195,6 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS. Laba per saham yang telah disesuaikan mencapai US$6,06.
Angka tersebut menjadi laba kuartalan tertinggi Chevron dalam enam tahun. Kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor utama. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, tercatat sekitar 23 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama tahun ini.
Ketegangan AS dan Iran turut mengganggu rantai pasokan minyak dunia. Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif karena sebelum perang sekitar seperlima pasokan energi dunia melewati jalur strategis tersebut. Chevron dinilai memiliki posisi lebih menguntungkan dibanding sejumlah pesaingnya karena ketergantungannya terhadap produksi di kawasan Timur Tengah relatif kecil.
Bill Drolet dari bank investasi The Post Oak Group mengatakan kurang dari 5 persen eksposur Chevron berada di kawasan Selat Hormuz. Sebaliknya, lebih dari 70 persen produksinya terkonsentrasi di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat Chevron dapat menikmati kenaikan harga minyak tanpa menghadapi risiko gangguan produksi sebesar perusahaan yang memiliki eksposur lebih besar di Timur Tengah. Chevron bukan satu-satunya perusahaan energi yang menikmati situasi tersebut.
ExxonMobil mencatat laba kuartalan US$9,2 miliar, setara sekitar Rp149,96 triliun. Angka itu merupakan kinerja kuartalan terbaik perusahaan dalam empat tahun, meski masih berada di bawah ekspektasi analis.
Sementara itu, Valero Energy mencatat laba kuartal kedua tertinggi sepanjang sejarahnya. Perusahaan penyulingan minyak tersebut membukukan laba bersih sekitar US$3,7 miliar, atau sekitar Rp60,31 triliun.
Kinerja tersebut memperlihatkan kontras yang mencolok. Ketika produsen dan penyuling minyak mencatat keuntungan besar, konsumen harus membayar lebih mahal untuk mengisi tangki kendaraan. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS berada di sekitar US$4,09 per galon, atau sekitar Rp66.667 per 3,78 liter.
Harga tersebut memang sedikit turun dari US$4,11 atau sekitar Rp66.993 sepekan sebelumnya. Namun dibandingkan sebulan sebelumnya, harga bensin masih meningkat dari sekitar US$3,82 atau Rp62.266 per galon. Lonjakan terlihat lebih jelas jika dibandingkan dengan periode ketika AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada akhir Februari.
Saat itu, rata-rata harga bensin AS masih sekitar US$2,98 per galon, atau sekitar Rp48.574. Artinya, dalam hitungan beberapa bulan, biaya mengisi satu galon bensin melonjak lebih dari US$1. Kenaikan harga bensin tidak berdampak sama bagi seluruh masyarakat.
Analisis Bank of America yang diterbitkan pada April menunjukkan konsumen AS rata-rata mengalokasikan hingga 4,2 persen pendapatannya untuk bensin pada Maret. Angka itu meningkat dibandingkan sekitar 3,9 persen pada 2019. Namun bagi kelompok berpenghasilan rendah, bebannya jauh lebih berat.
Lebih dari 10 persen pendapatan bulanan dapat tersedot hanya untuk membeli bensin pada sebagian rumah tangga berpenghasilan rendah. Kondisi ini membuat harga bahan bakar bukan sekadar persoalan transportasi. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kenaikan bensin dapat mengurangi uang yang tersedia untuk makanan, sewa rumah, pendidikan, dan kebutuhan lainnya.
Tekanan juga datang dari kondisi Cadangan Minyak Strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR). Data Departemen Energi AS menunjukkan cadangan tersebut turun 2,8 juta barel dalam sepekan menjadi sekitar 304,8 juta barel. Level itu merupakan yang terendah sejak 1983.
Menyusutnya cadangan strategis terjadi ketika pasar energi global menghadapi ketidakpastian akibat konflik dan gangguan pasokan. Situasi tersebut berpotensi membuat harga minyak tetap tinggi jika gangguan produksi berlangsung lebih lama. Kritik terhadap perusahaan minyak tidak hanya datang dari Gedung Putih.
Senator Demokrat Sheldon Whitehouse dari Rhode Island menuding perusahaan minyak menikmati keuntungan yang berasal dari kondisi pasar yang merugikan konsumen. Namun, menekan perusahaan agar menurunkan harga bahan bakar tidak sederhana. Perusahaan publik juga memiliki kewajiban terhadap pemegang saham.
Menurut Drolet, perusahaan energi sebenarnya dapat mengurangi pembelian kembali saham atau pembayaran dividen. Namun ia tidak melihat perusahaan minyak akan mengambil langkah besar untuk menurunkan harga dalam waktu dekat. Alternatif yang lebih cepat justru berada di tangan pemerintah, yakni menangguhkan sementara pajak bensin.
Besar pajak tersebut berbeda-beda di setiap negara bagian. Texas, misalnya, mengenakan pajak bensin sekitar US$0,20 per galon, setara Rp3.260. Di California, pajaknya mencapai sekitar US$0,63 per galon, atau sekitar Rp10.269. Penangguhan pajak untuk sementara dinilai dapat langsung mengurangi beban konsumen.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan mengenai kemungkinan kebijakan tersebut. Kenaikan harga bahan bakar datang menjelang pemilihan paruh waktu AS. Biaya hidup menjadi salah satu isu yang berpotensi menentukan pilihan pemilih.
Jajak pendapat Washington Post/Ipsos menunjukkan 54 persen responden menempatkan harga tinggi dan kondisi ekonomi sebagai kekhawatiran utama menjelang pemilu November. Babak Hafezi, profesor bisnis internasional di American University, mengatakan konsumen dapat melihat kenaikan harga bensin bersamaan dengan laporan keuntungan Chevron dan ExxonMobil.
Situasi itu berpotensi menciptakan persepsi bahwa perusahaan minyak mengambil keuntungan dari kesulitan konsumen. Di pasar saham, kritik Trump ikut menekan saham energi. Saham Chevron sempat merosot lebih dari 2 persen dalam perdagangan tengah hari, meski masih mencatat kenaikan sekitar 1,1 persen dalam lima hari terakhir.
Saham ExxonMobil turun sekitar 0,5 persen pada hari tersebut dan sekitar 0,1 persen dalam lima hari terakhir. Pertarungan antara harga minyak, laba perusahaan dan biaya hidup akhirnya menjadi satu persoalan yang sama. Bagi perusahaan energi, minyak mahal berarti margin yang lebih besar.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, kondisi yang sama berarti semakin mahalnya perjalanan menuju tempat kerja, sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Menjelang pemilu, pertanyaan yang akan terus membesar adalah siapa yang paling menikmati kenaikan harga minyak—dan siapa yang harus membayarnya.***













