OJK Janjikan Peserta Startup Fintech Mendapat Pendampingan Bisnis dan Regulasi
KLIK WARTAKU – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat program akselerasi perusahaan rintisan atau startup fintech untuk mendorong lahirnya inovasi sektor keuangan yang terpercaya, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi mempercepat pertumbuhan ekonomi digital nasional melalui pengembangan ekosistem inovasi yang melibatkan regulator, industri, pemerintah, akademisi, investor, hingga para pelaku startup.
Upaya itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Accelerating the Next Generation of Innovators” di Pusat Inovasi OJK (OJK Infinity), Jakarta.
Adi mengatakan perkembangan startup tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga harus mampu menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Menurutnya, inovasi sektor keuangan membutuhkan kolaborasi kuat agar teknologi yang dikembangkan dapat digunakan secara aman dan memberikan nilai tambah.
“OJK ingin Indonesia menjadi center of excellence untuk digital finance dan digital economy. Untuk mencapainya, kita harus membangun kolaborasi yang kuat antara regulator, industri, pemerintah, akademisi, investor, dan para inovator dalam satu ekosistem yang mampu menciptakan nilai bagi perekonomian nasional,” kata Adi.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pemain utama ekonomi digital global.
Modal tersebut berasal dari pasar domestik yang luas, talenta digital kreatif, serta ekosistem inovasi yang terus berkembang.
Namun, daya saing ekonomi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi.
Kepercayaan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberlanjutan inovasi.
“Dalam ekonomi digital, trust is the ultimate currency. Karena itu, inovasi tidak cukup hanya unggul secara teknologi, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan masyarakat,” ujar Adi.
OJK menjadikan Pusat Inovasi OJK (OJK Infinity) sebagai wadah pengembangan inovasi teknologi sektor keuangan.
Pada 2026, OJK menjalankan dua program akselerasi yang menjadi bagian dari innovation pipeline, mulai dari tahap ide, pendampingan, regulatory sandbox, hingga implementasi.
Dua program tersebut yaitu:
OJK Fintech Startup Accelerator
Program ini bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Fokus utamanya adalah perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi di sektor jasa keuangan, seperti:
- pemanfaatan artificial intelligence (AI);
- sistem deteksi penipuan (fraud detection);
- embedded finance;
- tokenisasi aset dunia nyata;
- platform koperasi digital;
- platform Environmental, Social, and Governance (ESG);
- berbagai solusi teknologi keuangan lainnya.
OJK Infinity Accelerator
Program ini bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Program tersebut berfokus pada inovasi berbasis kekayaan intelektual, termasuk:
- tokenisasi kekayaan intelektual;
- Web3;
- Non-Fungible Token (NFT);
- digital licensing;
- pembiayaan berbasis kekayaan intelektual.
Melalui program akselerasi tersebut, para peserta memperoleh pendampingan untuk memperkuat kesiapan bisnis.
Pendampingan mencakup:
- business diagnosis;
- validasi pasar (market validation);
- strategi produk (product strategy);
- pemodelan keuangan (financial modelling);
- klinik regulasi (regulatory clinic);
- mentoring bersama praktisi industri.
Saat ini, seluruh peserta telah memasuki tahap mentoring intensif sebagai persiapan menuju Demo Day.
Tahap tersebut menjadi kesempatan bagi startup untuk memperkenalkan solusi mereka kepada investor, regulator, dan mitra industri.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengatakan transformasi dan adaptasi teknologi menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Menurutnya, ekonomi masa depan akan semakin bergantung pada pertukaran data dan pemanfaatan teknologi digital.
“Kalau kita ingin maju, kita tidak punya pilihan selain melakukan transformasi dan beradaptasi dengan teknologi baru. Ke depan, ekonomi akan semakin digerakkan oleh pertukaran data, sehingga teknologi digital menjadi fondasi penting bagi daya saing Indonesia,” ujar Edwin.
FGD “Accelerating the Next Generation of Innovators” mempertemukan startup peserta program dengan regulator, investor, asosiasi, akademisi, dan praktisi industri.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh industri digital, di antaranya mantan Co-Founder Tokopedia Leontinus Alpha Edison, Chief Executive Officer Kitabisa Vikra Ijas, Chief Executive Officer Kopitiam Oey sekaligus Head of Blockchain Asosiasi Blockchain Indonesia Wasis Gunarto, serta perwakilan BlockDevId dan BitGo APAC Irsan Ramzee.
Diskusi tersebut membahas strategi membangun startup yang tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga memiliki tata kelola kuat dan berkelanjutan.
OJK berharap program akselerasi tersebut mampu melahirkan lebih banyak inovasi sektor jasa keuangan digital yang sehat dan sesuai regulasi.
Selain mendorong pertumbuhan bisnis, startup juga diharapkan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kolaborasi antara regulator, industri, pemerintah, akademisi, dan investor menjadi fondasi penting agar Indonesia dapat membangun ekosistem ekonomi digital yang kompetitif di tingkat global.















