klikwartaku.com
Beranda Internasional Drone Laut AS Selamatkan Awak Helikopter Jatuh di Oman, Jadi Operasi Evakuasi Pertama di Dunia

Drone Laut AS Selamatkan Awak Helikopter Jatuh di Oman, Jadi Operasi Evakuasi Pertama di Dunia

Militer Amerika Serikat menggunakan drone laut tanpa awak untuk menyelamatkan dua kru helikopter Apache yang jatuh di lepas pantai Oman. Operasi ini disebut pertama kali terjadi di dunia. Foto: Tangkapan layar YouTube The National Desk

KLIKWARTAKU — Militer Amerika Serikat menggunakan drone laut tanpa awak untuk menyelamatkan dua awak helikopter Apache yang jatuh di lepas pantai Oman awal pekan ini. Operasi tersebut disebut menjadi pertama kalinya kapal drone digunakan secara terbuka dalam misi penyelamatan manusia di laut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan helikopter Apache itu ditembak jatuh oleh Iran di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang belakangan terganggu akibat konflik bersenjata antara Washington dan Teheran.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau Centcom menyebut kedua tentara berhasil diselamatkan dalam waktu sekitar dua jam dan kini berada dalam kondisi stabil. Drone laut yang digunakan dalam operasi itu adalah jenis “Corsair”, kapal tanpa awak buatan perusahaan teknologi maritim asal Texas, Amerika Serikat.

Berdasarkan spesifikasi resmi perusahaan pembuatnya, Corsair memiliki panjang sekitar 7,3 meter dan mampu membawa muatan hingga 450 kilogram. Drone ini juga dapat melaju lebih dari 35 knot atau sekitar 65 kilometer per jam.

Pakar drone angkatan laut dari Hudson Institute, Bryan Clark, mengatakan ukuran Corsair mirip kapal nelayan kecil dengan dek datar sehingga cukup untuk membawa tiga hingga empat orang. “Drone ini dilengkapi kamera 360 derajat, radar navigasi jarak jauh, dan sensor radio elektronik untuk mendeteksi komunikasi,” kata Clark.

Menurut ahli militer Amerika Serikat dari Center for a New American Security, Dr Stacie Pettyjohn, Angkatan Laut AS telah memiliki sekitar 50 unit Corsair dalam beberapa tahun terakhir. “Biasanya drone ini dipakai untuk mendeteksi ranjau laut atau pengawasan, tetapi Angkatan Laut masih terus menguji berbagai kemampuan operasionalnya di Selat Hormuz,” ujarnya.

Drone tersebut dioperasikan oleh Task Force 59, unit pertama Angkatan Laut Amerika Serikat yang khusus menangani sistem tanpa awak dan dibentuk pada 2021. Penggunaan drone laut merupakan bagian dari strategi Pentagon memperluas teknologi nirawak dalam operasi militer.

Tahun lalu, produsen Corsair memperoleh kontrak produksi senilai US$392 juta atau sekitar Rp6,4 triliun dengan kurs sekitar Rp16.400 per dolar AS. Meski mampu bergerak secara otomatis, para ahli menilai drone tersebut kemungkinan dikendalikan langsung oleh operator manusia selama misi penyelamatan berlangsung.

Bryan Clark menjelaskan operator kemungkinan menggunakan kendali jarak jauh untuk memastikan posisi drone tepat menuju lokasi awak helikopter yang jatuh di laut. “Mereka kemungkinan hanya perlu naik ke atas drone seperti menaiki kapal kecil di tengah laut,” kata Clark.

Juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins, mengatakan Corsair dipilih karena berada paling dekat dengan lokasi kejadian dan memiliki kemampuan yang sesuai untuk misi berisiko tinggi.

Menurut Dr Pettyjohn, penggunaan drone laut dinilai lebih aman dibanding mengirim kapal atau helikopter penyelamat yang berpotensi menjadi sasaran tembakan. “Walaupun penyelamatan bukan fungsi utama drone ini, teknologi tersebut sangat cocok untuk misi berbahaya seperti ini,” ujarnya.

Centcom menyebut kedua personel militer ditemukan sekitar pukul 03.30 dini hari waktu setempat pada Selasa lalu. Setelah dijemput drone laut, keduanya dipindahkan ke titik aman sebelum dievakuasi menggunakan helikopter lain.

Teknologi drone laut sebelumnya banyak digunakan dalam perang Rusia-Ukraina. Ukraina diketahui memanfaatkan kapal drone berisi bahan peledak untuk menyerang kapal perang Rusia di Laut Hitam. Namun hingga kini belum ada catatan penggunaan drone laut dalam operasi penyelamatan manusia seperti yang dilakukan militer Amerika Serikat di Oman.

Selain Ukraina, kelompok Houthi di Yaman dan Iran juga diketahui mengembangkan kapal drone bersenjata untuk operasi tempur di kawasan Timur Tengah.

Dr Pettyjohn menilai inovasi penggunaan drone laut saat ini banyak dipengaruhi perkembangan teknologi dalam perang Ukraina. “Ukraina menunjukkan bagaimana kapal drone dapat digunakan lebih jauh. Amerika Serikat kemudian mengembangkan teknologi serupa dengan kemampuan yang lebih luas,” kata dia.***

Bagikan:

Iklan