klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Meski Terbantu Hari Raya Keagamaan, Penjualan Eceran Masih Lesu dan Belum Pulih Penuh

Meski Terbantu Hari Raya Keagamaan, Penjualan Eceran Masih Lesu dan Belum Pulih Penuh

Ilustrasi warga berbelanja di mini market. (Dibuat menggunakan Google Gemini)

KLIKWARTAKU – Kinerja penjualan eceran nasional masih menunjukkan tanda-tanda pelemahan meski sejumlah hari besar keagamaan pada Mei 2026 berhasil menahan laju penurunan konsumsi masyarakat. Survei Bank Indonesia mencatat penjualan ritel pada Mei diperkirakan masih terkontraksi secara bulanan, menandakan pemulihan daya beli belum berlangsung kuat.

Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 berada di level 225,0. Meski lebih baik dibandingkan kontraksi tajam pada April, penjualan eceran masih tercatat turun 0,9 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Perbaikan tersebut ditopang meningkatnya aktivitas belanja masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yakni Kenaikan Yesus Kristus, Hari Raya Iduladha, dan Hari Raya Waisak. Namun, momentum tersebut belum cukup untuk mengembalikan pertumbuhan konsumsi ke jalur yang lebih kuat.

Data ini menunjukkan bahwa dorongan musiman masih menjadi penyangga utama aktivitas ritel. Tanpa faktor hari besar keagamaan, tekanan terhadap sektor perdagangan berpotensi lebih besar di tengah ketidakpastian ekonomi dan kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja.

Secara tahunan, pertumbuhan penjualan masih ditopang oleh beberapa kelompok barang, terutama suku cadang dan aksesori kendaraan, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta kelompok barang lainnya. Namun pertumbuhan tersebut belum merata di seluruh sektor konsumsi.

Sebelumnya pada April 2026, IPR tercatat sebesar 226,9. Meski masih tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu, secara bulanan penjualan eceran mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 11,6 persen.

Bank Indonesia menilai penurunan tersebut dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat setelah berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah yang biasanya mendorong lonjakan konsumsi.

Kondisi ini menunjukkan pola konsumsi masyarakat yang masih sangat bergantung pada momen musiman. Setelah periode belanja besar berakhir, aktivitas konsumsi kembali melambat, mengindikasikan daya beli yang belum sepenuhnya pulih.

Di sisi lain, survei juga mengungkapkan adanya potensi kenaikan tekanan harga pada paruh kedua tahun ini. Ekspektasi inflasi untuk tiga bulan mendatang atau Juli 2026 diperkirakan relatif stabil.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 yang berada pada level 175,8, hampir tidak berubah dibandingkan Juni 2026 sebesar 175,6.

Namun untuk enam bulan ke depan, ekspektasi harga menunjukkan tren meningkat. IEH Oktober 2026 diperkirakan mencapai 167,6, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi September 2026 yang sebesar 163,2.

Peningkatan ekspektasi harga tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan baku. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap konsumen apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan dan penguatan daya beli masyarakat.

Temuan survei ini menjadi sinyal bahwa sektor konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional, masih menghadapi tantangan. Meski penurunan penjualan mulai mereda, pemulihan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya solid dan masih rentan terhadap tekanan harga maupun perlambatan ekonomi.

Bagikan:

Iklan