klikwartaku.com
Beranda Ekonomi Kalbar Jadi Provinsi dengan Inflasi Tertinggi Nasional pada Juli 2026, Harga Minyak Goreng dan Beras Jadi Pemicu

Kalbar Jadi Provinsi dengan Inflasi Tertinggi Nasional pada Juli 2026, Harga Minyak Goreng dan Beras Jadi Pemicu

Ilustrasi transaksi cabai di pasar tradisional. Komoditas ini kerap menjadi penyumbang inflasi.

KLIKWARTAKU – Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tertinggi di Indonesia pada Juli 2026. Saat Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen, Kalbar justru membukukan inflasi 0,38 persen akibat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan biaya transportasi.

Data BPS Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalbar pada Juli 2026 mencapai 111,66. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tercatat sebesar 3,18 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 2,63 persen.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat Muh Saichudin mengatakan kenaikan harga masih terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menjadi penyumbang terbesar inflasi di daerah.

“Pada Juli 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,18 persen dengan IHK sebesar 111,66. Secara bulanan, Kalimantan Barat juga mengalami inflasi sebesar 0,38 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,63 persen,” ujarnya dalam Berita Resmi Statistik, Senin (3/8/2026).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 3,94 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi Kalbar, yakni 1,45 persen. Selain itu, kelompok transportasi memberikan andil 0,57 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,37 persen.

Muh Saichudin menjelaskan, tingginya inflasi dipengaruhi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Komoditas yang paling besar mendorong inflasi antara lain minyak goreng, beras, ikan baung, ikan tongkol, ikan kembung, bawang putih, daging sapi, kangkung, dan bahan bakar rumah tangga.

Sebaliknya, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi. Di antaranya tomat, udang basah, telur ayam ras, bawang merah, jeruk, bayam, terong, dan cumi-cumi.

“Perubahan harga berbagai komoditas menunjukkan adanya dinamika pasokan di pasar. Ada komoditas yang mengalami kenaikan sehingga mendorong inflasi, namun ada pula yang turun sehingga menahan laju inflasi secara keseluruhan,” kata Muh Saichudin.

Selain pangan, kelompok transportasi juga mencatat inflasi tahunan sebesar 4,99 persen. Kenaikan harga pelumas atau oli mesin, biaya perawatan kendaraan, bensin, serta tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama pada kelompok ini.

Kelompok pendidikan turut mengalami inflasi sebesar 1,93 persen. Peningkatan biaya sekolah dasar, SMP, SMA hingga kursus pada awal tahun ajaran baru menjadi faktor yang mendorong kenaikan indeks kelompok tersebut.

Secara wilayah, seluruh daerah yang menjadi cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Barat mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Ketapang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,73 persen, sedangkan Kota Singkawang menjadi yang terendah dengan inflasi 2,70 persen.

Kondisi Kalbar berbeda dengan tren nasional. Pada Juli 2026, BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen yang terutama dipicu turunnya harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk. Meski demikian, kelompok transportasi secara nasional tetap mengalami inflasi akibat kenaikan harga bensin, sementara kelompok pendidikan terdorong naik seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Muh Saichudin menegaskan stabilitas harga sangat bergantung pada kelancaran pasokan dan distribusi barang. Karena itu, sinergi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mengendalikan gejolak harga, terutama menjelang periode permintaan yang lebih tinggi.

Bagikan:

Iklan