Masuk BRICS, Indonesia Intensif Dekati Rusia untuk Perluas Pasar Ekspor dan Investasi Industri
KLIKWARTAKU – Keanggotaan Indonesia dalam kelompok BRICS mulai dimanfaatkan untuk memperluas jejaring ekonomi dan industri global. Salah satunya melalui penguatan hubungan dengan Rusia yang kini dipandang sebagai mitra strategis untuk membuka pasar baru, menarik investasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri dunia.
Upaya tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral Indonesia-Rusia pada rangkaian BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) Forum 2026 di Xiamen, China. Pertemuan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah memperluas kerja sama industri di tengah meningkatnya persaingan ekonomi global dan perubahan lanskap perdagangan internasional.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS merupakan langkah strategis untuk memperluas kolaborasi ekonomi dan industri dengan negara-negara anggota yang memiliki potensi besar.
“Forum BRICS tentang PartNIR sangat penting bagi kami. Kami sangat menghargai dukungan Pemerintah Rusia terhadap keanggotaan Indonesia di BRICS,” ujar Agus.
Bagi Indonesia, forum tersebut bukan sekadar agenda diplomasi. Pemerintah melihat BRICS sebagai salah satu jalur untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar tradisional dan memperluas akses ke kawasan yang selama ini belum tergarap optimal.
Hubungan Indonesia dan Rusia sendiri telah berlangsung selama 76 tahun. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama ekonomi kedua negara dinilai masih jauh dari potensi yang tersedia, terutama di sektor industri, teknologi, dan investasi manufaktur.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia diwakili Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, yang bertemu dengan Counsellor dari Misi Dagang Rusia di China, Andrei Gorobets.
Kedua pihak membahas peluang kerja sama di berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur, pengembangan teknologi, hilirisasi industri, hingga penguatan rantai pasok global.
Tri menilai penguatan komunikasi dan kemitraan internasional menjadi kunci untuk membuka akses pasar baru bagi produk industri nasional sekaligus memperluas jejaring investasi.
“Sinergi Indonesia dan Rusia diharapkan mampu membuka peluang kerja sama konkret yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan industri kedua negara,” ujarnya.
Dari sisi perdagangan, hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan tren yang relatif positif. Nilai perdagangan bilateral nonmigas pada triwulan pertama 2026 mencapai sekitar USD 1 miliar atau meningkat 1,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor Indonesia ke Rusia pada 2024 tercatat mencapai USD 3,3 miliar atau naik 13,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produk yang mendominasi ekspor antara lain karet, kopi, kakao, teh, alas kaki, komponen elektronik, dan produk kimia.
Meski menunjukkan pertumbuhan, nilai perdagangan tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara mitra utama lainnya. Karena itu, pemerintah melihat masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara.
Salah satu peluang yang tengah dibidik adalah implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) yang ditandatangani di St. Petersburg pada Desember 2025.
Perjanjian tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia ke kawasan Eurasia, sekaligus meningkatkan arus investasi dari negara-negara anggota Eurasian Economic Union, termasuk Rusia.
Selain perdagangan, Indonesia juga berupaya menarik investasi industri melalui partisipasinya sebagai Partner Country pada pameran industri internasional INNOPROM 2026 yang akan berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada Juli mendatang.
Pemerintah berharap momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan sektor manufaktur nasional sekaligus memperluas kerja sama investasi dengan pelaku industri internasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya fragmentasi perdagangan dunia, penguatan hubungan dengan Rusia melalui platform BRICS menunjukkan upaya Indonesia mencari alternatif pasar dan sumber investasi baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai komitmen kerja sama tersebut mampu diwujudkan menjadi investasi nyata, transfer teknologi, serta peningkatan daya saing industri nasional.










