BI Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Dorong Kredit Pertanian dan Hilirisasi Pangan
KLIKWARTAKU – Bank Indonesia (BI) memperkuat dukungannya terhadap ketahanan pangan nasional dengan mendorong peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor pertanian, industri pengolahan, serta hilirisasi pangan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan ancaman perubahan iklim.
Komitmen tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, saat memberikan keynote speech dalam seminar bertajuk Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas di Jakarta, Selasa (10/6). Menurutnya, penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi penting bagi ekonomi Indonesia yang stabil, maju, dan berdaya saing.
BI mendorong optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) agar perbankan semakin aktif menyalurkan pembiayaan ke sektor pangan strategis. Selain itu, BI juga memperkuat produktivitas dan distribusi pangan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Ricky menegaskan bahwa gejolak global saat ini memberikan tekanan nyata terhadap pasokan pangan nasional. Volatilitas harga komoditas, kebijakan pembatasan ekspor sejumlah negara, hingga meningkatnya biaya logistik dan impor menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah turut memengaruhi harga pangan impor serta sarana produksi pertanian. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi jika tidak dikelola secara baik.
“Dengan tekanan harga yang tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ujar Ricky.
Penguatan ketahanan pangan juga mendapat dukungan dari kalangan peneliti. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menilai inovasi dari sektor hulu menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Menurut Arif, komoditas pangan yang masuk kategori volatile food sangat rentan terhadap perubahan musim dan cuaca. Karena itu, BRIN telah mengembangkan berbagai varietas padi unggulan dengan produktivitas lebih dari 10 ton per hektare yang tahan terhadap banjir, kekeringan, maupun lahan berkadar garam tinggi.
“Ketersediaan varietas unggul yang tahan cuaca ekstrem diharapkan dapat menstabilkan pasokan komoditas pokok dan mencegah lonjakan harga,” kata Arif.
Sementara itu, dari sisi pengelolaan pasokan, Badan Pangan Nasional terus memperkuat intervensi di lapangan melalui sinergi dengan Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun Daerah.
Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, mengungkapkan hingga awal Juni 2026, Gerakan Pangan Murah telah dilaksanakan lebih dari 5.200 kali di 36 provinsi. Selain itu, sebanyak 2.890 Kios Pangan telah beroperasi untuk memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.
Dukungan juga datang dari dunia usaha. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan Kadin Indonesia, H. Mulyadi Jayabaya, menegaskan sektor swasta siap berperan aktif dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, Kadin mendorong penguatan rantai pasok domestik dan harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah yang selama ini dinilai masih menjadi hambatan investasi di sektor pangan.
“Kami datang membawa solusi, investasi, dan kesiapan untuk bergerak bersama,” ujarnya.
Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi, dan lembaga riset. Sinergi tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas harga pangan dan inflasi agar tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.
Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.









