Surga Punya “Alamat”? Ilmuwan Ini Punya Jawaban Mengejutkan
KLIK WARTAKU – Selama ribuan tahun, pertanyaan soal di mana surga berada selalu jadi bahan perdebatan panjang antara ilmuwan dan teolog. Tapi kali ini, sebuah klaim datang dari sosok yang tak sembarangan.
Adalah Michael Guillen, mantan pengajar di Harvard University, yang memegang gelar PhD di bidang fisika, matematika, dan astronomi. Dalam esai terbarunya, ia menyatakan telah mengidentifikasi “lokasi tepat” surga secara fisik di alam semesta.
Bukan cuma perkiraan samar. Ia bahkan menyebut jaraknya secara spesifik: sekitar 439 sekstiliun kilometer dari Bumi. Angka yang rasanya sulit dibayangkan, apalagi dicapai.
Berangkat dari Teori Edwin Hubble
Untuk sampai pada kesimpulan itu, Guillen mengacu pada teori ekspansi alam semesta yang pertama kali dipopulerkan oleh Edwin Hubble pada tahun 1929.
Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain. Fenomena ini dikenal sebagai Hukum Hubble (Hubble’s Law). Intinya sederhana: semakin jauh galaksi dari kita, semakin cepat ia menjauh.
Dari pola matematis tersebut, Guillen menarik kesimpulan ekstrem. Ia menyebut bahwa pada jarak tertentu — sekitar 439 sekstiliun kilometer sebuah galaksi akan bergerak menjauh dengan kecepatan cahaya, yaitu sekitar 186.000 mil per detik.
Di situlah, menurutnya, berada batas absolut alam semesta yang bisa kita jangkau.
Apa Itu Cosmic Horizon?
Titik itu disebutnya sebagai Cosmic Horizon atau Cakrawala Kosmik.
Menurut Guillen, cahaya dari wilayah di luar batas ini tidak akan pernah sampai ke Bumi. Bukan karena kurang terang, tapi karena ruang di antaranya mengembang lebih cepat dari cahaya itu sendiri.
“Manusia tidak akan pernah bisa mencapainya,” tulisnya.
Bahkan roket bertenaga nuklir paling canggih pun, kata dia, tak akan mampu melintasi batas tersebut.
Di Sana, Waktu Berhenti?
Menariknya, Guillen juga mengaitkan gagasannya dengan teori relativitas dari Albert Einstein.
Ia berpendapat bahwa di Cakrawala Kosmik, waktu secara efektif “berhenti”. Tidak ada masa lalu, masa kini, atau masa depan. Yang ada hanyalah keabadian.
Baginya, konsep ini selaras dengan gambaran religius tentang surga sebagai tempat abadi, tak terjangkau manusia dalam bentuk fisik, dan dihuni entitas non-material.
Bantahan dari Ilmuwan Arus Utama
Meski terdengar dramatis dan memikat, komunitas kosmologi arus utama tak sepakat.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa yang terjadi sebenarnya adalah efek pengamatan bernama redshift. Cahaya dari objek yang sangat jauh tampak melambat karena ruang yang mengembang membuat gelombangnya meregang.
Itu bukan berarti waktu benar-benar berhenti di sana.
Selain itu, Cakrawala Kosmik bukanlah “lokasi tetap”. Batas tersebut bergantung pada posisi pengamat. Jika ada peradaban di galaksi lain, mereka akan punya cakrawala kosmik versi mereka sendiri.
Artinya, klaim ini lebih dipandang sebagai spekulasi filosofis ketimbang penemuan ilmiah murni.
Jadi, Surga Benar Ada di Sana?
Terlepas dari kontroversinya, teori Guillen menghadirkan satu hal menarik: upaya menjembatani sains modern dan keyakinan spiritual.
Apakah benar surga punya “alamat kosmik”? Atau ini sekadar metafora yang dibungkus angka dan rumus?
Jawabannya mungkin kembali pada cara masing-masing orang memandang semesta — dengan teleskop, atau dengan iman.













