klikwartaku.com
Beranda Internasional Putin dan Utusan Trump Gelar Pembicaraan Kunci soal Perang Ukraina di Moskow

Putin dan Utusan Trump Gelar Pembicaraan Kunci soal Perang Ukraina di Moskow

Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Tangkapan layar YouTube FRANCE 24 English

KLIKWARTAKU — Pembicaraan penting terkait upaya mengakhiri perang Ukraina kembali memasuki babak baru setelah Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff di Moskow pada Selasa. Pertemuan ini berlangsung di tengah klaim optimisme dari Gedung Putih tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.

Pertemuan itu juga diperkirakan akan dihadiri oleh Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, yang selama ini memainkan peran dalam diplomasi informal Washington.

Pertemuan di Moskow berlangsung setelah dua hari negosiasi intensif di Florida antara pejabat Ukraina dan AS, termasuk Witkoff dan Kushner, untuk menyempurnakan rancangan rencana perdamaian yang sebelumnya dianggap terlalu menguntungkan Rusia.

Zelensky: Pembicaraan “Konstruktif” tapi Banyak Isu Sulit

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut pembahasan dengan AS “konstruktif”, namun mengakui bahwa masih ada sejumlah isu berat yang harus diselesaikan.

Dalam konferensi pers di Paris usai bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron, Zelensky menegaskan bahwa prioritas Kyiv tetap pada kedaulatan negara dan jaminan keamanan yang kuat.

Ia menyebut masalah wilayah sebagai isu paling sulit, terlebih karena Kremlin terus mendesak Ukraina menyerahkan sebagian wilayah timur yang masih berada di bawah kendali Kyiv—tuntutan yang telah berkali-kali ditolak Ukraina.

Klaim Rusia Kuasai Pokrovsk dan Vovchansk Dipertanyakan

Beberapa jam sebelum pembicaraan di Moskow, Rusia mengklaim telah merebut kota strategis Pokrovsk dan kota perbatasan Vovchansk. Namun pejabat Ukraina tidak mengonfirmasi klaim tersebut.

Laporan pemantau independen di garis depan menunjukkan bahwa kedua kota itu belum sepenuhnya dikuasai pasukan Rusia. Pejabat pusat kontra-disinformasi Ukraina, Andriy Kovalenko, menuding Rusia berusaha menekan Ukraina secara politis agar menerima usulan damai yang menguntungkan Moskow.

AS dan Eropa Perketat Konsultasi

Sebelum bertolak ke Moskow, Witkoff telah melakukan serangkaian pertemuan dengan PM Inggris Keir Starmer, Zelensky, serta kepala negosiasi baru Ukraina, Rustem Umerov. Sejumlah pemimpin Eropa juga mengikuti pertemuan Zelensky–Macron secara virtual.

Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyatakan rancangan kesepakatan damai “telah sangat disempurnakan” dan pemerintah AS merasa sangat optimistis. “Kami berharap perang ini akhirnya dapat berakhir,” ujarnya.

Putin: Rencana AS Bisa Jadi Dasar, Tapi Kremlin Ragu

Putin sebelumnya mengatakan bahwa ia telah melihat draf rencana damai yang diajukan AS dan menyebutnya dapat menjadi “dasar” kesepakatan masa depan. Namun pejabat Kremlin kemudian memberi sinyal keraguan setelah Ukraina dan sejumlah negara Eropa berhasil mengubah beberapa poin utama dalam proposal tersebut.

Draf awal yang beredar pada November sempat menimbulkan kegelisahan di Kyiv dan Eropa karena dinilai terlalu memihak Moskow. Dokumen tersebut juga mencakup aturan penggunaan aset Rusia yang dibekukan di Eropa serta syarat akses pasar Ukraina ke Uni Eropa.

Macron: Tidak Ada Rencana Final, Ukraina Harus Berperan

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa hingga kini tidak ada rencana perdamaian yang bersifat final. Menurutnya, proses hanya dapat berjalan dengan masukan penuh dari Ukraina dan negara-negara Eropa.

Pertanyaan mengenai kompromi wilayah, bekuan aset Rusia, jaminan keamanan, dan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa, kata Macron, harus dibahas bersama. Ia juga memuji upaya pemerintahan Trump untuk mendorong proses damai, meski muncul kekhawatiran bahwa Kyiv akan ditekan untuk menyerah dalam kondisi tidak menguntungkan.

EU: Jangan Tekan Ukraina untuk Menyerah

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memperingatkan bahwa minggu ini bisa menjadi momen “krusial”, namun menegaskan bahwa Rusia hanya ingin bernegosiasi dengan pihak yang memberi konsesi tambahan.

Ia memperingatkan, “Ada risiko tekanan besar akan diarahkan pada pihak yang lebih lemah—Ukraina—demi menghentikan perang dengan cepat. Namun itu bukan demi kepentingan siapa pun.” ***

Bagikan:

Iklan