klikwartaku.com
Beranda Internasional Trump Klaim AS Selundupkan 100 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz, Benarkah?

Trump Klaim AS Selundupkan 100 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz, Benarkah?

Donald Trump mengklaim AS diam-diam mengeluarkan 100 juta barel minyak dari Selat Hormuz. Namun, data pelayaran dan hitungan maritim memunculkan keraguan. Foto: Tangkapan layar YouTube MIRROR NOW

KLIKWARTAKU — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim militer AS diam-diam berhasil mengeluarkan 100 juta barel minyak melalui Selat Hormuz di tengah konflik dan pembatasan ketat Iran terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun, sejumlah analis pelayaran dan data lalu lintas maritim mempertanyakan klaim itu karena dinilai tidak sesuai dengan volume kapal yang tercatat melintasi selat selama perang berlangsung.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu, Trump mengatakan Amerika Serikat menjalankan operasi rahasia untuk membantu kapal tanker minyak dan kapal dagang melintasi Selat Hormuz tanpa diketahui Iran. “Kami mengambil jutaan barel minyak. Tidak ada yang mengetahuinya,” kata Trump.

Ia mengklaim militer AS menghancurkan 22 kapal Iran dalam operasi malam hari dan memanfaatkan lumpuhnya radar Iran setelah serangan terhadap infrastruktur strategis negara tersebut. Trump juga mengulang klaim itu melalui platform Truth Social. Menurut dia, lebih dari 200 kapal komersial berhasil melewati Selat Hormuz berkat operasi militer AS.

“Keberhasilan luar biasa ini terjadi karena Amerika Serikat mengontrol Selat Hormuz, bukan Iran,” tulis Trump. Klaim tersebut muncul di tengah ketegangan tinggi di kawasan Teluk Persia setelah Iran membatasi transit kapal di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026.

Sebelumnya, Teheran sempat menutup penuh jalur tersebut menyusul serangan AS dan Israel ke Iran. Belakangan, Iran hanya mengizinkan kapal dari sejumlah negara sahabat untuk melintas dengan persyaratan tertentu. Pada 13 April, lima hari setelah gencatan senjata sementara diumumkan, AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global biasanya melewati jalur sempit di antara Iran dan Oman itu. Sebelum konflik pecah, sekitar 140 kapal melintas setiap hari dengan total pengiriman mencapai sekitar 20 juta barel minyak per hari.

Jika mengacu pada klaim Trump soal 100 juta barel minyak, volume tersebut setara sekitar lima hari distribusi normal sebelum perang. Namun, secara matematis, angka itu dinilai sulit dibuktikan karena akan membutuhkan ratusan kapal tanker untuk melintas di tengah situasi perang dan pembatasan ketat Iran.

Data dari sejumlah perusahaan intelijen pelayaran juga menunjukkan jumlah kapal yang berhasil melewati Selat Hormuz selama konflik jauh di bawah tingkat normal. Perusahaan Windward mencatat sekitar 80 kapal komersial keluar dari Teluk dalam lima minggu terakhir. Lloyd’s List memperkirakan 142 kapal telah melintas sejak Maret, sedangkan Kpler mencatat sekitar 264 kapal.

Jumlah tersebut masih jauh dari volume lalu lintas yang dibutuhkan untuk mengangkut 100 juta barel minyak. Selain itu, sejumlah laporan menyebut banyak kapal yang berhasil melintas justru memperoleh izin langsung dari Iran dan membayar biaya transit kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Menteri Energi AS, Chris Wright, juga mengaku tidak mengetahui operasi besar-besaran pengeluaran jutaan barel minyak seperti yang diklaim Trump. Meski demikian, Wright membenarkan militer AS membantu sebagian kapal melintasi selat tersebut. Ia menegaskan kapal-kapal yang mendapat bantuan bukan milik Iran.

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor energi mereka. Di sisi lain, Iran kini memanfaatkan kontrol atas selat tersebut sebagai sumber tekanan ekonomi dan geopolitik pascaperang.

Teheran dilaporkan menerapkan biaya tambahan mirip asuransi bagi kapal yang ingin melintas. Kebijakan itu dikritik Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat karena dianggap menyerupai pungutan ilegal di jalur perairan internasional.

Namun Iran menolak tuduhan tersebut dan menegaskan Selat Hormuz bukan sepenuhnya perairan internasional, melainkan wilayah yang dimiliki bersama dengan Oman.

CEO NSI Insurance Group asal Florida, Oscar Seikaly, mengatakan kontrol Iran terhadap Selat Hormuz memberi pengaruh ekonomi besar terhadap perdagangan energi global. “Iran tampaknya mencoba mengubah pengaruh geografis menjadi pengaruh finansial,” kata Seikaly.

Menurut dia, kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau VLCC dapat menanggung biaya operasional hampir US$ 100 ribu per hari atau sekitar Rp1,63 miliar dengan kurs Rp16.300 per dolar AS.

Jika kapal tertahan selama 100 hari, kerugian operasional bisa mencapai US$ 10 juta atau sekitar Rp163 miliar, belum termasuk biaya asuransi, bahan bakar, awak kapal, dan penalti kontrak. Meski demikian, banyak operator kapal tetap enggan membayar biaya transit kepada Iran karena khawatir terhadap risiko sanksi internasional dan persoalan hukum.***

Bagikan:

Iklan