Sanksi AS Lumpuhkan RS Kuba, Dokter Terpaksa ‘Bermain Menjadi Tuhan’
KLIKWARTAKU — Di Rumah Sakit Anak William Soler, Havana, sebuah tradisi medis yang dahulunya menjadi kebanggaan nasional Kuba kini runtuh secara dramatis. Dahulu, lebih dari 90 persen bayi baru lahir yang membutuhkan operasi neonatal darurat berhasil diselamatkan. Kini, grafik kelangsungan hidup itu anjlok membentur dasar.
“Pada paruh pertama tahun ini, angka kematian bayi baru lahir yang membutuhkan operasi melonjak drastis. Lebih dari separuh kasus berakhir dengan duka,” ujar dr. Alioth Fernandez, Kepala Unit Bedah dan Anestesiologi RS Anak William Soler.
Keterpurukan di William Soler bukanlah insiden terisolasi, melainkan cermin dari hancurnya salah satu pilar utama Revolusi Kuba 1959: sistem layanan kesehatan gratis dan universal. Pemicunya mengakar dari Washington D.C.
Sejak Januari lalu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat sanksi dengan memberlakukan blokade bahan bakar total terhadap Kuba. Washington mengancam mematok tarif tinggi bagi negara atau armada kapal mana pun yang berani mengirimkan minyak ke pulau tersebut. Dampaknya instan dan mematikan. Hanya satu kapal tanker asing yang berhasil lolos merapat dalam beberapa bulan terakhir.
Ketiadaan bahan bakar menyalakan krisis domino: pemadaman listrik hingga 20 jam sehari, transportasi publik yang lumpuh, serta terhentinya rantai pasok obat-obatan esensial.
Dahulu, antrean operasi di rumah sakit Kuba berjalan sistematis berdasarkan kondisi medis dan tanggal kedatangan. Pasien jarang tertahan lebih dari sebulan. Kini, kelangkaan alat kesehatan, obat-obatan, hingga pasokan listrik mendadak mengubah ruang perawatan menjadi arena seleksi hidup dan mati.
“Sekarang kami terpaksa ‘bermain menjadi Tuhan’. Ketika kami hanya memiliki pasokan medis yang cukup untuk satu prosedur, kami harus memilih anak mana yang berhak dioperasi,” tutur Fernandez dengan suara berat. “Ini situasi yang sangat mustahil karena pada akhirnya, mereka semua hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa tentang politik.”
Kematian bayi-bayi tersebut, lanjut Fernandez, sering kali bukan disebabkan oleh komplikasi bedah yang rumit, melainkan oleh infeksi pascaoperasi yang terakumulasi dari menurunnya standar higienitas, krisis gizi, dan tiadanya antibiotik.
Laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat Kuba (MINSAP) menunjukkan potret suram: tingkat kelangsungan hidup anak penderita kanker merosot dari 85 persen menjadi 65 persen. Angka kematian bayi melonjak dari 4 kasus per 1.000 kelahiran hidup pada 2017 menjadi 9,9 pada 2025. Sementara itu, angka kematian ibu melahirkan merangkak naik menjadi 44,1 per 100.000 kelahiran.
Krisis ini turut memicu keprihatinan internasional. Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menyuarakan desakan agar embargo tersebut segera dicabut. “Anak-anak meninggal hanya karena dokter kekurangan akses terhadap alat medis dan obat esensial. Ini sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.
Di luar dinding rumah sakit, krisis merembet ke apotek-apotek warga. Dari 395 jenis obat yang biasa diproduksi di dalam negeri, sebanyak 300 jenis di antaranya kini habis total karena Kuba tak mampu mengimpor bahan baku akibat isolasi sistem perbankan internasional.
Pengiriman obat ke apotek negara yang biasanya rutin saban 10 hari, kini tertunda hingga berbulan-bulan. Di Kotamadya Cerro, Havana, stok obat terakhir kali masuk pertengahan Juni setelah kosong sejak Februari.
Kondisi ini memaksa warga beralih ke pasar gelap dengan harga mencekik. Untuk mendapatkan obat hipertensi seperti enalapril, warga harus merogoh kocek dalam-dalam—di tengah gaji rata-rata pegawai negeri Kuba yang hanya bernilai sekitar US$ 11 atau setara Rp 178.200 (dengan asumsi kurs Rp 16.200 per dolar AS) per bulan.
“Saya terpaksa membeli obat di jalanan dengan harga berapa pun,” ujar seorang petugas apotek di Cerro yang mengidap hipertensi. “Jika tidak ada, saya minum obat seadanya. Risiko tinggi, tapi apa boleh buat?”
Bagi para dokter komunitas seperti dr. Roxana Martinez di wilayah Cayo Hueso, Havana, kehabisan stok obat membuatnya harus memutar otak. Martinez, yang kini harus melayani lebih dari 3.000 pasien sendirian karena eksodus tenaga medis, terpaksa meresepkan racikan herbal.
“Jika pasien hipertensi datang dan kami tak punya satu tablet pun, saya sarankan mereka merebus serai atau minum jus asam jawa,” kata Martinez. “Dulu pengobatan alternatif adalah pilihan kedua, kini itu satu-satunya harapan yang tersisa.”
Gaji Martinez sendiri hanya berkisar US$ 20 atau sekitar Rp 324.000 per bulan. Namun, di tengah gelombang eksodus warga yang telah menyusutkan populasi Kuba hingga lebih dari 10 persen sejak 2020, ia memilih bertahan. “Beban kerjanya memang sangat berat, tapi saya bertahan karena pasien-pasien ini tidak punya siapa-siapa lagi,” tutur Martinez.***










